JAKARTA, KOMPAS.TV - Kementerian Pertahanan (Kemhan) memastikan materi latihan peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) calon pengelola atau manajer Koperasi Desa (Kopdes) dan Kampung Nelayan sudah disesuaikan.
Hal ini disampaikan usai 5 peserta SPPI dilaporkan meninggal dunia saat menjalani latihan dasar bela negara dan manajerial.
"Penyelenggaraan latihan bela negara dan manajerial ini disusun secara terukur dengan memperhatikan latar belakang peserta sebagai masyarakat sipil," ujar Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemhan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, dalam konferensi persnya Sabtu (27/6/2026), dipantau dari YouTube KompasTV.
Menurut Ketut, kegiatan pelatihan untuk calon pengelola Kopdes dan Kampung Nelayan tidak disamakan dengan pendidikan militer atau prajurit.
Penekanan latihan untuk calon pengelola Kopdes-Kampung Nelayan bukan pada kemampuan tempur, melainkan pada pembentukan mental, karakter, tanggung jawab, daya juang, kerja sama, serta kemampuan memecahkan masalah.
Baca Juga: Usai 5 Peserta Meninggal, Kemhan Sebut Penyelenggara Latsarmil Kopdes Merah Putih Lakukan Evaluasi
Lebih lanjut, ia menyebut, penyelenggara latihan telah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap berbagai hal.
Termasuk aspek kesehatan, pengawasan medis, profiling kesehatan, penyesuaian intensitas kegiatan, sistem rujukan, serta mekanisme deteksi dini bagi peserta yang memiliki faktor risiko.
Mayjen Ketut Gede mengatakan, kegiatan pelatihan juga diarahkan agar lebih adaptif, edukatif, dan memperhatikan kondisi psikologis peserta.
Kemudian, bagi peserta yang memiliki kondisi khusus, termasuk kehamilan atau kondisi medis tertentu, penyelenggara akan mengambil langkah sesuai rekomendasi tenaga kesehatan dengan mengutamakan kesehatan peserta.
Penulis : Tri Angga Kriswaningsih Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- sppi
- kemhan
- kopdes
- kampung nelayan
- pengelola kopdes meninggal





