Sensasi Menatap New York dari Atap

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Bagi sebagian orang, rooftop mungkin hanyalah atap bangunan. Namun, di New York, Amerika Serikat, ruang itu menyimpan sejarah panjang tentang cara warga menikmati kota hingga menghadapi keterbatasan lahan, cuaca panas, dan pandemi Covid-19. Cobalah ke atap!

Tidak sulit menemukan rooftop” di New York, yang dikenal dengan gedung-gedung pencakar langitnya. Banyak hotel, restoran, hingga perkantoran memiliki rooftop atau teras atap. Di sana, pengunjung bersantai untuk mengobrol sambil minum wine atau makan malam.

Begitu pula ketika kami, jurnalis dari sejumlah negara, sampai di Manhattan, New York, pada Minggu (31/5/2026) sore waktu setempat. Kedatangan kami untuk menghadiri undangan media trip dari perusahaan teknologi IBM (International Business Machines Corporation).

Baca JugaMengintip ”Dapur” Komputer Kuantum IBM, Tempat Meramu Masa Depan

Setelah tiba, kami diajak santap malam di rooftop hotel tempat kami menginap. ”Saya berharap bisa bertemu Anda dalam makan malam santai jam enam di rooftop hotel. Datanglah jika ada waktu,” ucap Carrie Bendzsa, kepala komunikasi IBM untuk kawasan Amerika, via saluran percakapan.

Namun, Carrie dan kami cukup kaget ketika mengetahui ternyata rooftop yang dimaksud berada di lantai 2. Bahkan, beberapa dari kami berencana naik ke lantai 45, area paling tinggi.

Carrie beberapa kali meminta kami memaklumi bahwa rooftop untuk makan malam ternyata hanya berada satu lantai di atas lobi hotel. Kami tersenyum dan tidak menganggapnya sebagai masalah. Kami justru menikmati obrolan sambil mencicipi nachos, kentang, dan ayam goreng.

”Tetapi, besok, kita akan menikmati rooftop yang sebenarnya,” ujar Carrie sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengah sebagai tanda petik untuk kata rooftop. Seperti tertera di jadwal, Carrie memang menjanjikan pesta di teras atap gedung pada Senin (1/6/2026) waktu setempat.

Setelah hampir seharian meliput pengembangan komputer kuantum di pusat riset IBM, Thomas J Watson Research Center, di Yorktown Heights, New York, kami akhirnya kembali ke Manhattan. Carrie lalu mengajak kami ke teras atap di Guardian at The W, 201 Ave Street.

Bar teras atap yang baru diluncurkan pada Maret lalu itu menyatu dengan Hotel W New York-Union Square, bagian dari Marriott Bonvoy. Sebelum ke atap, petugas terlebih dahulu mengecek setiap nama undangan. Kami lalu menaiki lift dan menuju lantai 21, tempat penyimpanan barang sebelum ke atap.

Gedung ikonik

Dari rooftop yang berada hampir 200 kaki di atas permukaan jalan, kami menyaksikan Manhattan dari sudut pandang berbeda. Gedung perkantoran, apartemen, hingga pusat perbelanjaan berjejer rapi. Beberapa gedung pencakar langit juga terlihat, seakan menyentuh awan putih yang menggelayut.

Salah satu yang tampak adalah One World Trade Center (WTC), gedung dengan ketinggian mencapai 541 meter. Gedung tertinggi di AS ini hampir empat kali lipat lebih tinggi dari Monumen Nasional (Monas). Gedung ini mulai dibangun pada 2006, setelah peristiwa tragedi 9/11.

Tidak hanya gedung tertinggi, dari atap teras, kami juga menyaksikan sederet bangunan bersejarah. Salah satunya gedung Metropolitan Life Insurance atau yang dikenal sebagai Menara Jam di Madison Avenue. Seperti namanya, gedung ini menampilkan jam dinding raksasa.

Gedung setinggi 213 meter ini berdiri sejak 1909 dan menjadi bangunan tertinggi di dunia kala itu. Bangunan yang dirancang arsitek Napoleon LeBrun ini terinspirasi dari menara jam serupa di Venesia, Italia. Bahkan, jam dinding di gedung ini termasuk yang terbesar.

Rooftop tempat kami berpijak juga bagian dari gedung bersejarah yang dibangun pada 1910-1911. Bangunan itu dulu adalah kantor pusat perusahaan asuransi Jerman. Pemandangan gedung-gedung ikonik ini ”mendinginkan” kepala kami setelah meliput komputer kuantum. 

Apalagi, pramutama bar (bartender) menyediakan bir, martini klasik, dan aneka koktail, seperti union square spritz. Jika tidak ingin minuman beralkohol, Anda dapat memesan kola. Pramusaji juga berkeliling menghidangkan makanan ringan, seperti sliders hingga tuna tartare.

Meskipun tersedia tempat duduk dan sofa, sebagian besar dari puluhan pengunjung lebih memilih berdiri sembari memandang langit dan gedung-gedung. Ada juga yang menyendiri sambil menggoyangkan badan, mengikuti irama musik dengan ketukan cepat dan semangat.

Suara mereka seperti beradu dengan embusan angin yang cukup menderu. Suhu 17 derajat celsius cukup membuat saya memeluk tubuh sendiri karena kedinginan. Sementara bagi pengunjung lain, suhu itu biasa saja. Malah sebagian besar tamu tidak mengenakan jaket.

Pengunjung lain memilih mengabadikan pemandangan dengan telepon pintarnya. Tidak ketinggalan untuk menunaikan swafoto bersama. Meski dipenuhi pengunjung, keamanan rooftop tetap terjaga. Petugas keamanan siaga memastikan okupansi di atap itu tidak lebih dari 111 orang.

Sejumlah pengunjung menanti panorama matahari terbenam di antara gedung. Tidak seperti di Indonesia di mana senja datang sekitar pukul 18.00, matahari di New York turun ke peraduan menjelang pukul 20.00. Namun, sunset saat itu terhalang gumpalan awan.

Meskipun tidak menyaksikan matahari terbenam sempurna, Jana Unterrainer, pengunjung, merasa puas menikmati New York dari teras atap. ”Beberapa tahun lalu, saya pernah ke sini selama satu bulan. Tapi, belum pernah naik ke rooftop,” ucap perempuan asal Austria ini.

Baca JugaJajan Sambil Memandangi Pencakar Langit di Kafe ”Rooftop”

Di Austria, katanya, gedung-gedung tidak setinggi di New York. Bangunan tertinggi di negara itu adalah DC Tower 1 di Vienna dengan ketinggian 220 meter. ”Di Austria, bar di teras atap juga tidak sebanyak di sini. Pengunjung paling biasanya jalan-jalan ke bangunan museum,” katanya. 

Itu sebabnya, Jana takjub dengan atap yang disulap menjadi bar di New York, terutama Manhattan. Selain di Guardian at The W, bar teras atap lainnya adalah Bar 54 di lantai 54 Hyatt Centric Times Square, hingga Dear Irving on Hudson di lantai 41 Aliz Hotel Times Square.

Sejarah ”rooftop”

Belum ada data pasti jumlah teras atap di New York. Namun, menurut The Rooftop Guide (TRG), lembaga yang berbasis di Swedia dan fokus mengeksplorasi teras atap di dunia, diperkirakan terdapat lebih dari 200 rooftop di kota itu. TRG memperkirakan, terdapat lebih 2.500 rooftop di 200 kota populer dunia.

Dalam sejarahnya, menurut majalah Turf, teras atap atau yang juga disebut taman atap pertama kali diperkenalkan pada tahun 1463 berdasarkan pesanan Paus Pius II di Pienza, Italia. Di AS, teras atap mulai populer di New York pada dekade 1890-an. Sebelum itu, atap-atap bangunan hanya diisi jemuran.

Wayne Curtis dalam artikelnya berjudul ”The History of New York Rooftop Bars” di Imbibe Magazine pada 3 September 2015 menuliskan, awal mula tradisi minum-minum di atap dimulai dengan pembukaan Casino Theater di persimpangan Broadway dan 39th Street.

Rooftop Casino Theater pada awalnya dirancang sebagai tempat pengunjung dapat duduk sejenak di udara terbuka, lalu menikmati minuman yang menyegarkan dan mendengarkan musik yang dimainkan orkestra kecil. Suara-suara dari jalanan nyaris tak terdengar dari atap tersebut.

Namun, terdapat satu yang belum memuaskan, yakni hidangan minuman di acara itu. Pengunjung lalu menuntut adanya minuman yang pas, seperti wiski. Konsep menikmati minuman di teras atap ini kemudian menyebar ke banyak gedung di kota.

Manhattan miskin lahan, tetapi kaya akan atap bangunan. Kompleks-kompleks ”rooftop” pun bermunculan.

”Manhattan miskin lahan, tetapi kaya akan atap bangunan. Kompleks-kompleks rooftop pun bermunculan dari Battery hingga Bronx, banyak di antaranya meniru konsep taman bir,” tulis Curtis. Apalagi ketika musim panas, warga mencari semilir angin dengan naik ke atap gedung.

Monika Hankova dalam tulisannya di Untapped Cities pada 3 Juli 2020 mencatat, teras atap menjadi pelarian warga dari jalanan yang sesak dan bangunan rumah petak yang padat penghuni. Pada abad ke-19, satu apartemen bisa dihuni lebih dari 10 orang. ”Rooftop setidaknya menawarkan sedikit privasi dan embusan angin yang lebih sejuk,” tulisnya.

Pada abad ke-21, teras atap menemukan momentumnya kembali, tepatnya pada masa pandemi Covid-19. Ketika pandemi melanda, warga New York menjalani karantina dan terkurung di apartemen serta studio mereka yang sempit. Mereka pun mencari ruang luar yang aman untuk menghirup udara segar.

Rooftop pun menjadi ruang terbuka yang paling diburu karena tidak hanya menawarkan semilir angin segar, tetapi juga memberikan jarak dari jalanan yang mungkin dipenuhi virus Covid-19,” tulisnya. Teras atap jadi tempat olahraga, berjemur, berkebun, hingga berkarya seni. 

Kini, teras atap masih menjadi pilihan warga dan pengunjung untuk beraktivitas, terutama menikmati panorama kota. Dari atas atap, Anda bisa melihat langit biru atau gemerlap lampu gedung pada malam hari. Berada di ketinggian, pandangan Anda lebih luas, tidak dibatasi tembok.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Buntut Dugaan Fitnah yang Dialami, Pekerjaan Sarwendah Ikut Terdampak
• 1 jam lalugrid.id
thumb
IRGC Klaim Hancurkan Delapan Fasilitas Militer AS di Kuwait dan Bahrain
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Nestapa Anak di Surabaya Dihamili Ayah Kandungnya
• 3 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Siap-Siap Diserbu Rezeki! 6 Zodiak Paling Bercuan Deras pada 30 Juni 2026: Libra di Puncak Keberuntungan
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
IHSG Hari Ini Berpotensi Sideways di 5.850-6.000, Simak Analisa Enam Saham Berikut
• 11 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.