Mengapa Terjadi Hujan di Musim Kemarau? Ini Penjelasan BMKG

kompas.com
11 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan mengenai fenomena masih turunnya hujan di sejumlah wilayah meskipun Indonesia telah memasuki periode musim kemarau.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, status musim kemarau tidak berarti hilangnya curah hujan sepenuhnya, melainkan adanya penurunan intensitas berdasarkan kriteria klimatologi tertentu.

"Sebenarnya musim kemarau itu bukan tidak ada hujan sama sekali Bapak Ibu sekalian, tetapi selama satu dasarian, satu dasarian itu 10 hari, itu curah hujan kurang dari 50 mm dan itu berlangsung selama tiga dasarian berturut-turut," ujarnya dalam rapat koordinasi di Kementerian Dalam Negeri, Senin (29/6/2026).

Baca juga: Hadapi El Nino Godzilla, Pemerintah Pastikan Kesiapan Cadangan Pangan

Secara teknis, BMKG juga menggunakan ukuran bulanan untuk menetapkan status musim di suatu wilayah.

Jika dalam satu bulan akumulasi curah hujan tetap berada di bawah 150 mm, maka kondisi tersebut secara sederhana sudah masuk dalam kategori kemarau meskipun masih terdapat hari-hari hujan.

"Secara sederhana dalam satu bulan itu hujan kurang dari 150 mm itu disebut kemarau," jelasnya.

Baca juga: El Nino Berlangsung Juni 2026-Mei 2027, Ini Bedanya dengan Kemarau dan Dampaknya

Variasi kondisi cuaca

Faisal menambahkan, kondisi cuaca di Indonesia sangat bervariasi karena terbagi dalam 699 zona musim yang dipengaruhi oleh kondisi geografis dan geomorfologis tiap daerah.

Terdapat wilayah yang disebut "zona satu musim" seperti di bagian barat Sumatera, utara Kalimantan, dan sebagian Papua yang tetap memiliki curah hujan tinggi sepanjang tahun.

"Ini misalnya di Kota Bogor itu, itu zona satu musim Bapak Ibu sekalian. Kota Bogor tidak mengenal musim kemarau, ini misalnya contoh ya," ucap Faisal.

Baca juga: BMKG: El Nino Bakal Berlangsung Mulai Juni 2026 hingga Mei 2027

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Namun demikian, masyarakat tetap diminta waspada mengingat tahun 2026 ini terdapat fenomena El Nino kuat dengan peluang 98 persen yang akan membuat musim kemarau terasa lebih kering dari biasanya, terutama di wilayah selatan khatulistiwa.

Puncak musim kemarau sendiri diprediksi akan terjadi pada bulan Agustus hingga September mendatang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Piala Dunia 2026: Gagal Bawa Korea Selatan ke 32 Besar, Hong Myung-bo Minta Maaf dan Resmi Mundur Sebagai Pelatih
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
DPR dan Pemerintah Gelar Rakor Bahas Pertumbuhan Ekonomi
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Bahlil Bicara Potensi Harga Pertamax Turun saat Minyak Mentah Global Melemah
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Harga Emas Antam Hari Ini Senin 29 Juni 2026 Turun, 1 Gram Kini Rp2.645.000
• 12 jam lalubisnis.com
thumb
Mendukbangga Ingatkan Keluarga Jangan Biarkan Meja Makan Sunyi karena Teknologi
• 11 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.