Panggung Global SambaSunda Cermin Potensi Musik Tradisional Indonesia ke Kancah Dunia

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Di panggung mancanegara, orkestra instrumen SambaSunda sukses memantik kekaguman penonton global akan kekayaan musik tradisional Indonesia. Kiprah mereka membuktikan bahwa musik tradisional bukan produk usang yang tak laku dijual. Namun, di balik apresiasi untuk SambaSunda, ironi membayangi di negeri sendiri. Musik tradisional acap kali tidak diberi panggung untuk terbang tinggi menjaga eksistensinya.

Langit malam di Serawak Cultural Village, Negara Bagian Serawak, Malaysia, Sabtu (27/6/2026), seolah bergetar oleh energi yang meluap dari panggung utama Rainforest World Music Festival (RWMF) 2026. Ribuan pasang mata tertuju ke panggung saat SambaSunda, grup musik etnik-kontemporer asal Bandung, Jawa Barat, memulai pertunjukannya.

Dentingan gamelan, tabuhan gendang, dan siulan suling yang magis, berpadu harmonis dengan sejumlah instrumen modern yang dinamis. Orkestrasi dari 12 personel SambaSunda itu lantas mengubah suasana festival.

Baca JugaPertemuan Tradisi Dua Zaman di Rainforest World Music Festival

Musik mereka memancarkan energi untuk kaki melangkah dan tubuh bergoyang mengikuti entakan irama. Musik mereka membius para hadirin yang kebanyakan warga kulit putih berusia muda. Semuanya larut dalam jembatan emosional antara tradisi Nusantara dan semangat modernitas dunia.

Di antara lautan manusia tersebut, penonton asal Kuala Lumpur, Malaysia, Michael Capel (39), tampak ikut hanyut dalam suasana. Pegawai sektor perbankan itu tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut bergoyang bersama dua rekannya di tengah kerumunan yang memadati area terbuka di depan panggung pertunjukan.

Tanpa ragu, Capel menobatkan SambaSunda sebagai penampil terbaik untuk hari kedua dari tiga hari penyelenggaraan RWMF 2026. "SambaSunda memberikan rasa musik yang begitu rancak (bersemangat), yang membuat tubuh spontan bergoyang mengikuti ketukan suara instrumen. Jika dibandingkan penampil lain, SambaSunda membawa energi yang lebih hidup dan otentik," ujar Capel.

Bagi Capel, musik tradisional Indonesia memiliki daya tarik yang melampaui batas geografis. Terbukti, penampilan kedua SambaSunda di RWMF setelah 2004 itu memikat para penonton lintas negara dan lintas budaya.

Capel berpandangan, musik tradisional Indonesia memiliki ruh dan kedalaman emosional tersendiri. Itu yang tidak ditemukan pada musik kekinian atau kontemporer yang cenderung seragam dan monoton, terutama di era digital.

"Musik tradisional itu seperti sihir. Dia bisa memberikan ketenangan batin, tetapi terkadang mengentak jiwa. Semuanya membawa kita mengenal kembali jati diri kita," kata Capel yang pertama kali mendengar musik tradisional Indonesia di Pulau Bali beberapa tahun lalu.

Baca JugaAlunan Sape dan Gema Kontemporer Melebur dalam Pertemuan Dua Zaman Rainforest World Music Festival
Realita kontras

Respons positif ataupun apresiasi dari penonton terhadap SambaSunda sekaligus menegaskan bahwa musik tradisional Indonesia memiliki tempat yang prestisius di mancanegara. Musik tradisional Indonesia adalah komoditas yang dicari oleh penikmat musik global.

Namun, di balik gemuruh tepuk tangan untuk SambaSunda di Serawak, terselip sebuah realita kontras. Di negeri sendiri, musisi tradisional Indonesia justru terpinggirkan. Mereka acap kali kesulitan menemukan panggung yang layak dan berkelanjutan untuk memperkenalkan karya mereka.

Fenomena itu menjadi sorotan tajam Ismet Ruchimat, komponis sekaligus pendiri SambaSunda. Dia mengatakan, bagi penikmat mancanegara, musik tradisional merupakan alternatif yang segar di tengah hegemoni industri musik kontemporer.

Dengan ragam jenis dari Aceh hingga Papua, musik tradisional Indonesia memiliki potensi besar untuk memenuhi ketertarikan atau minat pasar global tersebut. Kekayaan jenis itu modal berharga untuk musisi tradisional lain mengikuti kesuksesan SambaSunda.

"Musik tradisional Indonesia sangat kaya ragamnya. Setiap instrumen tradisional yang ada pun memiliki nuansa suara sendiri-sendiri. Itu pintu masuk potensial untuk merebut hati pasar global," tutur Ismet yang juga berstatus Dekan Fakultas Seni Pertunjukan di Institut Seni Budaya Indonesia Bandung.

Akan tetapi, dilemanya, musisi tradisional Indonesia minim wadah berekspresi. Ismet menyatakan, festival musik tradisional di Indonesia kerap terjebak pada kesalahan konsep dengan menyandingkan musisi tradisional dan grup musik populer kekinian. Akibatnya, perhatian audiens terpecah.

Baca JugaRainforest World Music Festival 2026, Menjaga Tradisi di Tengah Arus Modernisasi

Kondisi itu diperparah dengan sifat festival di dalam negeri yang sering kali timbul-tenggelam alias tanpa keberlanjutan. "Walau sekarang era digital, musisi tetap butuh mempromosikan diri dan menambah jejaring secara langsung melalui festival," ujar Ismet.

Bandingkan dengan RWMF, ajang itu menjadi panggung besar yang konsisten menjembatani musik tradisional ke kancah internasional selama 29 tahun terakhir. SambaSunda, yang berdiri sejak 1993, turut merasakan bagaimana RWMF menjadi katalisator bagi perkembangan karier mereka.

Selepas tampil perdana di festival tersebut, SambaSunda semakin dikenal penikmat musik global sehingga sering diundang tampil di berbagai negara. Faktanya, SambaSunda memang lebih populer di negeri orang daripada di Tanah Air.

"Sebelum pandemi, setiap tahunnya, sekitar 65 persen kegiatan atau konser kami justru berlangsung di luar negeri, terutama di Eropa. Itu terjadi karena memang penikmat musik global lebih menghargai musik tradisional kita dibandingkan di negara sendiri," ucap Ismet.

Baca JugaSerawak Gaungkan Kesadaran Lingkungan Melalui Gelaran RAYS dan RWMF 2026
Butuh hidup

Itu kian membuktikan, kalau digarap profesional, dibalut dengan aransemen yang tepat, dan diperkenalkan secara luas, musik tradisional Indonesia sangat mungkin diterima pasar internasional. Adapun kepastian pasar sangat dibutuhkan oleh musisi untuk jaminan kehidupan.

"Musisi juga manusia. Mereka butuh hidup (penghasilan). Jika mereka bisa sejahtera melalui karya musik tradisional, tentu ekosistem pelestarian budaya kita akan semakin kuat," kata Ismet.

Sebaliknya, kalau musik tradisional tidak menjanjikan kesejahteraan, masyarakat atau generasi muda akan meninggalkan warisan tradisi tersebut. Maka itu, pemerintah Indonesia didorong lebih serius membangun ekosistem musik tradisional.

Pemerintah perlu mencontoh komitmen RWMF dalam menciptakan wadah yang inklusif dan berkelanjutan. Selain itu, penguatan ekosistem harus dibarengi dengan riset dan dokumentasi karya yang sistematis agar musik tradisional tetap relevan dengan zaman tanpa kehilangan nilai otentisitasnya.

Pemerintah pun harus berperan aktif sebagai fasilitator yang menjembatani musisi tradisional dengan pasar global, layaknya ajang World Music Expo. "Kita tidak boleh memandang festival musik tradisional hanya sebagai seremoni budaya. Kita harus menempatkannya sebagai investasi strategis untuk menjaga ruh kebudayaan di tengah pesatnya perubahan zaman, serta mensejahterakan para musisinya," kata Ismet.

Baca JugaRainforest World Music Festival 2025 Bakal Hadirkan Beragam Jenis Musik

Menteri Pariwisata, Industri Kreatif, dan Seni Pertunjukan Serawak, YB Dato Sri Abdul Karim Rahman Hamzah menuturkan, keberlanjutan RWMF adalah cerminan dari komitmen Serawak dalam menghargai dan melestarikan musik tradisional. Dia berharap kampanye budaya RWMF bisa menular ke negara-negara lain, khususnya di kawasan Asia Tenggara.

Pada dasarnya, musik tradisional ataupun tradisi lokal adalah fondasi pembentuk peradaban suatu bangsa. Sebagai serumpun di Asia Tenggara, Serawak atau Malaysia merasa terpanggil untuk mengajak para negara jiran ikut merawat kearifan lokal masing-masing.

"Kita hari ini tidak akan ada tanpa akar budaya yang ditanam oleh nenek moyang kita terdahulu. Dari RWMF juga terlihat, musik tradisional ada harapan untuk beradaptasi dengan perubahan zaman. Tinggal kita sebagai masyarakat pendukungnya, memberi kepedulian terhadap warisan nenek moyang kita," ujar Hamzah.

Keberhasilan SambaSunda menembus panggung mancanegara adalah pengingat bahwa seni tradisi Indonesia mampu melintasi sekat geografis dan tak usang digerus zaman. Dengan ruang berekspresi yang berkelanjutan, bukan mustahil akan lahir SambaSunda baru yang membawa musik tradisional Indonesia kian bergema di kancah dunia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sidang Vonis Nadiem Makarim Digelar Besok, Wartawan Diimbau Datang Lebih Pagi
• 19 jam lalurctiplus.com
thumb
BAZNAS Salurkan 10 Ribu Liter Air Bersih dan Logistik untuk Masyarakat Terdampak Gempa Bumi di Sulteng
• 16 jam laludisway.id
thumb
Danantara Kelola Lahan Hibah Meikarta untuk Bangun Rusun Subsidi
• 16 jam lalukatadata.co.id
thumb
4 Zodiak Paling Beruntung 30 Juni 2026: Selamat, Rezeki Datang di Penghujung Bulan
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
IHSG Anjlok Lebih dari 3%, Analis Soroti Jual Bersih Investor Asing
• 22 menit lalukumparan.com
Berhasil disimpan.