Pantau - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyatakan pemanfaatan interactive flat panel (IFP) memberikan pengalaman mengajar yang berkesan bagi para guru sekaligus memudahkan penyampaian materi pembelajaran, sebagaimana dirasakan sejumlah guru di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin menyatakan digitalisasi pembelajaran melalui penyaluran IFP merupakan upaya Kemendikdasmen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.
Penyaluran IFP bertujuan memastikan kegiatan belajar mengajar di setiap ruang kelas berlangsung layak, aman, dan mampu menciptakan lingkungan belajar yang nyaman.
Kemendikdasmen juga berharap pemanfaatan teknologi melalui IFP dapat memberikan akses teknologi yang lebih memadai bagi sekolah dalam mendukung proses pembelajaran.
Guru Rasakan Manfaat Fitur IFP di KelasGuru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) SMPN 2 Kutasari Purbalingga, Ahmad Fahrudin, mengatakan pengalaman mengajarkan Senam Anak Indonesia Hebat berubah sejak menggunakan IFP.
Menurut Ahmad, fitur pemutaran video multimedia, screen mirroring, dan anotasi langsung di layar menjadi fitur yang paling membantunya selama proses pembelajaran.
Fungsi anotasi memungkinkan pengguna membuat catatan untuk memberikan penjelasan atau komentar sehingga membantu meningkatkan pemahaman murid, mendorong pola berpikir kritis, dan membuka ruang diskusi selama pembelajaran.
Ahmad mengungkapkan, "Olahraga adalah materi yang bersifat kinestetik dan visual. Saya cukup memutar video, menghentikannya pada gerakan tertentu, lalu memberi anotasi untuk menunjukkan posisi kaki atau tangan yang benar. Saya tidak perlu lagi mendemonstrasikan gerakan berulang-ulang sehingga waktu mengajar jauh lebih efisien dan materi lebih mudah dipahami murid."
Guru Berharap Pelatihan dan Dukungan Teknologi Terus DitingkatkanPengalaman serupa juga dirasakan guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) SMPN 2 Kutasari, Patmiarsih Winarni, yang telah mengajar selama 25 tahun.
Menurut Patmiarsih, IFP menghadirkan pengalaman belajar yang jauh lebih hidup dibandingkan metode pembelajaran konvensional.
Patmiarsih mengatakan, "IFP memberi kemudahan dalam menyajikan video, presentasi, YouTube hingga berita aktual yang sesuai materi. Pengalaman yang paling berkesan adalah ketika murid sangat antusias mengikuti kuis interaktif dan gim edukasi. Anak yang biasanya kurang memperhatikan pun langsung fokus ke layar karena pembelajarannya terasa menyenangkan."
Patmiarsih menyebut fitur digital whiteboard, anotasi, dan screen mirroring menjadi fitur yang paling sering dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar.
Ia mengungkapkan, "Saya bisa mengakses berbagai referensi dengan cepat, memberi catatan langsung di layar, sekaligus menyesuaikan pembelajaran sesuai kebutuhan murid. Anak visual belajar lewat video dan infografis, anak auditori melalui audio, sementara anak kinestetik dapat maju menyentuh, menulis, atau memindahkan objek di layar."
Para guru berharap pemanfaatan IFP terus diperkuat melalui pelatihan yang berkelanjutan, dukungan koneksi internet yang stabil, serta ketersediaan lebih banyak konten pembelajaran interaktif.
Mereka juga berharap teknologi tidak hanya menjadi perangkat yang tersedia di ruang kelas, tetapi benar-benar menjadi jembatan yang membantu guru menghadirkan pembelajaran yang lebih efektif, lebih interaktif, dan lebih relevan dengan kebutuhan generasi masa kini.




