Bisnis.com, JAKARTA — PT Pertamina (Persero) membukukan pertumbuhan laba di tengah dinamika industri energi global sepanjang 2025.
Kinerja tersebut ditopang oleh perbaikan margin usaha, efisiensi biaya pokok penjualan, serta meningkatnya kontribusi bisnis nontradisional yang mampu mengimbangi penurunan pendapatan dari penjualan minyak dan gas.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang telah diaudit, Pertamina mencatat laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$3,35 miliar atau setara dengan Rp55,20 triliun pada 2025. Laba itu naik 7,19% dibandingkan dengan laba tahun sebelumnya yang mencapai US$3,13 miliar.
Selain itu, laba sebelum pajak pada 2025 juga meningkat menjadi US$6,41 miliar dari US$5,41 miliar pada 2024.
Di sisi operasional, Pertamina membukukan penjualan dan pendapatan usaha lainnya sebesar US$70,89 miliar atau setara Rp1.167,99 triliun. Angka itu secara nominal lebih rendah dibandingkan realisasi 2024 yang sebesar US$75,33 miliar.
Namun, perusahaan pelat merah itu berhasil menjaga profitabilitas melalui pengendalian biaya sehingga laba bruto meningkat menjadi US$10,26 miliar pada 2025. Jumlah tersebut naik dari tahun sebelumnya yang senilai US$10,08 miliar.
Adapun, penurunan pos beban utamanya didorong oleh penurunan beban pokok penjualan dan beban langsung lainnya menjadi US$60,63 miliar. Angka ini turun sekitar US$4,6 miliar dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$65,25 miliar. Penurunan biaya tersebut lebih besar dibandingkan penurunan pendapatan sehingga mendorong kenaikan margin perusahaan.
Dari sisi sumber pendapatan, penjualan domestik minyak mentah, gas bumi, energi panas bumi, dan produk minyak masih menjadi kontributor terbesar dengan nilai US$51,76 miliar.
Selain itu, Pertamina memperoleh pendapatan ekspor sebesar US$6,45 miliar, penggantian subsidi dari pemerintah senilai US$5,69 miliar, serta dana kompensasi selisih harga jual BBM sebesar US$4,44 miliar.
Meski demikian, terdapat pergeseran komposisi pendapatan. Pendapatan dari aktivitas operasi lainnya meningkat dari US$2,12 miliar pada 2024 menjadi US$2,54 miliar. Kenaikan ini menjadi salah satu penopang kinerja ketika pendapatan dari penjualan domestik, ekspor, maupun dana kompensasi BBM mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Kontributor lain terhadap peningkatan laba berasal dari sisi non-operasional. Pertamina membukukan laba dari entitas asosiasi dan ventura bersama sebesar US$328,37 juta, naik dari US$270,67 juta pada 2024.
Pada saat yang sama, beban lain-lain berhasil ditekan drastis menjadi hanya US$9,21 juta, dibandingkan US$813,64 juta pada tahun sebelumnya.
Di satu sisi, pendapatan keuangan Pertamina turun dari US$1,27 miliar pada 2024 menjadi US$1,01 miliar pada 2025. Lalu, beban umum dan administrasi meningkat dari US$2,49 miliar pada 2025 menjadi US$2,63 miliar pada 2025.
Namun, efisiensi pada beban pokok penjualan tetap menjadi faktor dominan yang menjaga kenaikan laba perusahaan. Beban keuangan juga turun dari US$1,38 miliar pada 2024 menjadi US$1,21 miliar pada 2025.
Di sisi neraca, total aset Pertamina tumbuh dari US$89,85 miliar pada 2024 menjadi US$91,63 miliar hingga akhir 2025. Ekuitas juga meningkat menjadi US$44,61 miliar, sementara total liabilitas tercatat US$47,02 miliar.
Baca Juga
- Kapal Pertamina Pride Masih Tertahan di Selat Hormuz, Begini Perkembangannya
- Pertamina Pastikan Pertamax Mengikuti Harga Pasar
- Pertamina Patra Niaga Pastikan Harga BBM Non Subsidi Ikuti Harga Pasar





