Bisnis.com, JAKARTA – Emiten Grup Telkom PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel akan segera mengeksekusi penggabungan dua anak usaha ke tubuh perseroan. Aksi itu dijalankan dalam rangka perluasan portofolio bisnis oleh Mitratel.
Melansir keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), kedua anak usaha tersebut adalah PT Ultra Mandiri Telekomunikasi (UMT) dan PT Persada Sokka Tama (PST).
Selain memiliki kegiatan usaha yang sama dengan MTEL, PST juga menjalankan kegiatan usaha berupa konsultasi dan perancangan IoT, penyediaan tenaga kerja waktu tertentu, hingga perdagangan besar peralatan telekomunikasi.
Sementara itu, UMT menjalankan kegiatan usaha utama pada instalasi telekomunikasi, perdagangan besar peralatan telekomunikasi, aktivitas telekomunikasi dengan kabel dan internet service provider.
Terdapat sedikitnya 6 alasan utama MTEL melebur dua anak usahanya, dengan salah satunya dalam rangka peningkatan skala dan portofolio infrastruktur perseroan. Manajemen berharap, penggabungan usaha ini dapat memperkuat daya saing MTEL di Indonesia.
”Penggabungan usaha ini akan memperluas portofolio menara telekomunikasi dan infrastruktur pendukung MTEL secara substansial, sehingga memperkuat skala dan kualitas aset MTEL. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan posisi kompetitif MTEL sebagai penyedia infrastruktur telekomunikasi terkemuka di Indonesia, serta memperkuat kemampuan MTEL dalam mengamankan peluang penyewaan dari operator telekomunikasi,” tulis manajemen, dikutip Minggu (28/6/2026).
Baca Juga
- Emiten Menara Telkom, Mitratel (MTEL) Dapat Pendanaan Hijau Rp500 Miliar
- Rasio Penyewaan Melonjak, Mitratel (MTEL) Jaga Ruang Ekspansi
- Transformasi Jadi Infrastruktur Digital, Kinerja MTEL Tumbuh di Kuartal I/2026
Selain itu, terdapat alasan lain seperti optimalisasi rasio kolokasi, efisiensi biaya operasional, penguatan struktur permodalan, perluasan jangkauan, hingga peningkatan nilai bagi pemegang saham.
Adapun nantinya, MTEL selaku perusahaan penerima penggabungan usaha, akan menambah sedikitnya 4 kegiatan usaha, antara lain aktivitas jasa akses internet, konsultasi dan perancangan IoT, penyediaan tenaga kerja waktu tertentu, hingga aktivitas telekomunikasi lainnya.
Penggabungan ini juga tidak membuat MTEL mengalami perubahan kegiatan usaha lantaran seluruh saham anak usaha digenggam oleh MTEL. Dengan begitu, aksi ini disebut tidak menimbulkan dilusi kepemilikan maupun perubahan komposisi pemegang saham MTEL.
Kondisi ini juga sejalan dengan tujuan penggabungan anak usaha MTEL, guna memberikan peluang bagi MTEL untuk memperluas jangkauan infrastruktur ke wilayah dengan potensi pertumbuhan yang tinggi.
”Sehingga meningkatkan akses pasar, memperkuat pipeline permintaan, serta mendukung pengembangan konektivitas digital nasional, termasuk jaringan 4G dan 5G,” tegas manajemen.
Dalam rencana ini, MTEL, PST, dan UMT bakal menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada Senin (30/6/2026). Tanggal efektif penggabungan usaha akan jatuh pada 1 Juli 2026.
Rancangan penggabungan usaha ini telah disetujui oleh dewan komisaris setiap perusahaan dan telah mendapatkan pernyataan efektif dari OJK. Pemegang saham yang tidak menyetujui aksi korporasi ini, nantinya berhak atas aksi pembelian kembali saham dengan harga yang wajar.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





