Jakarta, VIVA – Ketua Umum Panitia Konferensi Republik, Sudirman Said buka suara terkait pembatalan Konsolidasi Nasional Konferensi Republik bertajuk "Jalan Menata Kembali Republik" yang dijadwalkan berlangsung di Kampus Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta Pusat pada Minggu, 28 Juni 2026.
Sudirman Said, menempatkan peristiwa ini dalam kerangka yang lebih besar.
"Represi dijalankan untuk memantik rasa takut. Karena itu, ketakutan inilah yang harus kita lawan. Jangan takut untuk terus bersuara. Pintu ruangan bisa dikunci, tetapi gagasan tidak bisa dibatasi," kata Sudirman Said dalam keterangan tertulis.
Sudirman juga mengingatkan pesan Wakil Presiden RI 1945-1957, Mohammad Hatta dalam pidato pada Hari Alumni Universitas Indonesia yang pertama, 11 Juni 1957.
Saat itu, lanjut dia, Hatta mengingatkan bahwa krisis kepercayaan terhadap pimpinan negara tidak dapat diatasi dengan mengganti demokrasi dengan kediktatoran, karena penggantian itu hanya akan melahirkan keadaan yang lebih buruk dan menghapus kepercayaan sama sekali. Pesan itu disampaikan Hatta di kampus yang sama, hampir tujuh dekade lalu.
Sementara, Ketua Pelaksana Konsolidasi Nasional Konferensi Republik, Ahmad Mujahid menjelaskan panitia Konferensi Republik menempuh seluruh tahapan administrasi yang dipersyaratkan universitas.
"Kami menempuh seluruh prosedur administrasi yang dipersyaratkan sejak 19 Juni. Sejak awal proses ini kami diterima dengan sangat baik oleh pihak kampus. Komunikasi dan kerja sama dalam sepekan terakhir berjalan positif, kooperatif, dan profesional," ujarnya.
Pihaknya telah bersurat resmi, beraudiensi langsung dengan Dekanat Fakultas Kedokteran, dan memperoleh konfirmasi awal secara verbal maupun tertulis. Pada 24 Juni, kata Ahmad, pihaknya menerima surat tugas untuk petugas fakultas yang akan mengawal kegiatan, lengkap dengan rincian biaya sewa tempat.
"Dinamika berkembang di detik terakhir. Pada pukul 01.00 dini hari tadi, kami menerima pemberitahuan resmi yang menyatakan pembatalan sepihak penggunaan ruangan untuk Rapat Kerja Nasional kami," ujar Ahmad.
"Kami menyayangkan perubahan keputusan dalam waktu yang sangat singkat ini. Pada saat yang sama kami memahami bahwa ini situasi sulit bagi UI. Kami meyakini pembatalan mendadak ini tidak berangkat dari keinginan internal kampus. Ada faktor di luar kendali manajemen Ul yang turut bekerja. Sebagai sesama elemen bangsa, kami menghormati posisi sulit tersebut," sambungnya.





