Kenapa Rupiah Bisa Naik atau Turun? Begini Cara Nilai Tukar Ditentukan

wartaekonomi.co.id
8 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak bergerak secara acak. Bank Indonesia (BI) menjelaskan pergerakan rupiah ditentukan oleh mekanisme permintaan dan penawaran valuta asing di pasar yang dipengaruhi berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari perdagangan internasional, pembayaran utang luar negeri, arus investasi asing, hingga sentimen pelaku pasar global.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Junanto Herdiawan mengatakan nilai tukar pada dasarnya merupakan harga suatu mata uang terhadap mata uang negara lain. Karena mengikuti mekanisme pasar, nilainya dapat berubah setiap saat sesuai dengan kebutuhan dan ketersediaan mata uang tersebut.

“Jadi gini sobat, nilai tukar itu sederhananya adalah harga dari sebuah mata uang dibandingkan mata uang negara lain. Misalnya, rupiah dibandingkan dengan dolar Amerika. Nah, nilai tukar ditentukan oleh kebutuhan dan ketersediaan antara dua mata uang,” ujar Junanto, dalam video edukasi yang diunggah di kanal YouTube resmi Bank Indonesia, Jakarta, Sabtu (27/6/2026).  

Ia menjelaskan, ketika permintaan dolar meningkat sementara pasokannya terbatas, nilai dolar akan menguat sehingga rupiah melemah. Sebaliknya, apabila pasokan dolar bertambah di dalam negeri, rupiah memiliki ruang untuk menguat atau setidaknya tetap stabil.

“Kalau makin banyak orang atau perusahaan membutuhkan dolar, sementara pasokannya terbatas, harga dolar akan naik. Sebaliknya begitu pula, sehingga ada mata uang yang menguat dan ada yang melemah,” katanya.

Empat Faktor Penggerak Nilai Tukar

Menurut BI, terdapat empat faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah.

Faktor pertama adalah perdagangan internasional. Saat Indonesia mengekspor barang dan jasa, pembayaran umumnya diterima dalam bentuk dolar AS sehingga devisa masuk ke dalam negeri dan membantu menjaga stabilitas rupiah. Sebaliknya, peningkatan impor membuat pelaku usaha membutuhkan lebih banyak dolar untuk melakukan pembayaran sehingga permintaan valuta asing meningkat.

“Ketika Indonesia menjual barang dan jasa ke luar negeri, akan ada dolar yang masuk ke Indonesia. Sebaliknya, saat Indonesia banyak melakukan impor, pelaku usaha lebih membutuhkan dolar untuk membayar barang dari luar negeri. Akibatnya, permintaan dolar bisa naik dan rupiah bisa turun nilainya,” ujar Junanto.

Faktor kedua berasal dari kewajiban pembayaran kepada pihak luar negeri, baik berupa utang, bunga pinjaman, maupun dividen kepada investor asing. Ketika pembayaran jatuh tempo, kebutuhan dolar meningkat sehingga dapat memengaruhi nilai tukar rupiah.

“Nah, Indonesia ini kan punya beberapa kewajiban pembayaran pada pihak luar negeri. Ketika pembayaran tersebut jatuh tempo, kebutuhan dolar atau mata uang asing bisa meningkat dan akan memengaruhi pergerakan rupiah,” katanya.

Selanjutnya, arus investasi asing juga menjadi penentu penting. Masuknya modal asing ke pasar saham, obligasi, maupun investasi langsung akan meningkatkan pasokan devisa sehingga mendukung penguatan rupiah. Sebaliknya, ketika dana asing keluar dari pasar domestik, tekanan terhadap rupiah cenderung meningkat.

“Ketika ada dana investor asing masuk ke Indonesia untuk beli saham, obligasi, atau surat berharga, saat itu akan terjadi penguatan rupiah. Begitu pula sebaliknya,” ujar Junanto.

Baca Juga: Sinergi Kebijakan Fiskal-Moneter Dorong Penguatan Rupiah dan Rebound IHSG

Baca Juga: Rupiah Terkapar, Nasabah Kaya Mulai Alihkan Aset ke Dolar AS

Selain faktor fundamental tersebut, pergerakan rupiah juga dipengaruhi sentimen pasar global. Dalam kondisi ketidakpastian ekonomi dunia, investor biasanya mengalihkan dana ke aset yang dianggap paling aman, salah satunya dolar Amerika Serikat.

“Kadang pergerakan rupiah itu bukan semata karena kondisi Indonesia saja, tetapi karena adanya faktor sentimen. Investor global biasanya mencari aset yang dianggap paling aman, dan dolar AS sering menjadi tujuan utama. Akibatnya hampir semua mata uang mengalami tekanan, termasuk rupiah,” katanya.

Fundamental Ekonomi Jadi Penopang

Junanto mengatakan stabilitas rupiah pada akhirnya sangat bergantung pada kekuatan fundamental ekonomi suatu negara. Karena itu, BI selalu mencermati sejumlah indikator utama, seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan cadangan devisa.

“Nah, yang dimaksud dengan fundamental ini adalah pentingnya kita melihat indikator-indikator ekonomi suatu negara. Antara lain pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, ataupun cadangan devisa,” ujarnya.

Ia menyebut kondisi fundamental Indonesia saat ini masih relatif kuat. Pertumbuhan ekonomi masih berada di kisaran 5 persen, inflasi tetap berada dalam sasaran BI sebesar 2,5±1 persen, sementara cadangan devisa mencapai sekitar enam bulan impor atau jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih kuat di kisaran 5 persen. Demikian pula dengan inflasi kita yang masih berada pada kisaran target 2,5 plus minus 1 persen. Sementara cadangan devisa Indonesia juga relatif aman karena berada di kisaran enam bulan impor,” katanya.

Instrumen BI Menjaga Stabilitas Rupiah

Dalam menjaga stabilitas nilai tukar, BI menggunakan berbagai instrumen kebijakan moneter, mulai dari penetapan BI-Rate, intervensi di pasar valuta asing spot maupun forward, transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pembelian dan penjualan Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Selain itu, BI juga menjalankan berbagai instrumen moneter yang mendukung masuknya investasi portofolio asing ke pasar keuangan domestik agar pasokan devisa tetap terjaga.

Menurut Junanto, tujuan utama kebijakan tersebut bukan mempertahankan rupiah pada level tertentu, melainkan mengendalikan volatilitas agar pergerakan nilai tukar tetap stabil dan mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia.

“Dengan demikian, tujuannya jelas, yaitu BI mengelola volatilitas agar rupiah tidak bergerak terlalu tajam atau bergejolak. Hal yang dijaga Bank Indonesia bukan rupiah harus berada pada level tertentu, tetapi bagaimana agar gerak rupiah ini stabil, terkendali, dan yang terpenting sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga: 'Tak Bisa dalam Sebulan,' Prabowo Butuh Kesempatan untuk Stabilkan Rupiah dan IHSG

Baca Juga: Suku Bunga BI Naik Telat, Apindo Sebut Pengusaha Terjepit Depresiasi Rupiah dan Pajak Tinggi

Junanto menambahkan, menjaga stabilitas rupiah juga membutuhkan dukungan sektor riil melalui peningkatan ekspor, pengurangan ketergantungan impor, penggunaan produk dalam negeri, pengelolaan utang luar negeri secara bijaksana, serta konsistensi kebijakan yang mampu menjaga kepercayaan investor.

“Pada akhirnya, nilai tukar rupiah bukan sekadar angka yang kita lihat di layar atau di berita. Di balik angka itu ada kebijakan, ada aktivitas ekonomi, dan ada pilihan-pilihan kita setiap hari. Karena menjaga rupiah tetap stabil adalah kerja kita bersama,” pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Diadukan Sarwendah ke KPAI, Ruben Onsu Singgung Hukum Sebab Akibat hingga Bongkar Alasan Stop Nafkah
• 14 jam lalugrid.id
thumb
Aldi Taher Resmi Luncurkan Aldi’s Coffee di Blok M Hub, Hadirkan Promo Buy 1 Get 1
• 7 jam lalugrid.id
thumb
Harga Emas Antam Logam Mulia Hari Ini (27/6), 1 Gram Rp2,66 Juta
• 16 jam lalubisnis.com
thumb
Kecelakaan Pesawat di Beijing: Pilot Meninggal dan 13 Orang Terluka
• 4 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Jokowi Nyatakan PSI Bakal Jadi Partai Besar dan Lolos ke Senayan di Pemilu 2029 | SAPA MALAM
• 1 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.