Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, krisis air bersih dilaporkan terjadi di Kota Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat, akibat intensitas hujan yang sangat rendah dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut mengakibatkan berkurangnya ketersediaan debit sumber air bersih yang selama ini digunakan masyarakat.
"Peristiwa ini melanda Kelurahan Tanjung, Paruga, dan Pane di Kecamatan Rasanae Barat; Kelurahan Sambinae, Panggi, Manggemaci, dan Monggonao di Kecamatan Mpunda; Kelurahan Rontu di Kecamatan Raba; serta Kelurahan Melayu di Kecamatan Asakota," ungkap
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, dalam rilis resmi, Minggu, 28 Juni 2026.
Baca Juga :
16.258 Jiwa 6 Daerah di Jateng Terdampak KekeringanSebagai upaya penanganan, BPBD Kota Bima segera melakukan asesmen dan koordinasi lintas instansi serta telah melaksanakan pendistribusian bantuan air bersih kepada masyarakat terdampak sebanyak 70.000 liter. BNPB mengimbau pemerintah daerah, BPBD, dan masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, termasuk kekeringan, yang dapat terjadi seiring dinamika kondisi cuaca dan musim.
Ilustrasi krisis air bersih. (Antara)
Masyarakat diharapkan senantiasa memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari instansi berwenang, menggunakan air secara bijak di wilayah yang mengalami keterbatasan pasokan air bersih, serta segera melaporkan kepada aparat setempat apabila menemukan potensi bahaya atau kondisi darurat.
"Kesiapsiagaan dan partisipasi seluruh pihak menjadi kunci dalam mengurangi risiko bencana serta meminimalkan dampak yang ditimbulkan," pesan BNPB.




