Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan industri ojek online alias ojol telah berkembang menjadi salah satu mesin penggerak ekonomi digital nasional.
Tak hanya membuka lapangan kerja, ekosistem ojol juga memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia.
Mengutip hasil survei Institute for Development of Economics and Finance dan Paramadina Public Policy Institute pada 2026, AHY menyebut industri ojol secara keseluruhan mempekerjakan hampir tiga juta mitra pengemudi. Selain itu, ekosistem ojol juga menciptakan sekitar 2,6 juta lapangan kerja turunan di sektor ekonomi digital.
"Jadi banyak sekali turunannya dan menyumbang lebih dari Rp 565 triliun kepada GDP atau PDB ekonomi Indonesia," kata AHY saat menghadiri acara peluncuran Gerakan Langkah Hijau Grab untuk Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Senin (29/6).
Menurut AHY, besarnya kontribusi tersebut menunjukkan bahwa industri ojol kini tidak lagi hanya berperan sebagai layanan transportasi berbasis aplikasi. Industri ini menjadi bagian penting dalam menggerakkan roda ekonomi digital nasional.
Ia menjelaskan, keberadaan layanan transportasi online memperlancar mobilitas masyarakat, baik untuk perpindahan orang, barang, maupun jasa. {latform digital juga membuka peluang lebih luas bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperluas pasar.
"Karena ada ojol, karena ada Grab Indonesia, UMKM kita tumbuh dan berkembang di mana-mana. Dan yang tidak kalah penting, ini juga mendorong ekonomi digital,” ujarnya.
AHY menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk terus mengembangkan ekonomi digital mengingat jumlah penduduk yang telah mencapai lebih dari 280 juta jiwa. Menurutnya, penetrasi teknologi digital yang semakin luas akan semakin memperkuat peran industri transportasi online dalam perekonomian.
Meski demikian, AHY mengingatkan bahwa industri transportasi digital juga menghadapi tantangan besar di tengah ketidakpastian global. Ini mulai dari krisis iklim, gejolak geopolitik, hingga percepatan perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan atau AI.
Karena itu, pemerintah mendorong transformasi menuju sistem transportasi yang lebih ramah lingkungan melalui percepatan elektrifikasi kendaraan. Menurut AHY, langkah tersebut bukan hanya untuk mengurangi emisi karbon, tetapi juga meningkatkan efisiensi biaya transportasi, mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, serta memperkuat daya saing industri nasional.
Ia pun mengapresiasi komitmen Grab Indonesia yang mulai memperluas penggunaan kendaraan listrik di ekosistemnya. Hal ini sebagai bagian dari upaya mendukung target pengurangan emisi nasional. "Tentu kami ingin kontribusi ini terus kita kawal dan tingkatkan," ujarnya.




