Di balik angka tengkes yang masih tinggi di Indonesia, anemia defisiensi besi menjadi persoalan lain yang luput dari perhatian. Padahal, anak dengan anemia juga rentan mengalami gagal tumbuh yang berdampak pada penurunan kecerdasan dan kualitas hidup di masa depan.
Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan prevalensi anemia pada anak balita usia 0-4 tahun mencapai 23,8 persen. Angka tersebut bahkan lebih tinggi dari angka tengkes (stunting) nasional yang dilaporkan sebesar 19,8 persen menurut Survei Status Gizi Indonesia 2024.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Perkumpulan Akselerasi Puskesmas Indonesia (DPP Apkesmi) Kusnadi mengatakan, anemia defisiensi besi pada anak balita selama ini belum mendapatkan perhatian yang sama besarnya dengan masalah tengkes. Padahal, anemia sangat berkaitan erat dengan kondisi tengkes pada anak.
”Ketika sudah menjadi stunting, itu sulit sekali ditangani. Karena itu, kita perlu menangani sejak dini, dari anemianya dulu kita tangani,” tuturnya di sela-sela acara peluncuran program Puskesmas Siap Sedia (Skrining, Edukasi, Intervensi Aksi Cegah Anemia dan Stunting) di Tangerang Selatan, Banten, Senin (29/6/2026).
Anak dengan anemia defisiensi besi atau kekurangan zat besi akan berisiko mengalami gangguan dalam proses pertumbuhan. Zat besi punya peran penting dalam pembentukan hemoglobin, sintesis protein, dan perkembangan sel-sel tubuh, termasuk sel otak.
Ketika sudah menjadi stunting, itu sulit sekali ditangani. Karena itu, kita perlu menangani sejak dini, dari anemianya dulu kita tangani.
Itu sebabnya, kondisi anemia defisiensi besi pada anak dapat mengganggu perkembangan otak dan fungsi kognitif. Kemampuan daya ingat dan kemampuan konsentrasi akan berkurang sehingga berpengaruh pada kemampuan belajar dan tumbuh kembang anak dalam jangka panjang.
Ketua Umum DPP Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Doddy Izwardy menyampaikan, dampak anemia yang tidak ditangani dengan baik bisa berdampak serius di masa depan. Kondisi defisiensi besi terjadi secara kumulatif. Jika kondisi itu tidak diatasi sejak bayi, hal tersebut akan berlanjut seiring masa pertumbuhannya.
Hal ini akan terus terjadi sampai usia remaja, terutama pada remaja putri, dan berlanjut sampai ketika hamil. Anak yang dilahirkan pun bisa berisiko mengalami anemia apabila tidak ada intervensi yang baik di masa sebelumnya.
”Anemia ini memang silent emergency (krisis tersembunyi) sebenarnya. Itu juga unchanged yang sangat sulit berubahnya. Remaja yang anemia akan menjadi ibu dengan anemia dan bisa melahirkan anak yang mengalami anemia,” kata Doddy.
Dampak anemia tidak terlihat secara langsung sehingga sering kali diabaikan oleh orangtua dan tenaga kesehatan. Seorang anak yang tampak aktif bisa saja mengalami defisiensi zat besi. Oleh sebab itu, deteksi dan penapisan atau skrining defisiensi zat besi menjadi sangat penting.
Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan prevalensi anemia pada anak balita usia 0-4 tahun mencapai 23,8 persen. Angka tersebut bahkan lebih tinggi dari angka tengkes nasional yang dilaporkan sebesar 19,8 persen menurut Survei Status Gizi Indonesia 2024.
Menurut Doddy, masalah anemia selama ini sulit diatasi karena program penanganan anemia lebih banyak bersifat episodik. Penanganan anemia hanya dilakukan saat ada program tertentu dan tidak berjalan secara berkelanjutan.
Anak-anak yang sudah mendapatkan intervensi gizi akan kembali mengalami gangguan gizi karena lingkungan dan pola asuh yang didapatkan tidak berubah. Masalah anemia tidak sekadar bisa diselesaikan dengan pemberian suplemen atau makanan tambahan lainnya. Terdapat faktor non-gizi yang mesti diperhatikan, antara lain adanya penyakit menular seperti tuberkulosis, sanitasi lingkungan yang buruk, infeksi cacingan, atau penularan malaria yang juga bisa menyebabkan anemia.
”Anemia defisiensi besi tidak bisa diatasi hanya dengan memperbanyak sayuran dan buah-buahan. Kondisi anemia membutuhkan asupan protein yang baik. Faktor non-gizi lainnya juga harus diatasi,” ucap Doddy.
Kusnadi menuturkan, deteksi dini dan penapisan anemia pada anak kini masih kurang. Layanan kesehatan primer seperti posyandu dan puskesmas lebih banyak berfokus pada pengukuran berat badan dan tinggi badan. Pengukuran hemoglobin untuk mengidentifikasi kondisi defisiensi zat besi belum banyak dilakukan.
Meski demikian, ia mengakui pengukuran hemoglobin tidak mudah dilakukan. Sebab, pengukuran tersebut membutuhkan sampel darah yang bersifat invasif, seperti harus ditusuk jarum atau disuntik. Sejumlah orangtua pun akhirnya enggan memeriksakan anaknya.
Serial Artikel
Tengkes, Tantangan Pemerintah Baru
Tengkes menjadi tantangan pemerintah baru hasil Pemilu 2024.
Itu sebabnya, inovasi dilakukan melalui pemantauan berdasarkan faktor risiko. Lewat program Puskesmas Siap Sedia, penggunaan kalkulator zat besi akan digunakan untuk mendeteksi faktor risiko anemia lewat skrining digital. Adapun kalkulator zat besi dikembangkan Apkesmi bersama dengan Danone Indonesia.
Penapisan atau skrining dilakukan untuk mengetahui pola makan anak, seperti asupan ASI, sumber protein hewani, dan sumber protein nabati. Penapisan tersebut dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan tinggi dan berat badan anak.
Dari pengukuran yang dilakukan, risiko defisiensi besi bisa diketahui lebih dini. Intervensi pun dapat dilakukan sejak awal sebelum terjadi anemia dan tengkes.
Praktisi kesehatan yang juga Medical and Scientific Affair Director Danone Specialized Nutrition Indonesia, Ray Wagiu Basrowi, menyampaikan, kalkulator zat besi (Iron Calculator) menjadi salah satu inovasi yang diharapkan bisa mendukung penanganan masalah defisiensi besi pada anak di Indonesia. Sebelumnya, penggunaan kalkulator zat besi telah diuji coba oleh bidan melalui Ikatan Bidan Indonesia.
”Selain untuk memaksimalkan capaian skrining di layanan primer, penggunaan kalkulator ini juga untuk memastikan supaya efektivitasnya teroptimalkan. Dengan pendekatan skrining berbasis digital, biaya lebih murah dan hasilnya lebih efektif,” katanya.





