Perkembangan teknologi yang semakin modern, termasuk di sektor keuangan, hampir menyasar seluruh lapisan masyarakat. Perkembangan zaman ini juga dirasakan pedagang di 'pasar senggol' Rawa Belong. Arif, pedagang daging sapi, terus berjuang dengan usahanya serta menyesuaikan diri dalam hal pembayaran.
Arif sudah berdagang di Jl Ayub Gg Yahya, Sukabumi Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, sejak berusia 16 tahun. Lokasi usahanya berada di sepanjang Jl Ayub yang pagi hari berubah menjadi 'pasar senggol'. Di situ, Arif tak sendirian menjual daging sapi, ada beberapa kompetitor lain.
Ditemui pada Minggu (21/6) sekitar pukul 10.20 WIB lalu, Arif tengah melepas penatnya. Sesekali dirinya mengobrol dengan teman di pasar sembari bermain telepon genggam pintar miliknya. Maklum, tokonya buka sejak pukul setengah enam pagi dan hari itu dagangan Arif baru laku 3 kilogram.
"Iya dari awal di sini jualan," ujar Arif membuka obrolan.
Arif tepatnya mulai berjualan daging sejak 1994 alias ketika masih bujangan. Sekitar 30 tahunan berjualan, Arif menceritakan bagaimana caranya menggaet pelanggan hingga berhadapan dengan beragam karakter pembeli.
"Nyari pelanggan kan nggak mudah. Kita harus face to face atau memasarkannya dengan lugas. Kita mengikuti keinginan customer. Daging, daging sapi ya, daging sapi. Kadang-kadang ada yang request (daging kambing)," kata dia.
Arif mengambil stok daging dari vendor. Ketika ditemui hari itu, Arif menyebut harga daging per kilonya mencapai Rp 170 ribu. Sejak awal tahun ini, Arif bisa menjual minimal 15 hingga 20 kilogram daging dalam sehari.
"Mulai buka setengah enam pagi. Tutup enggak pasti, tergantung rame enggaknya pasar. Ada jam 10.00, jam 11.00, jam setengah 12. Kadang kalau lagi ya nggak mood ya jam 09 aja udah tutup. Saat rata ini, dari awal 2026 minimal 15 kilo 15 kilo, maksimal 20 kilo, maksimal," tutur dia.
Terlepas dari cerita soal perjalanannya dalam merintis usaha daging sapi, Arif berharap harga daging sapi bisa stabil kembali. Menurut Arif, harga daging sapi sejak awal 2026 sangat tidak terkendali. Arif mengaku tidak tahu apa penyebab di balik semua ini.
"Sebagai pedagang sama pembeli, ya stabil dah, stabil. Stabil harga maksudnya, stabil harga. Pembeli bisa membeli, penjual bisa menjual dengan layak. Kenapa ini dari awal 2026 sampai sekarang lagi berjalan tidak terkendali. Tidak terkendali, entah itu apa sebabnya," kata Arif,
Pakai QRIS, Pelanggan TerbantuSetelah berjualan 30 tahunan lamanya, Arif mulai memakai QRIS BRI sebagai salah satu metode pembayaran. Langkah ini diambilnya bukan tanpa alasan. Banyak pelanggan, kata Arif, yang menawarkannya untuk memakai QRIS.
Salah satu pelanggan itu, katanya, orang BRI. Pada akhirnya, Arif memilih menggunakan QRIS. Menurutnya, dirinya mengikuti zaman saja karena bisa mempermudah pembeli juga.
"Kalo QRIS mah baru kali 3 bulan. Banyak pelanggan saya, pelanggan saya yang menawarkan. Customer saya kan istilahnya ada yang bekerja di... sebagai teras BRI (Kapal Teras BRI Bahtera Seva), apa, yang suka belanja sama saya menawarkan gitu, menawarkan. Itu mempermudah aja, ngikutin zaman aja gitu," kata Arif.
Menurut Arif, pedagang lain di pasar senggol ini juga ditawarkan untuk menggunakan QRIS oleh orang BRI. Berdasarkan pengamatan detikcom di lokasi, memang beberapa pedagang di sana sudah mulai memakai QRIS sebagai opsi pembayaran bagi pembeli.
Baru 3 bulan memakai QRIS, Arif masih harus menyesuaikan diri, salah satunya saat hendak membayar ke vendor dagingnya. "Kalau penjualan saya kan daging, sapi, ngambil barang dagangan, pagi, sore harus disetorkan. Untung rugi vendor itu nggak mau tahu. Habis nggak habis dagangan saya, khususnya daging sapi, harus disetorkan sesuai harga dari sana. Begitu. Makanya kalau pakai itu QRIS kadang-kadang kita harus mencairkan dulu," sebut dia. Potongan juga ada.
Cerita datang dari salah satu pembeli daging di tempat Arif yang bernama Topik. Topik mengaku baru-baru ini menjadi langganan daging sapi Arif. Biasanya, dia berpindah-pindah toko saat berbelanja daging di pasar senggol Rawa Belong ini.
"Saya belakangan sering beli daging di abang ini. Dulu sih muter-muter aja ke pedagang yang lain, cuma akhirnya sreg sama yang ini," kata dia.
Topik dulu masih membayar tunai saat berbelanja di tempat Arif. Dia pun menyambut kehadiran QRIS di toko Arif yang disebutnya sangat membantu jika tiba-tiba uang tunainya kurang saat berbelanja di pasar ataupun kelupaan membawanya.
"Kemarin-kemarin kaga ada QRIS, sekarang dia pake. Ya baguslah, seneng juga, lebih gampang buat kita belanja lah, kalo-kalo kurang bawa duit atau malah lupa," kata dia.
Cerita serupa datang dari Ayu. Warga sekitar Rawa Belong ini menyebut QRIS di zaman sekarang sangat dibutuhkan pembeli. Terlebih, katanya, bagi yang suka lupa membawa uang tunai ataupun untuk berjaga-jaga jika kurang membawa duit.
"Seneng sih ada QRIS sekarang. Ini daging tadi suami yang beli, katanya sekarang sudah ada QRIS di toko itu. Sangat, sangat membantu ya, apalagi zaman sekarang, gitu. Kayak sebaiknya memang setiap toko ataupun tempat jualan nyediain opsi QRIS sih," sebut dia ditemui di sekitar pasar.
(gbr/gbr)





