Liburan Berdua Pasangan Bisa Jadi Cara Merawat Pernikahan

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Belakangan ini, media sosial ramai membahas anggapan bahwa pasangan suami istri yang liburan berdua tanpa anak, bukan berarti sedang foya-foya. Banyak warganet menilai, momen tersebut justru bisa menjadi cara untuk "maintenance" hubungan agar tetap harmonis.

#fyp #pasutri

Lantas, benarkah liburan berdua pasangan bisa menjadi kunci menjaga keharmonisan rumah tangga?

Menurut Psikolog Anak dan Keluarga, Roslina Verauli, M.Psi, Psikolog, liburan bersama memang bisa menjadi momen berkualitas bagi pasangan. Namun, keharmonisan rumah tangga sebenarnya tidak hanya dibangun melalui momen-momen besar seperti liburan.

Keharmonisan Juga Bisa Dibangun dari Hal-Hal Kecil

Roslina menjelaskan, secara psikologis hubungan suami istri justru semakin kuat melalui interaksi sederhana yang dilakukan secara konsisten setiap hari. Konsep ini dikenal sebagai bids for connection, yaitu berbagai bentuk usaha kecil untuk tetap terhubung dengan pasangan, seperti:

-Sarapan bersama tanpa gadget

-Meluangkan waktu mengobrol

-Saling menggenggam tangan

-Memberi pelukan

“Jadi sentuhan-sentuhan efektif yang sifatnya non-seksual ya. Jadi nggak mesti yang gede-gede pergi liburan gitu kan ya, jauh. Meskipun sebetulnya itu kayak making moment, ya nggak ada salahnya. It's okay,” ucap Verauli saat dihubungi kumparanMOM, Kamis (25/6).

Memahami Fase Transisi Pernikahan

Selain itu, Verauli juga menjelaskan, sebenarnya tidak ada tahun kritis yang pasti dalam pernikahan. Ia lebih memilih menyebutnya sebagai fase transisi, yaitu masa ketika pasangan harus beradaptasi dengan perubahan dalam kehidupan rumah tangga.

Salah satu fase yang cukup menantang adalah satu hingga dua tahun pertama setelah menikah. Pada masa ini, pasangan mulai keluar dari fase bulan madu dan menghadapi realitas kehidupan bersama.

“Paling utama sering kali fase setelah punya anak, misalnya anak pertama lahir. Itu juga adalah perubahan fase yang kritis, transisi kritis karena orang tua yang tadinya jadi suami istri, sekarang berubah peran dan tanggung jawabnya jadi ayah ibu,” tuturnya.

Kemudian, banyak penelitian demografis menunjukkan perceraian cukup sering terjadi sekitar tahun ketujuh hingga kedelapan pernikahan. Menurut Roslina, kondisi tersebut bukan berarti semua pasangan pasti mengalami krisis, melainkan karena rutinitas dapat membuat suami dan istri perlahan merasa berjarak secara emosional.

Jadi yang terpenting bukanlah menghitung usia pernikahan atau menunggu momen liburan. Keharmonisan rumah tangga justru dibangun melalui komunikasi, perhatian, dan kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan bersama setiap hari.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PLN UIP JBB Dorong Kesadaran Pemilihan Sampah pada Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia
• 38 menit laludisway.id
thumb
Amankah Tubuh Digital Kita?
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Ruben Onsu Respons Santai Sarwendah Ikut-Ikutan Lapor Masalah Anak ke KPAI
• 9 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kronologi Warga Ketapang Hilang Usai Hadir di Acara Tunangan Anak, Tim SAR Lakukan Pencarian hingga Sisir Hutan
• 2 jam lalugrid.id
thumb
Bogor Hornbills Mengukir Sejarah dengan Menjuarai IBL 2026 Usai Menundukkan Pelita Jaya
• 18 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.