Fransisca Christanti Tri Wulandari mencoba kembali pada memorinya ke 25 tahun yang lalu saat ia masih duduk di bangku SMP. Saat itu, ia merasa kondisinya tidak baik-baik saja. Jika bisa didiagnosis, ia mungkin mengalami kecemasan kronis. Bahkan, ia punya kecenderungan untuk melukai dirinya sendiri (self harm).
Hanya saja, ia tidak tahu pasti apa yang dialaminya. ”Saya belum punya bahasa yang tepat untuk kondisi saya waktu itu. Jadi, saya tidak tahu apa yang terjadi pada diri saya. Saya juga tidak berani menceritakan apa yang terjadi dan saya rasakan saat itu,” katanya saat ditemui secara daring pada Rabu (10/6/2026).
Orangtuanya sebenarnya menyadari kecenderungan Fransisca yang melukai diri sendiri. Atas kondisi itu, orangtuanya merasa ada yang tidak beres pada diri Fransisca. Namun, pengetahuan yang minim membuat orangtuanya justru membawa Fransisca ke dukun.
Keputusan itu bukan karena abai atau tidak peduli, itu hanya karena keterbatasan pengetahuan sehingga itulah satu-satunya cara yang diketahui untuk mengatasi kondisi Fransisca. Setelah itu, Fransisca pun masih tetap menyimpan perasaannya dalam diam. Apalagi, menurut dia kala itu, sebagai perempuan Jawa tidak lazim untuk menceritakan perasaan atau persoalan diri. Ia harus terlihat baik-baik saja di depan orang lain.
Seiring dengan berjalannya waktu, kondisi Fransisca mulai membaik. Keluarga yang terus mendukung dalam berbagai situasi membuat ia mulai merasa pulih. Ia lulus sebagai sarjana psikologi. Kemudian ia melanjutkan studi di Inggris di bidang psikologi.
Setelah lulus, ia sempat menjalani karier di Australia. Ia juga sudah membayangkan akan hidup di ”Negeri Kanguru” tersebut. Namun, rencana itu harus berhenti. Visa untuk melanjutkan pekerjaan di Australia sempat terkendala. Suaminya juga harus kembali ke Indonesia untuk menemani orangtuanya yang sakit.
Sejak saat itu, ia akhirnya kembali ke Indonesia. Ada kedukaan yang kemudian ia alami. Rasa duka ini bukan atas kematian, melainkan kedukaan atas identitas yang harus ditinggalkan, atas masa depan yang sudah direncanakan, tetapi harus sirna begitu saja.
”Jadi ada rasa marah, ada rasa kecewa, ada rasa kehilangan diri. Karena selama ini, Fransisca yang saya kenal adalah sosok yang akan berkarier di Australia. Jadi memang ada rasa griefing (duka) bahwa saya kehilangan diri saya,” ujarnya.
Sepulangnya ke Indonesia, tepatnya di Bantul, Yogyakarta, Fransisca ternyata justru menemukan hal baru yang membawa dirinya bisa membantu banyak anak muda dengan keresahan yang sama dengan dirinya. Pada tahun 2023, tepat pandemi Covid-19 usai, Fransisca mendirikan komunitas terkait kesehatan mental yang diberi nama Talk Mental Health.
Terbentuknya komunitas itu dipicu berbagai kombinasi dari pengalaman hidup, latar belakang pendidikan, serta kepekaan terhadap kebutuhan anak muda saat ini. Satu yang paling mendasari, yakni kesadarannya bahwa setelah 25 tahun sejak ia SMP, masalah kesehatan mental anak muda tidak banyak bergeser.
Anak muda dan masyarakat masih sulit membahasakan perasaan mereka. Banyak anak muda yang masih harus menanggung bebannya sendiri. Masalah mereka juga sangat kompleks dan berlapis, mulai dari tekanan sebagai generasi sandwich, masalah asmara, tuntutan pekerjaan, tuntutan ekonomi, hingga respons terhadap kondisi negara yang tidak baik-baik saja.
Selain itu, ruang aman yang dibutuhkan anak-anak muda belum banyak tersedia. Belum lagi banyaknya masalah kesehatan mental anak muda yang berakar dari masalah duka yang tidak tervalidasi dengan baik. Kondisi kecemasan dan depresi yang banyak ditemukan pada anak muda bisa jadi karena kedukaan sebagai akar masalahnya tidak diproses dengan baik.
Ia pun merasa bahwa pemerintah dan pemangku kepentingan kini lebih fokus pada spektrum masalah kesehatan jiwa yang sudah berat yang sebenarnya hanya sebagai ujung dari fenomena gunung es. Penanganan pun sering kali diutamakan pada pendekatan klinis, sementara jumlah praktisi klinis untuk masalah kesehatan jiwa masyarakat, terutama anak muda, sangat terbatas.
”Anak muda di Indonesia sudah hampir 64 juta orang. Sementara data menunjukkan satu dari tiga anak mengalami kecemasan awal. Kalau kita menunggu semua ini harus diatasi satu per satu secara klinis, itu tidak akan selesai. Karena itu, pendekatan kelompok lewat komunitas ini menjadi sangat penting,” tuturnya.
Lewat komunitas Talk Mental Health, Fransisca menggunakan pendekatan yang cukup berbeda. Ia menggunakan media kreatif seperti seni, gerak tubuh, dan alam untuk menyalurkan emosi yang sering kali tersimpan di dalam tubuh.
Selain itu, komunitas ini juga dibangun sebagai ruang aman tanpa penghakiman bagi anggotanya. Setiap orang dalam komunitas ini diajak untuk memahami bahwa mereka tidak sendirian dan mereka berada di lingkungan yang akan menerima diri mereka apa adanya.
Dalam perjalanannya, komunitas Talk Mental Health berkembang dari kelompok kecil berjumlah 20 orang hingga kini menjangkau lebih dari 1.000 orang, baik secara daring maupun luring. Gerakan yang dilakukan komunitas ini juga mulai menyentuh lingkungan sekolah.
”Komunitas ini hadir sebagai ruang aman. Ini tidak menggantikan layanan klinis, tetapi support group yang bisa melengkapi kebutuhan itu. Apalagi, tidak semua orang bisa langsung ke klinis dengan alasan biaya juga stigma,” ucapnya.
Fransisca berpendapat, perkembangan dunia digital turut berpengaruh pada tekanan mental anak muda saat ini. Dunia digital memang mempermudah kehidupan. Dunia digital juga membuat informasi sosial kesehatan mental semakin dekat dengan masyarakat.
Namun, dunia digital juga bisa menjadi sumber kelelahan emosional dan pelarian semua dari masalah yang dihadapi anak muda. Banyak anak muda yang ternyata mengaku lelah dengan interaksi yang serba daring. Anak muda tetap membutuhkan koneksi nyata dan ruang aman yang bisa didapatkan lewat interaksi langsung.
Selain itu, media sosial juga sering kali digunakan sebagai pelarian. Media sosial digunakan untuk mendapatkan kepuasan instan. Itu membuat anak muda tidak tepat memproses emosi yang dialami.
Dunia digital pun dinilai hanya memberikan koneksi semu. Hubungan yang dibangun di media sosial biasanya hanya bersifat semu. Masifnya penggunaan media sosial justru bisa membuat koneksi dengan orang-orang di kehidupan nyata semakin menjauh.
”Sampai sudah terlambat, koneksi itu ternyata semakin jauh. Koneksi yang semakin sulit diperbaiki membuat emosi menjadi semakin menumpuk dan kompleks. Media sosial jadi tidak fulfilling (memuaskan) lagi. Akhirnya, semakin nyata kita mengalami masalah kesehatan mental,” kata Fransisca.
Hubungan media digital dengan masalah kesehatan jiwa pada anak muda disebutkan pula oleh Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan Imran Pambudi. Dihubungi terpisah, ia mengatakan, penetrasi internet di Indonesia memang sudah sangat tinggi. Generasi milenial dan generasi Z yang saat ini masuk dalam usia muda punya tingkat penetrasi tertinggi.
Jumlah itu juga cukup tinggi pada generasi alfa yang lahir setelah tahun 2013 dengan persentase penetrasi internet hampir 80 persen. Persoalannya, banyak masyarakat yang belum memiliki literasi digital yang baik. Mereka rentan terpapar informasi sesat, konten berbahaya, dan masalah lain, seperti judi daring.
”Remaja ini menjadi kelompok yang paling rentan terhadap masalah kesehatan jiwa. Itu karena emosi yang fluktuatif, kemudian mereka yang sedang mencari identitas diri, tekanan dari teman dan keluarga juga cukup tinggi, serta media sosial yang turut berpengaruh,” tutur Imran.
Mengutip data Unicef, sebanyak 45 persen anak dan remaja di Indonesia pernah mengalami perundungan digital (cyberbullying). Sebanyak 42 persen mengaku pernah merasa takut atau tidak nyaman dengan pengalaman daring mereka. Puluhan ribu anak juga terpapar judi daring. Sekitar 4 persen anak dan remaja mengalami kekerasan seksual berbasis digital. Banyak pula yang sudah terindikasi kecanduan internet.
Dampak dari paparan digital bisa beragam dan saling terkait. Masalah kesehatan jiwa bisa muncul berupa rasa bersalah, stres berkepanjangan, kecemasan, hingga depresi. Anak dan remaja juga cenderung mengalami ketergantungan pada internet, kehilangan kontrol diri, mengalami gangguan konsentrasi dalam belajar, serta gangguan tidur.
Dampaknya juga pada aspek sosial. Kualitas komunikasi antara anak dan keluarga menjadi menurun karena waktu bersama yang digantikan dengan waktu untuk menatap layar. Potret psikologis pada generasi digital ini cukup berbeda dari generasi sebelumnya.
Imran menyebutkan, emosi pada generasi digital umumnya lebih intens dan mudah berubah tergantung pada berita atau konten yang dikonsumsi. Mereka mudah cemas dan berpikir berlebihan (overthinking). Mereka juga mengalami overstimulasi akibat arus informasi yang tidak pernah berhenti. Mereka cenderung takut ditolak secara sosial. Stres bisa muncul karena reaksi like dan comment yang tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Identitas diri seseorang kini banyak dibentuk secara daring. Padahal, itu belum tentu mencerminkan diri yang sebenarnya. Fenomena itu justru menciptakan jarak antara diri yang ditampilkan dan diri sesungguhnya. Secara jangka panjang, hal itu dapat merusak konsep diri.
Psikolog dari Ruang Tumbuh, Hesty Novitasari, dalam seminar web yang diselenggarakan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia pada Rabu (10/6/2026) mengatakan, digitalisasi juga memunculkan persoalan baru dalam kesehatan mental, yakni maraknya self-diagnose. Paparan informasi yang sangat besar membuat masyarakat cenderung mencoba mencocok-cocokkan gejala yang mereka alami dengan apa yang dituliskan atau dipaparkan di media sosial.
Padahal, kondisi psikologis tiap orang bersifat unik dan berbeda-beda yang memerlukan penilaian secara mendalam. Akibatnya, tidak sedikit orang yang terburu-buru melabeli diri mengalami kondisi gangguan kesehatan mental tertentu, seperti depresi, anxiety, bipolar, atau gangguan lain.
Persoalan itu diperparah dengan stigma yang masih tinggi di masyarakat. Banyak anak muda akhirnya tidak mau mencari bantuan yang tepat karena takut dinilai negatif oleh orang-orang di sekitarnya. Tekanan berlapis di lingkungan sosial dan keluarga juga membuat seseorang lebih memilih diam daripada mencari pertolongan.
”Awareness (kesadaran) akan kesehatan mental itu lebih pada cara kita memahami diri, tapi juga bukan melabeli diri. Kesehatan mental itu adalah sesuatu hal yang penting dan bukan sesuatu yang perlu stigmatisasi,” katanya.
Imran menuturkan, pemerintah telah berupaya untuk menekan dampak media sosial pada anak melalui PP Tunas atau Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak. Tujuannya, untuk melindungi anak dari dampak negatif dunia digital.
Selain itu, Kementerian Kesehatan juga tengah menyusun strategi untuk mendukung kesehatan jiwa anak dan remaja. Upaya promotif dijalankan bersama dengan upaya preventif dengan deteksi dini dan upaya kuratif dan rehabilitatif untuk pengobatan.
Sebagai pencegahan, pemerintah telah menyediakan layanan skrining kesehatan jiwa melalui cek kesehatan gratis serta layanan krisis kesehatan mental melalui platform Healing119.id. Layanan krisis kesehatan mental itu bisa diakses lewat chat atau telepon. Selama setahun terakhir, layanan ini telah diakses oleh 1.100 anak dan remaja.
Meski begitu, lanjut Imran, ketersediaan layanan kesehatan mental memang belum merata dan kurang di Indonesia. Dari 10.000 puskesmas di Indonesia, baru 60 persen yang mampu memberikan layanan kesehatan jiwa. Selain itu, ketersediaan psikolog klinis di puskesmas juga baru mencakup 2 persen dari puskesmas yang ada.
”Menjaga kesehatan jiwa adalah tanggung jawab bersama. Setiap individu membutuhkan lingkungan yang aman, suportif, dan saling terhubung, mulai dari sekolah, keluarga, dan fasilitas kesehatan. Orang juga perlu didengar tanpa dihakimi,” ujar Imran.




