Bisnis.com, JAKARTA – Emiten consumer PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) dijadwalkan melakukan pembayaran dividen pada akhir Juni 2026.
Berdasarkan jadwal, agenda pembagian dividen Unilever Indonesia akan memasuki periode pembayaran pada Selasa (30/6/2026).
Sebagaimana diketahui, UNVR akan membagikan dividen final tahun buku 2025 sebesar Rp114 per saham. Pembagian dividen tersebut telah memperoleh persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada 4 Juni 2026.
Dividen final senilai Rp114 per saham tersebut setara dengan total sekitar Rp4,33 triliun. Sebelumnya, perseroan telah membayarkan dividen interim sebesar Rp87 per saham atau sekitar Rp3,3 triliun pada Desember 2025.
Dengan demikian, total dividen tahun buku 2025 yang dibagikan kepada pemegang saham mencapai Rp201 per saham atau sekitar Rp7,63 triliun.
Diberitakan Bisnis sebelumnya, Manajemen Unilever, mengakui tekanan yang terjadi terhadap nilai tukar rupiah, turut membayangi prospek kinerja perseroan pada tahun ini. Risiko kenaikan biaya dinilai tidak dapat dihindari di tengah kondisi ini.
Baca Juga
- Unilever (UNVR) Guyur Dividen Final Rp4,32 Triliun Akhir Juni 2026
- Saat Saham Primadona Lama UNVR, HMSP, GGRM, Hingga TLKM Kehilangan Pamor
- Target Harga Saham Unilever (UNVR) dari Mirae Turun Pasca Divestasi Bisnis Es Krim dan Teh
Direktur Keuangan Unilever Indonesia Neeraj Lal, menerangkan terdapat risiko kenaikan biaya pada tahun ini. Hal itu dinilai disebabkan oleh perang Iran-AS yang memanaskan harga energi hingga pelemahan nilai tukar rupiah.
”Tentu saja, faktor lainnya adalah nilai tukar mata uang asing. Jadi, faktor-faktor tersebut menciptakan tekanan inflasi terhadap bisnis kami,” katanya dalam paparan publik Unilever, Kamis (4/6/2026).
Menghadapi tekanan rupiah, Neeraj menerangkan pihaknya telah mengambil respons yang terukur. Beberapa langkah yang diambil Unilever antara lain melakukan penyesuaian harga, disiplin biaya, hingga optimalisasi investasi.
Selain itu, Unilever juga disebut mengadopsi strategi hedging untuk mengurangi sebagian dampak dari pelemahan rupiah. Strategi-strategi itu dinilai dapat memberikan respons yang kompetitif dalam menghadapi dan mengelola risiko inflasi.
”Terkait mata uang, memang hal itu menciptakan tekanan karena kami memiliki eksposur terhadap nilai tukar pada bahan baku yang kami beli. Namun, kami juga memiliki kegiatan ekspor yang membantu mengimbangi sebagian dampak tersebut,” tambahnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





