Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah saham terpantau tertidur di lantai bursa, lantaran tak dilirik lagi oleh investor.
Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan investor sangat menyukai perusahaan tercatatbdengan laba yang ditopang oleh pendapatan utamanya.
Dia memaparkan bahwa pasar sangat jeli melihat dari mana laba emiten berasal. Menurutnya, jika laba bersih perusahaan meningkat atau bertahan hanya karena efisiensi biaya, pos pendapatan non-operasional, atau pembalikan cadangan kerugian, pasar biasanya tidak akan mengapresiasinya.
“Pasar menyukai laba yang ditopang oleh pertumbuhan pendapatan utama,” ucap Nafan, Jumat (26/6/2026).
Sering kali, kata Nafan, emiten yang labanya bagus tapi harganya stagnan atau jeblok memiliki masalah pada Good Corporate Governance (GCG).
Misalnya, kata dia, pengendali saham utama yang kurang bersahabat dengan investor minoritas, transaksi afiliasi yang mencurigakan, atau kebijakan pembagian dividen yang tidak transparan. Menurut Nafan ,investor institusi biasanya akan langsung menghindari saham seperti ini.
Nafan juga menyebut meskipun perusahaan mencetak laba, jika saham yang beredar di publik (free float) terlalu sedikit atau tidak ada market maker yang aktif, saham tersebut menjadi tidak likuid.
Investor besar seperti fund manager menurutnya enggan masuk karena akan kesulitan untuk keluar nantinya. Akibatnya, valuasi terpangkas karena adanya diskon likuiditas.
Dia juga mengatakan perusahaan mungkin masih untung hari ini, tetapi jika mereka berada di industri yang secara struktural mulai ditinggalkan, pasar akan menghargai saham tersebut dengan P/E ratio yang semakin rendah dari tahun ke tahun.
“Di pasar modal, ada pameo yang mengatakan bahwa investor membeli masa depan, bukan masa lalu. Growth story adalah bensin yang menggerakkan ekspektasi pasar,” ujarnya.
Dia melanjutkan ketika sebuah perusahaan kehilangan narasi pertumbuhannya seperti menjadi mature atau stagnan, maka saham tersebut akan mengalami fenomena yang disebut de-rating Valuasi.
Nafan juga menuturkan untuk membangunkan saham-saham yang tertidur atau terjebak dalam value trap ini, diperlukan stimulus kuat yang mampu mengubah persepsi pasar secara radikal. Beberapa katalis utamanya meliputi corporate action yang signifikan, perubahan kebijakan capital allocation, pivot bisnis dan diversifikasi baru, dan perubahan regulasi atau makroekonomi.
Sementara itu, Direktur Purwanto Asset Management Edwin Sebayang menjelaskan harga saham tidak mencerminkan kondisi perusahaan saat ini, melainkan ekspektasi terhadap masa depan perusahaan.
Semakin kecil potensi pertumbuhan yang diperkirakan, semakin rendah pula nilai intrinsik perusahaan sehingga harga saham dapat tertekan meskipun laba bersih tidak mengalami penurunan.
Menurut Edwin, hilangnya growth story menjadi salah satu penyebab utama sebuah saham berubah menjadi "saham zombie".
“Pasar umumnya bersedia memberikan valuasi premium kepada perusahaan yang memiliki narasi pertumbuhan, seperti ekspansi pabrik, peluncuran produk baru, digitalisasi, peningkatan pangsa pasar, hilirisasi, hingga ekspansi ke luar negeri,” ujar Edwin.
Jika hal-hal tersebut tidak ada, maka volume transaksi akan turun, investor institusi mengurangi posisi, investor asing mulai keluar, dan valuasi PE dan PBV turun padahal laba perusahaan masih bagus.
"Yang berubah bukan labanya, tetapi persepsi pasar terhadap masa depan perusahaan. Fenomena seperti ini sangat sering terjadi," kata dia.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





