Bagaimana Mempromosikan Jamu Menjadi Pariwisata Baru?

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita
Apa yang dapat Anda pelajari dari artikel ini?
  1. Apa latar belakang pemerintah menjadikan jamu sebagai mesin baru pariwisata?
  2. Inovasi apa saja yang sudah dilakukan sehingga jamu bisa menarik wisatawan lokal maupun mancanegara?
  3. Apa potensi jamu sehingga layak menjadi aset strategis nasional?
  4. Bagaimana upaya yang harus dilakukan untuk mengangkat gengsi jamu di masa depan?
Apa latar belakang pemerintah menjadikan jamu sebagai mesin baru pariwisata?

Secara global, nilai ekonomi wisata kebugaran atau wellness tourism diperkirakan mencapai lebih dari 1 triliun dolar AS pada 2026 dan terus tumbuh dalam satu dekade ke depan. Sementara itu, sektor wisata medis atau medical tourism juga menunjukkan pertumbuhan yang agresif seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat dunia terhadap layanan kesehatan berkualitas dengan biaya yang kompetitif.

Dengan menggandeng Kementerian Pariwisata, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sedang berupaya menyiapkan jamu sebagai mesin baru pariwisata Indonesia. Langkah strategis akan diperkuat dalam mendukung transformasi sektor pariwisata nasional melalui pengembangan ekosistem wellness tourism dan medical tourism yang aman, berkualitas, serta berdaya saing global.

Keinginan untuk menjadikan jamu sebagai tujuan pariwisata baru ini tidak lepas dari potensi dan nilai ekonomi jamu yang sangat besar yang hingga kini belum tergarap dengan baik. Dalam konteks wisata kebugaran ataupun wisata medis, Indonesia memiliki modal besar berupa kekayaan biodiversitas, tradisi jamu, produk herbal, kosmetik berbahan alam, hingga potensi layanan kesehatan yang terus berkembang.

Apalagi, saat ini tren pariwisata dunia telah mengalami pergeseran signifikan. Wisatawan kini tidak lagi hanya mencari destinasi yang indah, tetapi juga pengalaman yang memberikan manfaat bagi kesehatan, kebugaran, dan kualitas hidup. Di sisi lain, pariwisata yang maju tidak dapat dilepaskan dari jaminan keamanan dan kualitas produk yang dikonsumsi ataupun digunakan wisatawan, mulai dari pangan lokal, produk spa, kosmetik herbal, hingga layanan kesehatan.

Baca JugaJamu Menjadi Mesin Baru Pariwisata
Apa saja inovasi yang sudah dilakukan sehingga jamu bisa menarik wisatawan lokal maupun mancanegara?

Disajikan dalam inovasi yang lebih modern, jamu kian mampu menembus sekat budaya. Inovasi penyajian hingga pengemasan acara edukasi jamu seperti dalam bentuk festival bisa menjadi kampanye regenerasi warisan budaya yang relevan sesuai zaman.

Upaya untuk mendekatkan jamu ke generasi muda salah satunya dilakukan dengan menggelar ”Acaraki Jamu Festival” di Hutan Kota Gelora Bung Karno, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dalam festival ini digelar berbagai macam acara, mulai dari atraksi menarik, perlombaan, panggung hiburan musik, hingga kampanye mengenal jamu berdasarkan bahan yang digunakannya. Beberapa inovasi penyajian jamu yang disesuaikan dengan perkembangan zaman ikut dihadirkan untuk menarik minat generasi muda. Inovasi yang ditampilkan antara lain penyajian jamu ala minuman di kafe, selai jamu, hingga jamu yang disajikan ala minuman bersoda dengan bahan alami.

Inovasi semacam ini berperan penting sebab hingga kini masih ada stigma bahwa jamu itu pahit, tidak enak, hingga dianggap kuno. Namun, inovasi itu diharapkan dapat mengubah pandangan tersebut. Tentu tujuan utamanya adalah menghadirkan jamu secara kalcer, sesuai tren gaya hidup kalangan gen Z saat ini.

Di beberapa daerah di Indonesia juga sudah bermunculan desa wisata jamu, seperti Desa Wisata Kiringan di Bantul dan Desa Wisata Wonolopo di Semarang, hingga pengembangan kawasan wisata herbal di Sumba Timur yang memadukan pelestarian tanaman obat dengan aktivitas wisata berbasis masyarakat.

Sejumlah desa wisata juga terintegrasi dengan program Desa Pangan Aman untuk memastikan produk kuliner yang disajikan ke wisatawan memenuhi standar keamanan pangan.

Baca JugaJamu yang Kian Menembus Sekat ”Kalcer”
Apa potensi jamu sehingga layak menjadi aset strategis nasional?

Indonesia merupakan salah satu mega biodiversivitas terbesar di dunia yang memiliki 75 persen dari spesies tanaman dunia (30.000 dari 40.000 yang tercatat di dunia) dan sekitar 9.600 di antaranya memiliki khasiat obat. Memiliki kekayaan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia setelah Brasil, industri besar obat tradisional dan farmasi di Indonesia baru memanfaatkan sekitar 500 spesies tanaman obat.

Meskipun biodiversitasnya luar biasa, utilisasinya masih sangat rendah. Padahal, obat bahan alam, herbal, jamu, atau fitofarmaka bisa berperan dalam mengurangi ketergantungan impor obat yang nilainya masih tinggi, termasuk juga meningkatkan kemandirian farmasi nasional, terutama untuk penyakit kronis dan promotif preventif.

Jika dikelola serius, obat bahan alam seperti fitofarmaka hingga jamu bisa menjadi aset strategis nasional yang bisa menekan biaya kesehatan. Hal ini terutama pada penyakit degeneratif, autoimun, dan penyakit akibat gaya hidup. Dari sisi ekonomi lokal, pemanfaatan obat bahan alam juga membuka rantai pasok dari petani, pelaku UMKM, hingga industri farmasi.

Saat ini, Indonesia memiliki lebih dari 18.000 jamu yang sudah terdaftar. Apabila jamu tersebut telah melalui uji praklinis, statusnya bisa naik menjadi obat herbal terstandar. Sementara obat fitofarmaka adalah obat bahan alam yang telah melalui uji praklinis ataupun uji klinis. Sejak Indonesia merdeka hingga kini, fitofarmaka yang terdaftar di BPOM baru sebanyak 20 produk.

Baca JugaObat Bahan Alam Berpotensi Jadi Aset Strategis Nasional
Bagaimana upaya yang harus dilakukan untuk mengangkat gengsi jamu?

Budaya Sehat Jamu telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO pada 6 Desember 2023. Budaya pemanfaatan tanaman herbal di Indonesia sejatinya sudah berlangsung turun-temurun, tetapi diperlukan saintifikasi jamu agar dapat diterima dalam pelayanan kesehatan modern. Tantangan yang dihadapi, antara lain, berupa masih banyak produk yang belum terstandardisasi dan biaya riset yang besar.

Ke depan, pengembangan jamu sebagai obat pendamping yang nantinya bisa diresepkan dokter bukan sesuatu yang tak mungkin. Jamu sangat berpotensi karena memiliki khasiat yang unik dan berbeda dengan obat modern. Pengembangan jamu sebagai obat pendamping yang bisa digunakan di rumah sakit dapat membantu reaktivasi ekonomi dan mengembangkan industri farmasi dalam negeri.

Hingga kini, Indonesia memiliki ketergantungan yang cukup besar terhadap obat dan produk alat kesehatan impor. Menurut data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), pada 2020, sekitar 70 persen dari total kebutuhan obat di Indonesia masih dipenuhi oleh impor. Sementara itu, produksi obat dalam negeri masih terbatas, yaitu sekitar 30 persen dari total kebutuhan obat, dengan bahan baku sebagian besar impor.

Hilirisasi kemandirian obat nasional bukan hal yang mustahil karena seluruh sumber daya ada di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, pada tahun 2020, sekitar 20 persen dari total penduduk Indonesia menggunakan jamu sebagai obat alternatif. Di lain pihak, pemanfaatan jamu dan obat bahan alam juga dapat membantu mengurangi biaya kesehatan dan meningkatkan aksesibilitas obat bagi masyarakat.

Baca JugaMengangkat Gengsi Jamu sebagai Obat Pendamping Kedokteran

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sejahterakan Masyarakat Pesisir, Trenggono Ingin Penelitian di Sektor Kelautan dan Perikanan Lebih Gencar
• 18 jam laludisway.id
thumb
Tarik Ulur Nasib Yuran Fernandes dan Gledson Paixiao: Gerbong PSM Makassar yang Belum Resmi Diperkenalkan Persebaya Surabaya
• 22 jam laluharianfajar
thumb
Lautan Manusia di Bundaran HI, Warga Bodetabek Tumplek Blek Rayakan Puncak HUT ke-499 Jakarta
• 20 jam laludisway.id
thumb
Pemerintah Percepat Perpanjangan KRL Cikarang-Cikampek
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Iran Sasar Pasukan AS di Kuwait dan Bahrain, Selat Hormuz Makin Panas
• 6 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.