Yogyakarta (ANTARA) - Sekretaris Jenderal ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA) Chem Widhya menilai Indonesia memiliki tanggung jawab khusus dalam menjaga dan memperkuat perdamaian di kawasan Asia Tenggara di tengah meningkatnya dinamika geopolitik global.
Pernyataan tersebut disampaikan Chem Widhya dalam kegiatan "26th AIPA Roadshow: Parliamentary Diplomacy and Youth Leadership in ASEAN" di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Yogyakarta, Senin.
Menurut dia, Indonesia sebagai salah satu negara pendiri ASEAN sekaligus negara anggota terbesar memiliki peran strategis dalam memastikan nilai-nilai perdamaian yang terkandung dalam "Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia" (TAC) tetap menjadi pedoman bagi negara-negara di kawasan.
"Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia" (TAC) adalah warisan Indonesia karena ditandatangani di Indonesia. Sebagai negara anggota terbesar, Indonesia memiliki tanggung jawab khusus untuk memastikan TAC tetap menjadi pedoman yang hidup bagi kawasan," kata Chem Widhya.
Ia menegaskan TAC bukan sekadar dokumen sejarah, melainkan fondasi hubungan damai antarnegara Asia Tenggara yang telah berkontribusi menjaga stabilitas kawasan selama hampir enam dekade.
Baca juga: Pakar: Indonesia dapat menjadi penengah perdamaian antara Iran dan AS
Menurut Chem Widhya, ASEAN berpotensi kehilangan arah dalam menyelesaikan berbagai sengketa dan tantangan regional apabila nilai-nilai yang terkandung dalam TAC tidak terus diimplementasikan secara aktif.
"Indonesia memiliki tanggung jawab untuk memastikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya terus dijalankan agar ASEAN tetap bersatu dan mampu menghadapi tantangan sistem internasional yang terus berubah," ujarnya.
Ia menambahkan keberhasilan ASEAN menjaga stabilitas kawasan selama ini tidak terlepas dari komitmen negara-negara anggota untuk mengedepankan dialog dan kerja sama dibandingkan konfrontasi.
Karena itu, Indonesia sebagai penggagas lahirnya TAC diharapkan terus memainkan peran penting dalam memperkuat kepercayaan dan kerja sama antarnegara anggota ASEAN.
"ASEAN harus tetap bersatu. Indonesia memiliki peran krusial dalam menjaga agar semangat dialog menjadi jalan utama dalam menghadapi tantangan baru, serta memastikan kawasan tetap stabil dan damai di masa depan," katanya.
Baca juga: Prabowo tegaskan ASEAN harus jadi teladan perdamaian dunia
Kegiatan AIPA Roadshow di UMY menjadi forum untuk memperkuat pemahaman mengenai diplomasi parlemen dan kepemimpinan pemuda ASEAN di tengah meningkatnya tantangan geopolitik global.
Melalui pelibatan generasi muda dan penguatan kerja sama parlemen, nilai-nilai perdamaian yang terkandung dalam TAC diharapkan tetap relevan dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA) adalah badan parlemen regional yang berfungsi sebagai pusat komunikasi, informasi, dan kerja sama antar-parlemen negara-negara anggota ASEAN.
AIPA menjadi satu-satunya platform resmi bagi para perwakilan parlemen di Asia Tenggara untuk saling bertukar pandangan dan menyelaraskan hukum di kawasan.
Pernyataan tersebut disampaikan Chem Widhya dalam kegiatan "26th AIPA Roadshow: Parliamentary Diplomacy and Youth Leadership in ASEAN" di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Yogyakarta, Senin.
Menurut dia, Indonesia sebagai salah satu negara pendiri ASEAN sekaligus negara anggota terbesar memiliki peran strategis dalam memastikan nilai-nilai perdamaian yang terkandung dalam "Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia" (TAC) tetap menjadi pedoman bagi negara-negara di kawasan.
"Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia" (TAC) adalah warisan Indonesia karena ditandatangani di Indonesia. Sebagai negara anggota terbesar, Indonesia memiliki tanggung jawab khusus untuk memastikan TAC tetap menjadi pedoman yang hidup bagi kawasan," kata Chem Widhya.
Ia menegaskan TAC bukan sekadar dokumen sejarah, melainkan fondasi hubungan damai antarnegara Asia Tenggara yang telah berkontribusi menjaga stabilitas kawasan selama hampir enam dekade.
Baca juga: Pakar: Indonesia dapat menjadi penengah perdamaian antara Iran dan AS
Menurut Chem Widhya, ASEAN berpotensi kehilangan arah dalam menyelesaikan berbagai sengketa dan tantangan regional apabila nilai-nilai yang terkandung dalam TAC tidak terus diimplementasikan secara aktif.
"Indonesia memiliki tanggung jawab untuk memastikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya terus dijalankan agar ASEAN tetap bersatu dan mampu menghadapi tantangan sistem internasional yang terus berubah," ujarnya.
Ia menambahkan keberhasilan ASEAN menjaga stabilitas kawasan selama ini tidak terlepas dari komitmen negara-negara anggota untuk mengedepankan dialog dan kerja sama dibandingkan konfrontasi.
Karena itu, Indonesia sebagai penggagas lahirnya TAC diharapkan terus memainkan peran penting dalam memperkuat kepercayaan dan kerja sama antarnegara anggota ASEAN.
"ASEAN harus tetap bersatu. Indonesia memiliki peran krusial dalam menjaga agar semangat dialog menjadi jalan utama dalam menghadapi tantangan baru, serta memastikan kawasan tetap stabil dan damai di masa depan," katanya.
Baca juga: Prabowo tegaskan ASEAN harus jadi teladan perdamaian dunia
Kegiatan AIPA Roadshow di UMY menjadi forum untuk memperkuat pemahaman mengenai diplomasi parlemen dan kepemimpinan pemuda ASEAN di tengah meningkatnya tantangan geopolitik global.
Melalui pelibatan generasi muda dan penguatan kerja sama parlemen, nilai-nilai perdamaian yang terkandung dalam TAC diharapkan tetap relevan dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA) adalah badan parlemen regional yang berfungsi sebagai pusat komunikasi, informasi, dan kerja sama antar-parlemen negara-negara anggota ASEAN.
AIPA menjadi satu-satunya platform resmi bagi para perwakilan parlemen di Asia Tenggara untuk saling bertukar pandangan dan menyelaraskan hukum di kawasan.





