JAKARTA, KOMPAS.com – Jakarta terus berbenah dengan menghadirkan sistem transportasi publik yang semakin modern memasuki usia ke-499 tahun.
MRT Jakarta, LRT Jakarta, KRL Commuter Line, hingga Transjakarta kini saling terintegrasi dan menjadi andalan jutaan warga untuk beraktivitas setiap hari.
Perjalanan di ibu kota pun menjadi lebih cepat, nyaman, dan efisien. Namun, kemudahan itu belum dirasakan secara merata.
Baca juga: Transportasi Publik Jakarta Tak Sekadar Mobilitas, tapi Penopang Hidup Warga
Bagi sebagian lansia dan penyandang disabilitas, menggunakan transportasi publik masih membutuhkan perjuangan ekstra.
Tantangannya bukan hanya saat berada di dalam kereta atau bus, tetapi juga sejak berjalan menuju halte dan stasiun, berpindah moda, hingga menghadapi padatnya penumpang pada jam sibuk.
Nurdin (67), pensiunan pegawai negeri yang rutin menggunakan MRT Jakarta untuk kontrol kesehatan dan mengunjungi keluarganya, mengaku fasilitas MRT menjadi salah satu yang paling nyaman bagi lansia.
"Kalau naik MRT saya akui nyaman sekali. Bersih, dingin, teratur, dan petugasnya juga sigap membantu," kata Nurdin saat ditemui di Stasiun MRT Dukuh Atas BNI, Kamis (25/6/2026).
Ia mengapresiasi keberadaan lift, eskalator, serta kursi prioritas yang membuat perjalanan lebih aman. Namun, menurutnya, tantangan justru dimulai sebelum memasuki stasiun.
"Masalahnya kadang justru sebelum masuk stasiun. Jalan menuju stasiun itu ada yang jauh. Buat lansia, jalan kaki jauh itu cukup melelahkan," ujarnya.
Pengalaman serupa dirasakan Rosita (62), ibu rumah tangga yang kerap menggunakan MRT untuk mengunjungi anaknya.
Baca juga: Bagi Kelompok Rentan, Transportasi Publik Jakarta Bukan Pilihan, melainkan Kebutuhan
Menurut Rosita, fasilitas transportasi Jakarta sudah berkembang pesat dibanding beberapa tahun lalu.
Meski begitu, lansia masih menghadapi kesulitan saat harus berpindah jalur atau mencari akses keluar.
"Lift sangat membantu, kursi prioritas juga penting. Tapi kadang kalau harus pindah jalur atau cari pintu keluar, saya masih bingung," kata Rosita.
Ia berharap sistem penunjuk arah di sejumlah stasiun dibuat lebih sederhana agar mudah dipahami oleh pengguna lanjut usia.