Presiden Rusia Vladimir Putin mengakui negaranya mengalami kekurangan bahan bakar minyak (BBM) akibat serangan drone Ukraina yang terus berlanjut. Hal itu disampaikan Putin dalam wawancara yang dirilis Kremlin pada Minggu (28/6).
Ukraina sebelumnya menyatakan memang sengaja menargetkan infrastruktur energi Rusia. Langkah tersebut, menurut Ukraina — yang didukung blok Barat, merupakan balasan atas serangan Rusia yang telah menewaskan banyak warga sipil Ukraina.
Putin menegaskan serangan Ukraina telah menimbulkan masalah besar bagi sektor energi Rusia.
"Mengenai serangan terhadap infrastruktur penting secara umum, dan infrastruktur energi secara khusus, tentu saja serangan terhadap fasilitas infrastruktur kita ini menimbulkan masalah, itu sudah jelas," kata Putin, seperti dikutip dari AFP.
"Saat ini kita sedang mengamati kekurangan tertentu, tetapi belum kritis," sambung Putin.
Putin menambahkan, prioritas pemerintah saat ini adalah memperkuat sistem pertahanan udara. Selain itu, Rusia akan membatasi pasokan BBM di beberapa wilayah tertentu di Crimea secara bertahap agar tetap terkendali.
"Kita pasti akan mengatasi semua tantangan yang kita hadapi saat ini, termasuk serangan teroris di wilayah dan fasilitas infrastruktur kita," tambah Putin.
Dalam wawancara itu, Putin juga mengatakan kelompok negosiator dari Amerika Serikat akan segera datang ke Moskow untuk membahas upaya mengakhiri perang di Ukraina.
Wawancara Putin dirilis beberapa jam setelah serangan drone Ukraina ke wilayah Krasnodar. Serangan tersebut memicu kebakaran di sebuah kilang minyak.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut serangan drone itu bertujuan melemahkan kemampuan Rusia membiayai perang.
"Kilang minyak Slavyansk di wilayah Krasnodar terkena serangan, sekitar 300 kilometer dari garis depan. Kami juga mencapai kilang minyak di wilayah Yaroslavl, sekitar 700 kilometer dari perbatasan kami," ujar Zelensky.





