Harga emas dunia kembali melemah dan mendekati level psikologis USD 4.000 per ons setelah ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas. Meski sempat terjadi gencatan senjata pekan lalu, aksi saling serang di kawasan Teluk Persia memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global.
Harga emas spot sempat turun hingga 0,9 persen pada perdagangan Senin (29/6) waktu Asia, setelah sehari sebelumnya menguat 1,6 persen. Sementara pada pukul 08.53 waktu Singapura, harga emas spot tercatat turun 0,6 persen menjadi USD 4.064,47 per ons.
Logam mulia lainnya juga melemah, dengan harga perak turun 1,1 persen, sementara platinum dan paladium ikut terkoreksi. Pelemahan terjadi di tengah kenaikan harga minyak akibat terganggunya pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur pengiriman minyak paling penting di dunia.
Sebuah kapal tanker yang membawa minyak mentah Qatar dilaporkan terkena serangan saat AS dan Iran saling melancarkan serangan balasan selama akhir pekan. Insiden tersebut sempat meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global. Namun, situasi mereda setelah kedua negara dilaporkan sepakat menghentikan serangan dan akan melanjutkan pembicaraan di Doha, Qatar, pada Selasa (30/6).
Analis Global X ETFs Australia, Justin Lin, menilai harga emas yang masih mampu bertahan di atas level USD 4.000 menunjukkan minat beli mulai kembali muncul.
"Harga emas yang tetap bertahan di atas USD 4.000 meski ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat menunjukkan pembeli mulai kembali masuk dan bersedia mempertahankan level tersebut," kata Justin Lin dikutip dari Bloomberg, Senin (29/6).
Grafik Bloomberg menunjukkan harga emas sempat mencapai puncaknya di kisaran USD 5.375 per ons pada 29 Januari 2026. Namun setelah perang Iran dan AS pecah pada akhir Februari, harga emas terus mengalami tren penurunan.
Secara keseluruhan, harga emas telah merosot lebih dari 20 persen sejak perang dimulai. Pada akhir Juni, harga logam mulia tersebut bergerak di sekitar USD 4.000 per ons, mencerminkan tekanan dari meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi akibat kekhawatiran inflasi yang dipicu kenaikan harga energi.
Tekanan terhadap emas juga datang dari data inflasi Amerika Serikat yang masih relatif tinggi, meski sesuai dengan perkiraan pasar. Kondisi itu membuat pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Suku bunga yang tinggi umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen berbunga lainnya.
Lin memperkirakan sensitivitas harga emas terhadap konflik geopolitik mulai berkurang. "Saya memperkirakan emas akan semakin tahan terhadap gejolak di Timur Tengah, terutama karena kenaikan harga sejak awal tahun sudah sepenuhnya terhapus dan investor jangka pendek kemungkinan besar sudah banyak keluar dari pasar," ujarnya.





