Membangun dan Mewujudkan Khoira Ummah

republika.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rahmat Hidayat, Dosen FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Sekjen DMI

Konsep Khoira Ummah atau umat terbaik bukanlah sekadar jargon keagamaan yang indah di atas kertas. Ia adalah visi besar yang mengandung makna mendalam tentang bagaimana seharusnya umat Islam memosisikan diri di tengah peradaban manusia. Firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 110 menyatakan dengan tegas: "Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." Ayat ini bukanlah pujian kosong, melainkan seruan tanggung jawab dan amanah besar yang harus diwujudkan dalam realitas kehidupan nyata.

Baca Juga
  • Rasulullah Berpesan agar Umat Islam Memperlakukan Wanita dengan Baik
  • Rasulullah SAW Anjurkan Mandi Jumat, Ini Keutamaan yang Dijelaskan Hadits
  • Laknat bagi Pelaku Perbuatan Kaum Nabi Luth dalam Hadis Rasulullah SAW

Untuk membangun dan mewujudkan Khoira Ummah, diperlukan pemahaman yang komprehensif tentang apa yang membuat sebuah umat menjadi terbaik. Keunggulan sebuah umat tidak diukur dari kemakmuran ekonomi semata, atau kekuatan militer, atau bahkan jumlah pengikut yang banyak. Lebih dari itu, keunggulan umat terletak pada kapasitasnya untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil 'alamin), kemampuannya untuk menegakkan keadilan, dan kontribusinya bagi kemajuan peradaban manusia secara universal.

Pilar Khoira Ummah

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Untuk mewujudkan khoira umat tidak mudah, perlu beberapa syarat (pilar) yag harus dilakukan dan dipenuhi, yaitu:

Pertama, penguatan fondasi keimanan dan ketakwaan. Iman yang kokoh menjadi motor penggerak setiap amal saleh. Tanpa keimanan yang kuat, seluruh aktivitas keumatan akan kehilangan ruh dan arah. Namun, keimanan di sini bukanlah keimanan yang pasif dan ritualistik, melainkan keimanan yang transformatif—yang mendorong pemeluknya untuk terus belajar, berinovasi, dan memberikan manfaat. Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain." Hadis ini menegaskan bahwa kualitas keimanan seseorang diukur dari dampak sosialnya, bukan dari seremoni keagamaannya.

Kedua, ilmu pengetahuan dan peradaban. Sejarah mencatat bahwa ketika umat Islam sebagai pelopor dalam berbagai bidang ilmu—dari astronomi, kedokteran, matematika, filsafat, hingga arsitektur, mereka mencapai puncak kejayaan (Q.S. Al-Majadalah: 11). Mereka tidak takut mengambil ilmu dari mana pun datangnya, karena ilmu dan kebenaran berasal dari Tuhan dan dapat ditemukan di mana saja. Untuk mewujudkan Khoira Ummah di era kontemporer, umat Islam harus kembali menguasai sains dan teknologi, tidak sekadar menjadi konsumen tetapi produsen peradaban. Pendidikan berkualitas yang memadukan nilai-nilai Islami dengan pengetahuan modern menjadi kunci utama.

Ketiga, implementasi amar makruf nahi mungkar dalam kerangka sosial yang lebih luas. Amar makruf berarti mengajak kepada kebaikan, yang mencakup upaya-upaya konstruktif untuk membangun masyarakat yang adil, sejahtera, dan beradab. Ini berarti memperjuangkan keadilan ekonomi, memberantas kemiskinan, menghapus diskriminasi dan membangun sistem sosial yang berpihak pada kaum lemah. Sementara nahi mungkar berarti mencegah kemungkaran, seperti mencegah korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), serta penyalahgunaan wewenang dan jabatan. Amar makruf dan nahi munkar harus dilakukan melalui edukasi, keteladanan, bijaksana, serta penuh hikmah dan kasih sayang sesuai dengan ajaran Islam yang rahmatan lil 'alamin.

Keempat, kepemimpinan dan tata kelola yang baik. Khoira Ummah membutuhkan kepemimpinan yang amanah, kompeten, dan visioner. Pemimpin dalam Islam bukanlah jabatan untuk mencari kekuasaan atau kekayaan, melainkan amanah untuk melayani dan menyejahterakan rakyat.

Sistem pemerintahan harus dibangun di atas prinsip-prinsip musyawarah, keadilan, transparansi dan akuntabilitas. Korupsi, nepotisme, dan penyalahgunaan kekuasaan adalah musuh utama dalam upaya membangun umat terbaik. Sejarah kepemimpinan Rasulullah dan para sahabat memberikan teladan sempurna tentang bagaimana seorang pemimpin mengayomi, melindungi hak-hak minoritas, dan memastikan keadilan bagi semua warga negara. 

Kelima, persatuan dan kebersamaan. Salah satu tantangan terbesar umat Islam saat ini adalah perpecahan—baik dalam ranah politik, mazhab, maupun etnis. Khoira Ummah tidak mungkin terwujud dalam kondisi terpecah-belah. Allah mengingatkan, "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai" (Q.S. Ali Imran: 103).

Persatuan bukan berarti menyamakan pendapat dalam semua hal, tetapi memiliki komitmen bersama untuk tujuan-tujuan luhur, saling menghormati perbedaan pendapat, dan bersinergi dalam kebaikan. Umat yang bersatu akan memiliki kekuatan yang dahsyat untuk menghadapi berbagai tantangan zaman.

Keenam, keadilan sosial dan ekonomi. Khoira Ummah adalah umat yang memastikan tidak ada anggota dan rakyatnya yang kelaparan, tertindas, serta terpinggirkan. Ajaran Islam menekankan keadilan distribusi, larangan riba dan eksploitasi, serta kewajiban zakat dan sedekah.

Dalam konteks modern, ini berarti membangun ekonomi yang inklusif, memerangi kemiskinan struktural, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi kesenjangan sosial. Kesejahteraan harus menjadi hak semua, bukan hanya segelintir elit.

Ketujuh, akhlak mulia dan keteladanan. Sehebat apa pun ilmu dan kekuasaan, tanpa akhlak yang mulia dan keteladanann semuanya akan menjadi sia-sia. Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia dan sekaligus menjadi teladan terbaik (uswatun hasanah).

Khoira Ummah harus menjadi teladan dalam kejujuran, kesabaran, pemaaf, rendah hati, dan kasih sayang. Akhlak mulia dan keteladanan ini harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari—dalam cara bertutur kata, bertransaksi, berinteraksi sosial, memimpin dan dalam menghadapi konflik. Umat yang berakhlak mulia dan memberikan teladan yang baik akan menjadi magnet yang menarik orang lain kepada kebaikan, jauh lebih efektif daripada dakwah dengan kata-kata saja.

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
@font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menteri Mukhtarudin Bergerak Cepat Fasilitasi Pemulangan Warga Kalteng yang Tertahan di Kamboja
• 10 jam lalujpnn.com
thumb
Kisah Komunitas Kalijawi di Yogya: Tabungan Rp 2 Ribu Bisa Renovasi 165 Rumah
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
PELNI Catat Pertumbuhan Operasional pada 2025, Penumpang Naik Jadi 5,15 Juta
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
PSMTI Sulsel Apresiasi Cathlyn Yvaine Lesmana dan Seluruh Calon Paskibraka Terpilih 2026
• 12 jam laluterkini.id
thumb
Langkah Praktis Tutup Akun Kredivo Setelah Semua Tagihan Lunas
• 12 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.