Warga merespons dengan satire kebijakan Transjakarta menutup rute 1N Tanah Abang–Blok M dan 10D Tanjung Priok–Kampung Rambutan setelah 30 Juni 2026. Mereka heran mengapa pemerintah ngebet membuka layanan sampai ke ujung dunia, misalnya, Transjabodetabek, tetapi menutup satu demi satu rute dalam kota.
Muncul pula tagar #DISINTEGRASI. Sebuah pertanyaan mengikutinya, ”kalau bisa transit, ngapain direct?.
Kebijakan terbaru itu pun mengundang keheranan pegiat transportasi. Apa sebenarnya tujuan Transjakarta. Manajemen ingin mempermudah pergerakanan warga ataukah mencari hal lain.
Pemerintah Provinsi Jakarta dalam keterangan resminya mengatakan, langkah tersebut adalah hasil evaluasi pola perjalanan pelanggan dan tingkat tumpang tindih layanan dengan rute lainnya pada koridor yang sama.
Ghaza Ataillah, pengguna Transjakarta dari Jakarta Timur menyayangkan penutupan rute 1N Tanah Abang–Blok M dan 10D Tanjung Priok–Kampung Rambutan. Apalagi penjelasan dari manajemen kurang memuaskan.
Ia biasanya naik Transjakarta rute 1N dari Blok M sepulang kerja ke Tanah Abang. Perjalanan ini untuk mengantar temannya ke Stasiun Tanah Abang.
"Harapanku Transjakarta bisa meninjau kembali penutupan tersebut. Data yang dilansir Forum Diskusi Transportasi Jakarta (FDTJ) menunjukkan rute 1N memiliki peminat yang tinggi. Kalau tumpang tindih dengan rute lain, seharusnya layanan transportasi publik bisa saling melengkapi satu sama lain, bukan hanya sekadar ada," kata Ghaza, Senin (29/6/2026).
Rute 1N adalah angkutan pengumpan yang menghubungkan pusat perbelanjaan dan perkantoran dari Tanah Abang, Sudirman, Senayan sampai Blok M. Adapun rute 10D sebagai bus rapid transit (BRT) menyambungkan area logistik di Tanjung Priok dan permukiman padat para pekerja hingga Kampung Rambutan.
Angkutan pengumpan (feeder) berfungsi sebagai angkutan umum yang menghubungkan penumpang dari berbagai titik perhentian di luar jalur utama BRT. Layanan ini membuat mobilitas menuju dan dari halte utama Transjakarta lebih mudah.
Sementara BRT merupakan layanan utama Transjakarta yang menggunakan lajur khusus (busway). Layanan BRT memungkinkan perjalanan lebih cepat dan efisien karena terbebas dari kemacetan lalu lintas di lajur umum.
Ghaza akan terus menyuarakan keresahan pengguna Transjakarta. Salah satunya melalui akun media sosial. Tujuannya ialah warga bisa menyadari dampak penutupan suatu rute.
Transjakarta dalam keterangan resmi Pemprov Jakarta menyebutkan bahwa 25 armada dapat dimanfaatkan lebih optimal untuk rute dengan kebutuhan perjalanan yang lebih tinggi dan mempersingkat waktu tunggu seiring penutupan rute 1N Tanah Abang–Blok M dan 10D Tanjung Priok–Kampung Rambutan.
Penutupan juga tidak mengurangi akses mobilitas warga karena alternatif perjalanan telah disiapkan. Pengguna rute 1N yang hendak ke Blok M dapat menggunakan rute 9D dari Tanah Abang, transit di perhentian bus Plaza Sentral, dan melanjutkan perjalanan menggunakan rute 1P.
Apabila ingin ke Tanah Abang, rute penggantinya adalah 1P dari Blok M. Kemudian, transit di perhentian bus Bendungan Hilir 3, dan melanjutkan perjalanan menggunakan rute 9D.
Sementara pengguna rute 10D yang akan ke Tanjung Priok bisa menggunakan rute 7F dari Halte Kampung Rambutan, transit di Halte Utan Kayu Rawamangun atau melanjutkan perjalanan menggunakan Koridor 10 Tanjung Priok-PGC.
Opsi lainnya adalah menggunakan Koridor 7 dari Halte Kampung Rambutan, transit di Halte Cawang Cililitan atau melanjutkan perjalanan menggunakan Koridor 10.
Sebaliknya untuk menuju Kampung Rambutan dapat menggunakan Koridor 10 dari Halte Tanjung Priok, transit di Halte Utan Kayu Rawamangun atau melanjutkan perjalanan menggunakan rute 7F.
Alternatif lainnya adalah menggunakan Koridor 10 dari Halte Tanjung Priok, transit di Halte Cawang Cililitan atau melanjutkan perjalanan menggunakan Koridor 7.
Direktur Utama PT Transportasi Jakarta Welfizon Yuza mengatakan, evaluasi layanan merupakan upaya memastikan jaringan angkutan umum tetap adaptif terhadap kebutuhan pelanggan. Seluruh fasilitas publik yang berada di sepanjang rute 1N (47 titik) dan 1N (68 titik) tetap diakomodasi dan dilayani dengan baik oleh rute alternatif.
“Kami secara berkala mengevaluasi setiap layanan berdasarkan pola perjalanan pelanggan dan kinerja operasional. Penyesuaian dilakukan agar armada dapat dimanfaatkan lebih optimal sekaligus menjaga kualitas layanan secara keseluruhan,” kata Welfizon pada Jumat (26/6/2026).
Forum Diskusi Transportasi Jakarta menilai alasan Transjakarta tidak masuk akal. Tumpang tindih layanan bukan sesuatu yang buruk dari kacamata penumpang karena redundansi layanan dapat menambah frekuensi bus.
"Kami rasa justru tujuan optimalisasi ini malah hanya akan menjadi bumerang bagi 60.000 pengguna rute 1N setiap bulannya. Menyuruh orang transit pindah bus hanya akan menambah tantangan warga untuk naik bus karena kita dipaksa menambah waktu tempuh dengan bus 10-15 menit, dan bayar 2 kali untuk transit. Ini malah hanya akan membuat orang enggan naik bus," tutur Direktur Eksekutif 1 FDTJ Adriansyah Yasin Sulaeman pada Senin.
FDTJ pun mempertanyakan keseriusan Pemprov Jakarta untuk mengembangkan layanan dalam kota. Jangan sampai fokus perluasan layanan ke aglomerasi melalui Transjabodetabek mengorbankan rute dalam kota.
"Warga Jakarta malah kesannya harus berkorban," ujar Adriansyah.
Saat awal menjabat, Gubernur Jakarta Pramono Anung merasakan sendiri repotnya berpindah rute Transjakarta. Saat itu, ia mengawali perjalanan dari rumah dinas di Jalan Taman Suropati Nomor 7, Menteng, Jakarta Pusat pada Rabu (30/4/2025) pagi.
Pramono naik Transjakarta menuju lokasi musyawarah Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jakarta di Hotel Balaiurang, Matraman, Jakarta Timur. Politisi PDI-P tersebut berjalan kaki ke Halte Taman Suropati dan menunggu kedatangan bus untuk melanjutkan perjalanan dengan Rute 4C JIEP ke Bundaran Senayan.
Pramono melewati lima halte sebelum turun di Halte RS Carolus untuk transit. Dari lokasi terakhir, perjalanannya berlanjut dengan Rute 5M Kampung Melayu ke Tanah Abang sebelum turun di Halte Matraman.
Dari lokasi terakhir, ia melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke Hotel Balairung. Secara keseluruhan perjalanan Pramono melewati delapan titik pemberhentian dari Halte Taman Suropati hingga Halte Matraman.
Di dalam perjalanan, ia berbincang dengan bapak-bapak. Warga ini setiap harinya harus delapan kali berpindah rute.
Menurut Pramono, transportasi umum di Jakarta sudah dimanfaatkan oleh warga. Namun, masih perlu perbaikan agar kian baik. ”Konektivitasnya belum maksimal sehingga secara keseluruhan masih perlu diperbaiki,” kata Pramono.
Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Jakarta menyoal hal serupa. Pertama, tujuan Transjakarta untuk mempermudah pergerakan orang ataukah mencari keuntungan.
Kedua, rute overlap atau dua atau lebih trayek melayani koridor yang sama dalam suatu wilayah.
"Apakah sudah dilihat perilaku penggunanya. Apa penggunanya betulan overlap atau jangan-jangan beneran beda walaupun di rute sama. Lalu yang terpenting itu justru ditanya efek ke pengguna kalau rute diubah. Seberapa besar waktu dan usaha yang harus dilakukan untuk naik tujuan yang sama," ucap Yusa.
Rute 1N cukup ramai, terutama dari Tanah Abang. Salah satu imbasnya adalah penumpang menambah biaya untuk transit dan menambah waktu tunggu karena menunggu bus lanjutan.
Menurut Yusa, proses transit sebenarnya paling membuat stres pengguna angkutan. Ini terjadi saat menuju halte dan menunggu kendaraan.
"Kalau sudah di kendaraan, mau macet, desak-desakan, relatif tenang. Nah, menambah titik transit sebenarnya menambah stres. Kompensasinya apa karena rawan membuat citra layanan angkutan jadi buruk," kata Yusa.
Wakil Ketua Inisiatif Strategis Transportasi (Instran) itu menambahkan bahwa ada hal lain yang tak kalah penting. Layanan bus memang fleksibel. Namun, harus dihindari terlalu sering mengutak-atik rute yang sudah berjalan karena warga butuh kepastian rute dan jadwal.
Ketika warga terlalu sering mengecek rute masih berjalan atau tidak dan tiba-tiba ada perubahan maka bisa kembali ke kendaraan pribadi. Sebab, pengguna angkutan umum rutin itu biasanya punya kegiatan rutin dan tetap.
"Mereka ini sangat sensitif pada perubahan pola mobilitas. Jika ada perubahan maka pilihannya dua, antara bisa menyesuaikan atau ganti moda," ucap Yusa.
Oleh sebab itu, sangat penting analisis sejauh mana urgensi penyesuaian layanan tersebut. Isu keberlanjutan layanan sangat penting dipikirkan sejak awal, baik rute, tarif, armada, dan jadwal.
"Tujuannya mendapat kepercayaan warga untuk mau pindah moda. Artinya, kebijakan berbasis analisis yang jelas," ujar Yusa.





