Di balik bangunan berdinding seng di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Siti Fatmawati mengolah kikil menjadi tumpuan penghasilan keluarganya. Usaha yang berawal dari coba-coba sejak belasan tahun lalu itu ternyata membawa Siti perlahan berkembang hingga mampu memproduksi ratusan kilogram kikil setiap hari untuk dipasarkan ke sejumlah wilayah.
Lokasi produksi kikil yang dikelola Siti berada di pinggir Jalan Raya Serang-Setu. Namun, sekilas tempat itu tak terlihat seperti pusat produksi. Bangunan sederhana dengan dominasi kayu dan seng itu berada sedikit menurun dari jalan utama.
Begitu masuk ruangan, aktivitas produksi langsung terlihat. Deretan drum plastik berwarna biru memenuhi area yang digunakan untuk pengolahan bahan baku.
Lantai yang cukup basah menjadi pemandangan sehari-hari lantaran proses pembuatan kikil melibatkan tahapan perendaman. Di sudut ruangan tampak pula keranjang berisi kikil yang masih dalam proses pengolahan. Meski tempat itu tidak terlalu luas, dari tempat produksi inilah Siti mampu menghasilkan ratusan kilogram kikil setiap harinya.
Cerita Siti membangun usaha kikil itu berawal dari pekerjaan suaminya yang harus pulang pergi ke luar daerah. Di sisi lain, Siti juga memutuskan untuk berhenti kerja.
Akhirnya ia pun mencoba untuk memulai usaha kikil kecil-kecilan pada 2012. Ia awalnya mengirimkan kikil hasil olahannya ke tukang tahu yang berjualan di pasar.
Di luar perkiraan, barang dagangannya itu laku terjual. Perempuan berusia 51 tahun itu kemudian menawarkan sendiri kikil buatannya ke pasar-pasar.
Ia mengaku tak mengetahui persis jumlah modal awal yang dikeluarkan untuk memulai usaha tersebut. Sebab saat itu, ia membeli bahan baku sesuai uang yang ada, berapa pun jumlahnya
"Yang penting ada barang, saya masak," kata Siti saat berbincang dengan detikcom di tempat produksinya di Cikarang, Kabupaten Bekasi, beberapa waktu lalu.
Setelah usaha kikil mulai berkembang, Siti mengajak suaminya untuk fokus mengelola bisnis tersebut dan meninggalkan pekerjaan lamanya. Terlebih lagi, kata Siti, suaminya harus bepergian jauh, sementara gaji yang diterima pun harus menunggu tiga bulan.
Perjalanan dalam merintis usaha kikil itu pun tidak selalu mulus. Siti beberapa kali pindah tempat produksi dari mulai di rumah hingga menyewa tempat yang kini digunakan dengan biaya Rp 12 juta per tahun.
Bangunan yang menjadi lokasi produksi sekarang dulunya memang tak terawat. Siti bersama keluarganya yang menata tempat tersebut agar lebih layak untuk menjadi tempat pengolahan kikil.
Perempuan asal Kebumen itu belajar mengolah kikil secara autodidak dan mendengarkan saran dari pedagang yang lain.
Ia menjelaskan sebelum dikirim ke pasar, kikil harus melalui sejumlah proses pengolahan. Bahan baku digoreng terlebih dahulu, kemudian direbus dan direndam selama dua hari.
"Setelah itu baru keluar ke pasar," ujar Siti.
Dalam sehari, Siti bisa mengirim dua sampai tiga kuintal kikil. Hasil olahannya itu dikirim ke Pasar Serang, Sukamakmur hingga Sukabungah Bekasi. Anak Siti yang bertugas mengantar kikil tersebut ke para pelanggan.
"Kalau ke Sukamakmur 4 hari sekali. Entar kalau habis orangnya nelepon," kata Siti.
Adapun bahan baku yang digunakan Siti diperoleh dari Cibinong dan Sentul, Kabupaten Bogor. Dalam sebulan, ia bisa membeli bahan sekitar 2,5 ton. Setelah melalui proses perendaman, berat kikil akan bertambah karena menyerap air.
Dari usaha tersebut, Siti mengaku bisa memperoleh keuntungan setiap hari sekitar Rp 700 ribu sampai Rp 1 juta. Jika dihitung dalam sebulan, keuntungan yang didapatnya bisa mencapai lebih dari Rp 20 juta.
Dalam perjalanannya usahanya, Siti membutuhkan modal untuk pengembangan. Ia kemudian mengajukan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebesa Rp 200 juta dengan tenor empat tahun.
"Digunakan untuk beli bahan dan Mengembangkan usaha," kata Siti menjelaskan alokasi penggunaan pinjaman tersebut.
Ia merasakan manfaat dari pinjaman KUR BRI itu untuk menjaga kelancaran usaha. Menurutnya, tambahan modal membuat proses produksi bisa berjalan lebih baik.
"Biar semakin lancar lah usaha kami ini," ujar Siti.
Di tengah kondisi ekonomi yang menantang, Siti bersyukur usahanya masih bisa bertahan. Menurutnya, KUR BRI membantu menjaga kestabilan usahanya agar tidak mengalami penurunan yang signifikan.
"Membantu untuk modal. Kalau saya bilang nggak terlalu turun banget, nggak," kata Siti.
Mantri BRI Unit Serang Bekasi, Dewi Sanny Simanjuntak, mengatakan BRI terus berkomitmen untuk membantu masyarakat dalam meningkatkan usahanya. Dewi mengatakan proses pengajuan KUR BRI dilakukan dengan melihat prospek serta kebutuhan nasabah.
"Makanya ketika mereka mengajukan, kita menilai di lapangan dan kita anggap layak untuk dikembangkan lagi, ya dengan harapan semakin kita memberikan tambahan modal, akan mem- memajukan usaha mereka dan akan memajukan juga omzet," kata Dewi saat diwawancara detikcom secara terpisah.
Ia berharap pinjaman modal yang diberikan BRI dapat membantu para pelaku UMKM dalam meningkatkan kapasitas usahanya.
"Besar harapan kami dengan memberikan kredit ini sangat membantu untuk mereka para nasabah kami itu untuk berproduktif. Semakin bisa percaya diri bahwa ada nih Bank BRI, khususnya ya, siap untuk membantu memajukan UMKM, apalagi dibantu dengan adanya program KUR subsidi bunga dari pemerintah" ujar Dewi.
(knv/knv)





