Negara-Negara Ini Punya Perisai Rudal Paling Mematikan di Dunia

cnbcindonesia.com
13 jam lalu
Cover Berita

Jakarta,CNBC Indonesia - Sistem pertahanan rudal kini menjadi elemen krusial dalam arsitektur keamanan global abad ke-21 terutama di tengah kejadian yang sedang menimpa dunia pada saat ini.

Dinamika geopolitik dan pesatnya modernisasi militer mendorong berbagai negara untuk memperkuat wilayah udara mereka dari berbagai ancaman, mulai dari rudal balistik hingga pesawat nirawak dan senjata hipersonik.

Kehadiran perisai pertahanan yang andal bukan lagi sekadar instrumen taktis, melainkan kebutuhan strategis demi menjaga kedaulatan nasional.

Baca: Trump Berulah, Iran Langsung Balas Dendam Gempur Markas Militer AS

Karakteristik dan Kapabilitas Sistem Pertahanan Utama

Beberapa negara telah mengembangkan sistem pertahanan dengan spesifikasi dan peran yang berbeda dalam strategi pertahanan berlapis. Amerika Serikat mengandalkan kombinasi Patriot untuk target taktis, THAAD untuk intersepsi ketinggian tinggi pada fase terminal, dan Aegis sebagai pertahanan berbasis laut yang fleksibel.

Sementara itu, Israel memfokuskan pertahanannya pada Iron Dome yang dirancang khusus untuk mengatasi ancaman jarak pendek dengan tingkat keberhasilan intersepsi yang sangat tinggi.

Di sisi lain, Rusia memperkuat wilayahnya menggunakan seri S-400 dan S-500 yang dikenal memiliki jangkauan operasional luas dan dirancang untuk mengantisipasi target modern termasuk ancaman di orbit rendah.

Baca: Pura-Pura Tak Butuh, AS Adopsi Penangkal Drone Ukraina untuk di Arab

Baca: Tak Mau Senasib Amerika, China Siapkan Senjata Canggih

Tantangan Biaya dan Dinamika Masa Depan

Perkembangan teknologi militer memunculkan tantangan baru, khususnya terkait munculnya kendaraan luncur hipersonik yang memiliki kecepatan tinggi dan pola manuver yang sulit diprediksi oleh radar konvensional.

Kondisi ini memaksa para pengembang sistem pertahanan untuk mengintegrasikan sensor berbasis satelit dan mempercepat penelitian interseptor fase luncur.

Selain masalah teknis, asimetri biaya operasional menjadi kendala utama bagi banyak negara. Biaya produksi satu unit rudal interseptor jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga roket atau drone murah yang diluncurkan oleh pihak agresor.

Oleh karena itu, tren ke depan akan bergeser ke arah sistem pertahanan hibrida yang memadukan interseptor kinetik konvensional dengan teknologi pemukul non-kinetik seperti laser dan sistem peperangan elektronik.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polisi Bakal Panggil 3 Anggota DPRD TTU soal Dugaan Intimidasi Dokter Icha
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Skotlandia Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Pelatih Steve Clarke Resmi Mundur
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Hasil Piala Dunia 2026 Inggris vs Panama 2-0: Harry Kane Pecahkan Rekor! 
• 16 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Hasil MotoGP Belanda 2026: Ai Ogura Juara, Akhiri Penantian Jepang Selama 22 Tahun
• 1 jam lalumedcom.id
thumb
Cara Nonton Live Streaming Tinju Dunia Xander Zayas Vs Jaron Ennis Siang Ini
• 13 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.