REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/ AI) menghadirkan tantangan baru bagi dunia pendidikan Islam. Di satu sisi AI menawarkan kemudahan dalam proses belajar, namun di sisi lain kehadirannya dianggap tidak boleh menggeser tradisi keilmuan yang selama ini bertumpu pada hubungan langsung antara kiai dan santri.
Direktur Pesantren Kementerian Agama (Kemenag), Kiai Basnang Said mengatakan, tantangan terbesar dunia pendidikan Islam di era kecerdasan buatan atau AI adalah bagaimana teknologi tersebut dapat diterima di lingkungan pesantren tanpa menghilangkan tradisi keilmuan yang selama ini menjadi ciri khas pesantren. Menurut Kiai Basnang, langkah awal yang perlu dilakukan adalah membangun komunikasi dengan para kiai dan pengasuh pesantren agar AI dapat dimanfaatkan secara tepat di lingkungan pondok pesantren. "Tantangan pertama tentu kita harus pelan-pelan masuk ke pesantren, utamanya melakukan komunikasi kepada kiai dan pengasuh pesantren agar AI ini tetap bisa masuk ke dalam pondok, tetapi kemudian tidak menjadi persoalan besar bagi pesantren," kata Kiai Basnang kepada Republika di acara AI Teaching Power Impact Forum yang diselenggarakan oleh NU Care Global dan Microsoft, Senin (29/6/2026) .rec-desc {padding: 7px !important;} Ia menjelaskan, pesantren memiliki tradisi pembelajaran yang menekankan pertemuan langsung antara santri dan kiai. Karena itu, kehadiran AI tidak boleh mengikis budaya belajar yang telah lama berkembang di pesantren.
Baca Juga
- Upah Memprihatinkan, Kemenag Harap Insentif Rp 1 Juta untuk Guru Honorer Madrasah Terealisasi 2027
- Menelusuri Jejak Perang Uhud di Makam Para Syuhada, Petik Ibrah dari Ketaatan kepada Allah dan Rasul
- Pemuda Nasdem Pakai Padel untuk Dekati Gen Z Jelang Kongres
Ciri khas santri yang belajar di pesantren - (Republika)
Loading...
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; } Advertisement




