Kini, di Piala Dunia 2026, Kylian Mbappé kembali mengenakan ban kapten Prancis. Sang Kapten muda kembali mencetak gol. Kembali memimpin Les Bleus lolos dari fase grup. Kembali menjadi pusat perhatian jutaan pasang mata.
Ironisnya, beban itu tidak pernah menjadi lebih ringan justru semakin besar. Dan semuanya bermula pada satu malam di Final Piala Dunia 2022.
Final Piala Dunia 2022 memasuki menit-menit yang dikenang sejarah. Seorang anak muda berusia 23 tahun mengenakan nomor 10 berlari tanpa lelah. Satu gol. Dua gol. Tiga gol. Stadion bergemuruh.
Prancis yang hampir menyerah kembali hidup karena kakinya. Namun beberapa menit kemudian, kamera menangkap sebuah pemandangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Kylian Mbappé berdiri memegang Golden Boot sebagai pencetak gol terbanyak turnamen. Di sisi lain lapangan, trofi Piala Dunia berada di tangan seniornya, Lionel Messi.
Pada kepingan kenangan tengah malam itu saya sadar, ada sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada kalah. Yaitu menjadi hebat terlalu cepat. Karena yang paling berat dari Kylian Mbappé bukanlah kecepatannya. Melainkan harga yang harus dibayar karena kehebatannya datang terlalu dini.
Sulit membayangkan bahwa remaja yang malam itu berdiri di bawah sorotan miliaran pasang mata pernah tumbuh di Bondy, kawasan pinggiran Paris yang lebih sering diberitakan karena persoalan sosial daripada karena melahirkan bintang sepak bola. Di sanalah Mbappé dibesarkan. Ayahnya, Wilfried Mbappé, melatih sepak bola anak-anak. Ibunya, Fayza Lamari, adalah mantan atlet bola tangan.
Rumah itu tidak pernah menjanjikan bahwa seorang anak akan menjadi legenda. Tetapi rumah itu mengajarkan sesuatu yang jauh lebih penting. Disiplin. Kerja keras. Dan keyakinan bahwa mimpi tidak pernah datang lebih dulu daripada latihan.
Di dinding kamarnya pernah tergantung poster CR7, Messi dan legenda lapangan hijau lainnya. Seperti jutaan anak lain di seluruh dunia, Mbappé pernah bermimpi menjadi pemain hebat. Bedanya, mimpi itu benar-benar menjadi kenyataan.
Clairefontaine membentuknya. AS Monaco memperkenalkannya kepada dunia. Pada usia 19 tahun, ia membawa Prancis menjuarai Piala Dunia 2018. Seluruh dunia bersorak.
Tetapi mungkin, pada hari yang sama, dunia juga tanpa sadar mengambil sesuatu darinya. Hak untuk menjadi anak muda biasa. Sejak hari itu Mbappé tidak lagi diperlakukan sebagai pemain muda, namun menjelma menjadi harapan. Simbol. Sekaligus wajah masa depan sepak bola Prancis.
Ironisnya, ketika seseorang menjelma menjadi simbol, dunia sering kali lupa bahwa ia tetap manusia. Kalau pemain muda lain gagal, orang berkata, "Tidak apa-apa. Dia masih belajar." Tetapi ketika Mbappé gagal? Headline pemberitaan berubah. Media sosial dipenuhi penilaian. Perdebatan datang dari segala arah.
Bukan karena kesalahannya selalu lebih besar. Melainkan karena harapan yang diletakkan di pundaknya jauh lebih berat. Semakin hebat seseorang, semakin kecil ruang yang diberikan dunia untuk gagal.
Lalu datang malam Final Piala Dunia 2022. Mbappé melakukan hampir semua hal yang mungkin dilakukan seorang pemain. Ia mencetak hattrick di partai final. Salah satu penampilan terbesar dalam sejarah Piala Dunia. Namun hidup tetap berkata, "Belum."
Di situlah saya belajar bahwa kadang-kadang penampilan terbaik tidak selalu menghasilkan akhir terbaik. Mungkin seperti itulah hidup. Ada orang yang bekerja paling keras tetapi promosi diberikan kepada orang lain. Ada yang sudah melakukan segalanya dengan benar tetapi tetap gagal. Ada yang memikul tanggung jawab paling besar tetapi justru menerima kritik paling banyak.
Baca Juga :
Hasil Pertandingan Norwegia vs Prancis: Dembele Hattrick, Les Bleus Puncaki Klasemen Grup IEmpat tahun berlalu. Piala Dunia berganti. Tetapi cerita Mbappé ternyata belum selesai. Di Piala Dunia 2026 ia kembali menjadi kapten. Kembali menjadi tumpuan Prancis. Kembali mencetak gol. Kembali membawa negaranya melaju dengan performa meyakinkan.
Anehnya, tidak banyak yang berkata, "Luar biasa." Sebagian besar justru berkata, "Memang sudah seharusnya."
Barangkali di situlah kutukan itu bekerja. Keberhasilan tidak lagi dianggap pencapaian. Namun berubah menjadi kewajiban.
Masalahnya, kita hidup di zaman yang terlalu cepat mengubah manusia menjadi simbol. Begitu seseorang sukses, kita berhenti melihat manusianya. Kita hanya melihat prestasinya. Begitu seseorang terkenal, kita berhenti melihat prosesnya. Kita hanya melihat hasil akhirnya.
Padahal di balik setiap pencapaian selalu ada manusia yang masih belajar menghadapi rasa takut. Keraguan. Dan kegagalan.
Mungkin karena itu dunia terus membandingkan Mbappé dengan Messi. Lalu membandingkannya lagi dengan Cristiano Ronaldo. Seolah-olah menjadi diri sendiri tidak pernah cukup. Padahal setiap manusia memiliki garis waktunya sendiri.
Mbappé tidak harus menjadi Messi. Pula tidak harus menjadi Ronaldo. Mbappé hanya perlu menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.
Dari Sang Kapten Prancis, kita sebenarnya belajar sesuatu yang jauh lebih besar daripada sepak bola. Mungkin kita semua pernah menjadi Mbappé. Menjadi anak yang selalu diandalkan. Menjadi pegawai yang dianggap tidak boleh salah. Menjadi pemimpin yang dituntut selalu kuat. Menjadi seseorang yang perlahan lebih dikenal karena perannya daripada karena dirinya.
Di titik itulah saya menyadari, di balik setiap legenda, di balik setiap juara, dan di balik setiap simbol akan selalu ada seorang manusia. Manusia yang bisa lelah, bisa ragu, bisa gagal, dan masih terus belajar.
Hari ini Mbappé masih berlari. Mungkin saja akan kembali mencetak gol. Mungkin akan kembali membawa Prancis melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026.
Tetapi saya berharap, di tengah semua tepuk tangan itu kita tidak lupa memberi satu hal yang juga pantas dimiliki setiap manusia. Hak untuk gagal. Hak untuk belajar. Hak untuk bertumbuh.
Karena keberhasilan yang datang terlalu cepat sering kali tidak mencuri kebebasan seseorang. Namun mencuri sesuatu yang jauh lebih mahal. Yaitu, hak untuk tetap dianggap manusia.
Dan, mungkin itulah kutukan terbesar menjadi hebat yang terlalu cepat. Bukan karena hidup menjadi lebih berat. Melainkan karena dunia terlalu cepat mengubah manusia menjadi simbol. Dan sayangnya, lupa memperlakukannya sebagai manusia.
Lalu, bagaimana dengan Si Anak Ajaib, Lamine Yamal? Tunggu ceritanya.
Halo sobat Medcom, buat kalian yang suka nonton bola dan nebak skor pertandingan, yuk ikutan lomba tebak skor Medcom.id yang akan hadir setiap hari dari fase grup hingga final. Nah, kita udah siapin hadiah menarik senilai jutaan rupiah buat kalian yang paling banyak menebak skor pertandingan dengan benar. So, tunggu apa lagi, yuk, daftar di sini.
(N.D. Santoso)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ASM)





