Peta Buta Lapangan Kerja bagi Generasi Muda

kompas.com
15 jam lalu
Cover Berita

SIAPA yang dadanya tidak ikut sesak melihat anak-anak muda mengantre mencari kerja, ditemani orang tua mereka yang datang sekadar memberi dukungan moral?

Para orang tua membesarkan dan menguliahkan anaknya dengan biaya yang tidak murah. Namun, kini anak yang mereka harapkan sukses pascatuntas perkuliahannya justru kesulitan mencari sesuap nasi, jauh dari bayangan saat dulu mengantar mereka masuk ke kampus.

Begitulah keadaannya saat ini, berat dan sulit. Bahkan, setelah mendapatkan pekerjaan pun, dengan gaji yang tidak seberapa, masih juga harus terpotong ini dan itu.

Adilkah ini buat mereka para generasi muda yang katanya sebagai masa depan bangsa dan tulang punggung Indonesia emas?

Pemandangan seperti itu nyata dan terjadi di banyak kota. Di job fair Kota Tangerang akhir Juni 2026 lalu, di antara ribuan pelamar muda, berdiri pula sejumlah orang tua.

Salah satunya seorang ibu yang menemani anaknya yang baru lulus, sebab ia ingin kelak, manakala anaknya dapat kerja, anaknya ingat ada jejak perjuangan ibunya juga di sana.

Ada pula sarjana dari kampus ternama yang datang ditemani ibunya, semata agar mental sang anak kuat menghadapi antrean panjang yang mengharuskannya berlama-lama menunggu.

Dulu, melamar kerja adalah penanda seorang anak mulai berdiri sendiri. Kini momen itu pelan-pelan berubah rupa, sebab anak butuh ditemani dan orang tua ikut berdebar mengawal di belakangnya.

Mereka melamar ke gerai ritel, ke jaringan kuliner, ke mana saja yang masih membuka pintu. Ijazah yang dulu dibanggakan, tapi kini hanya tersimpan rapat di dalam map. Ada keheningan tertentu di antrean itu, keheningan orang yang berharap sambil menahan malu.

Lalu, datang angka-angka yang seolah menghibur. Badan Pusat Statistik mencatat tingkat pengangguran terbuka per Februari 2026 turun ke 4,68 persen, dan terdengar melegakan sampai kita lihat siapa saja yang ada di dalamnya.

Baca juga: Janji 19 Juta Lapangan Kerja: Oper Sana, Oper Sini

Dari sekitar 7,24 juta orang yang menganggur, justru lulusan perguruan tinggi yang angkanya berada di atas rata-rata nasional.

Ijazah, yang dulu dianggap tiket, ternyata tak lagi menjamin kursi. Bagi yang sudah bekerja pun, rata-rata upah buruh menurut lembaga yang sama masih berkisar tiga jutaan rupiah sebulan, sebelum dipotong ini dan itu.

Seorang sosiolog bernama Ronald Dore sudah menamai gejala ini sejak puluhan tahun lalu, dan ia menyebutnya sebagai penyakit ijazah.

Diagnosisnya sederhana dan terasa akrab bagi kita, sebagaimana sering kita saksikan sendiri. Makin terlambat negara berbenah, makin sibuk rakyatnya berburu selembar gelar, dan makin tipis pula harga gelar itu.

Kita rupanya murid yang patuh, sebab sawah lalu rumah dijual dan tabungan dikuras demi ijazah yang nilainya menyusut tiap musim wisuda.

Yang menyakitkan, di banyak tempat harga sosial gelar malah lebih tinggi daripada isinya. Orang mengejar status sarjananya, bukan ilmunya, sementara bangku kuliah mengajarkan hal yang teoretis dan dunia kerja meminta keterampilan yang lain. Maka lulusan menumpuk, lowongan yang cocok sedikit, dan antrean pun mengular.

Anak muda tetap disuruh kuliah dan tetap disuruh melamar, sebab di luar itu pilihannya nyaris tidak ada. Tidak kuliah dianggap menutup pintu, sementara kuliah pun belum tentu membukanya. Terjebak, tapi tetap harus melangkah.

Sebagian anak muda bahkan mulai menghitung ulang. Ada yang mengurungkan niat melanjutkan kuliah, sebab biayanya berat sementara hasilnya tak lagi pasti. Pilihan yang dulu dianggap sudah jelas, kini terasa seperti semacam taruhan.

Di sinilah pertanyaan adilkah di atas mulai menemukan jawabannya. Victor Tan Chen, sosiolog yang lama menyimak hidup para penganggur, menyebut keadaan macam ini sebagai meritokrasi yang pincang.

Kita terus diberi tahu bahwa siapa yang rajin pasti naik dan siapa yang gigih pasti dapat, padahal kenyataannya tak sebersih itu.

Mereka yang sudah di atas saling menjaga posisi dan mewariskan koneksi kepada anak-anaknya. Sementara yang di bawah disuruh, bahkan seolah dipaksa untuk percaya bahwa nasibnya murni buah tangannya sendiri.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Aturan mainnya tampak adil di permukaan, padahal papan caturnya sudah miring sejak awal.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
ASDP percepat penanganan kepadatan di lintasan Ketapang-Gilimanuk
• 3 jam laluantaranews.com
thumb
Momen Puncak HUT DKI Jakarta, Ini Harapan Pasangan Pramono-Rano Karno untuk Warga
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
3 HP Murah di Kelas Rp1 Jutaan dengan RAM Gacor yang Cocok Dipakai Hingga Beberapa Tahun ke Depan
• 20 jam laluviva.co.id
thumb
Prabowo Tegaskan Pemerintah Terbuka terhadap Aspirasi Masyarakat, Termasuk Melalui Media Sosial
• 4 jam lalupantau.com
thumb
Gelar Pekan Olahraga, Kapolri: Terus Bersama Masyarakat Jelang Hari Bhayangkara
• 12 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.