jpnn.com - Penasihat Menteri Desa PDT, Prof. Zainuddin Maliki mengatakan perguruan tinggi harus melakukan transformasi peran, dari sekadar lembaga pendidikan menjadi pusat inovasi, pemberdayaan, dan penggerak kemajuan desa, di tengah upaya Menteri Desa menumbuh-kembangkan desa-desa tematik dan desa ekspor.
Hal itu disampaikan Prof. Zainuddin Maliki dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh STITM Bojonegoro, Senin (29/7/2026), bertajuk "Transformasi Pendidikan Desa Berbasis Masyarakat Menuju Indonesia Emas 2045".
BACA JUGA: Soal Pembangunan Rempang, IAW Ingatkan Prabowo Tak Ulangi Kesalahan Rezim Jokowi
Prof. Zainuddin menyampaikan bahwa desa tematik merupakan model pembangunan yang menempatkan potensi unggulan desa sebagai identitas dan mesin pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, desa ekspor merupakan lompatan baru agar desa tidak berhenti sebagai pemasok bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan produk unggulan yang bernilai tambah dan mampu mengakses pasar global.
Menurutnya, Indonesia Emas 2045 hanya dapat diwujudkan apabila pembangunan sumber daya manusia di desa dibarengi dengan penguatan ekonomi berbasis potensi lokal. "Karena itu, kampus perlu hadir secara nyata melalui riset, pendampingan, dan inovasi yang dapat melahirkan desa-desa tematik dan desa-desa ekspor," ungkap penulis buku Rekonstruksi Teori Sosial Modern itu.
BACA JUGA: Tugas Jokowi Tidak Akan Mudah Jika Ingin PSI Raih Suara Besar pada 2029
Anggota DPR RI 2019-2024 itu memberikan apresiasi kepada STITM Bojonegoro yang tidak hanya fokus pada pengembangan akademik, tetapi juga membangun kepedulian sosial dan menggerakkan para pendidik serta tenaga kependidikan menjadi agen perubahan di desa.
STITM Bojonegoro dinilainya telah mengambil langkah progresif dengan menggerakkan para pendidik dan tenaga kependidikan untuk menjadi pilar penting dalam menciptakan ekosistem pemberdayaan masyarakat desa di Bojonegoro sebagai salah satu daerah penghasil minyak dan gas bumi (migas) nasional.
BACA JUGA: Pemkot Tanjungpinang Usulkan Formasi Guru CPNS ke BKN, Sebanyak Ini
"Di kota penghasil migas ini, kemajuan tidak boleh hanya diukur dari besarnya sumber daya alam yang dimiliki, tetapi juga dari kualitas sumber daya manusia dan keberdayaan masyarakat desanya," ujar Sekretaris Eksekutif Program TEKAD kolaborasi Kemendesa dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD) itu.
Prof. Zainuddin menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem pemberdayaan masyarakat desa melalui riset terapan, inovasi teknologi, penguatan kapasitas sumber daya manusia, hilirisasi produk, literasi digital, serta pengembangan jejaring kemitraan dengan pemerintah dan dunia usaha.
"Kampus dan desa harus menjadi mitra strategis. Ketika ilmu pengetahuan bertemu dengan potensi lokal dan semangat gotong royong masyarakat, maka akan lahir desa-desa yang produktif, berdaya saing, dan mendunia," ungkapnya.
Mengakhiri paparannya, Prof. Zainuddin meyakini bahwa kolaborasi STITM Bojonegoro dengan para pendidik yang tergabung dalam wadah PGRI di kota "Texasnya Indonesia" itu mampu melahirkan siswa dan sarjana yang memiliki mimpi besar memberdayakan masyarakat desa.
"Jika desa bertumbuh, Indonesia akan maju dan ketika kampus dan para pendidik berhasil menggerakkan masyarakat desa berinovasi menjadikan desa-desa tematik dan bahkan naik kelas menjadi desa ekspor dengan menembus pasar dunia, sesungguhnya di situlah kita sedang membangun fondasi Indonesia Emas dari desa," pungkasnya.(fat/jpnn)
Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam




