Amerika Serikat (AS) dan Iran saling serang di tengah kesepakatan damai. Aksi berbalas serangan rudal ini merembet ke beberapa negara di Timur Tengah (Timteng) yang terkena dampaknya.
Dirangkum detikcom, Senin (29/6/2026), Iran dan Amerika Serikat sama-sama menuduh pihak lainnya melanggar gencatan senjata. Tuduhan ini memperketat negosiasi yang bertujuan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.
Nota kesepahaman damai sebelumnya telah dicapai Iran dan AS pada pertengahan Juni di bawah mediasi Pakistan. Memorandum ini bertujuan untuk mengakhiri perang secara permanen.
Teks yang ditandatangani Amerika Serikat dan Iran menyatakan bahwa kedua negara, dan sekutu masing-masing, "tidak akan memulai perang atau operasi militer apa pun terhadap satu sama lain dan akan menahan diri dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap satu sama lain".
Sementara itu pada Sabtu (27/6), militer AS membombardir Iran untuk hari kedua berturut-turut. Pihak AS mengatakan serangan itu sebagai pembalasan atas serangan Iran terhadap sebuah kapal tanker di Selat Hormuz.
Garda Revolusi Iran lantas melakukan serangan terhadap fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain. Mereka memperingatkan agresi lebih lanjut akan dibalas dengan 'tanggapan yang menghancurkan'.
"Garda Revolusi menghancurkan delapan fasilitas militer AS yang penting di pangkalan Ali al-Salem di Kuwait dan di pangkalan angkatan laut Armada Kelima di Pelabuhan Salman di Bahrain," kata IRGC dalam sebuah pernyataan, dilansir AFP, Minggu (28/6).
Bahrain Kutuk Serangan Balasan IranKementerian Luar Negeri Bahrain mengecam keras serangan rudal balistik dan drone terbaru Iran. Bahrain mengatakan serangan tersebut melanggar kedaulatan negara.
Dilansir Al Jazeera, Minggu (28/6), dalam pernyataan yang dimuat Kantor Berita Bahrain, Kementerian Luar Negeri bahrain mengatakan serangan tersebut juga merusak "peluang untuk de-eskalasi dan stabilitas di kawasan tersebut".
Kementerian Luar Negeri Bahrain juga menyerukan Dewan Keamanan PBB untuk mengadakan pertemuan darurat guna membahas situasi tersebut dengan harapan "mengakhiri agresi yang sedang berlangsung dan meminta pertanggungjawaban para pelakunya". Bahrain juga mengaskan pihaknya berhak mempertahankan kedaulatan.
"Menegaskan hak sahnya sepenuhnya untuk mempertahankan kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayahnya sesuai dengan hukum internasional, dan meminta pertanggungjawaban penuh rezim Iran atas setiap eskalasi yang diakibatkan oleh agresi berkelanjutannya," kata Kementerian Luar Negeri Bahrain dalam sebuah pernyataan.
(ygs/ygs)





