HARIAN.FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Satu gerakan sederhana membuat seluruh stadion terdiam. Yassine Bounou hanya mengangkat satu tangan saat menghadapi penalti penentu Belanda.
Penyelamatan itu bukan sekadar menggagalkan gol, tetapi juga mengubah nasib Maroko di Piala Dunia 2026. Lantas, siapa sosok kiper yang kembali menjadi mimpi buruk lawan di babak adu penalti tersebut?
Maroko memastikan tempat di babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah menumbangkan Belanda melalui drama adu penalti yang berlangsung menegangkan di Estadio BBVA, Selasa (30/6/2026). Pertandingan berakhir 1-1 hingga 120 menit sebelum Singa Atlas menang 3-2 pada babak tos-tosan.
Tokoh utama kemenangan itu kembali mengarah kepada Yassine Bounou. Penjaga gawang andalan Maroko tersebut sukses menghentikan eksekusi penalti Crysencio Summerville dengan penyelamatan yang menjadi sorotan karena dilakukan hanya menggunakan tangan kiri saat tetap berdiri tegak.
Aksi tersebut langsung mengubah arah pertandingan. Maroko akhirnya melangkah ke fase 16 besar, sedangkan Belanda harus mengakhiri perjalanan mereka lebih cepat dari yang diperkirakan banyak pihak.
Kiper yang Selalu Tampil TenangNama Yassine Bounou sudah lama dikenal sebagai salah satu penjaga gawang elite dunia. Ia lahir di Montreal, Quebec, Kanada, pada 5 April 1991. Meski memiliki tempat kelahiran di Kanada, Bounou memilih memperkuat Timnas Maroko di level internasional.
Kini, kiper berusia 35 tahun tersebut menjadi andalan Al-Hilal SFC. Ia bergabung dengan klub Arab Saudi itu pada 17 Agustus 2023 dan masih terikat kontrak hingga 30 Juni 2028 setelah mendapat perpanjangan pada Oktober 2025.
Dengan tinggi badan mencapai 1,92 meter serta dominan menggunakan kaki kiri, Bounou dikenal memiliki refleks cepat, kemampuan membaca permainan, dan ketenangan saat menghadapi tekanan.
Menurut data Transfermarkt, nilai pasarnya saat ini berada di kisaran Rp52,14 miliar. Angka tersebut mencerminkan konsistensinya sebagai salah satu penjaga gawang paling berpengalaman di level klub maupun tim nasional.
Duel Sengit Berujung Adu PenaltiLaga berjalan ketat sejak awal hingga memasuki babak kedua. Belanda akhirnya memecah kebuntuan pada menit ke-72 melalui Cody Gakpo yang memanfaatkan umpan matang dari Crysencio Summerville.
Gol tersebut menjadi momen emosional bagi Gakpo. Penyerang berusia 27 tahun itu tampak menangis seusai mencetak gol setelah sebelumnya bersama sang pasangan, Noa van der Bij, mengumumkan kehilangan calon buah hati mereka.
Keunggulan Belanda nyaris bertahan hingga laga usai. Namun, Maroko menunjukkan mental pantang menyerah.
Saat pertandingan memasuki menit ke-91, Issa Diop menyambut umpan silang panjang Chemsdine Talbi dengan sundulan yang sukses menggetarkan gawang Belanda. Skor berubah menjadi 1-1 dan memaksa pertandingan berlanjut ke babak tambahan.
Selama 30 menit extra time, kedua tim gagal mencetak gol. Penentuan pemenang pun harus dilakukan melalui adu penalti.
Satu Tangan Bounou Mengubah SegalanyaAdu penalti berlangsung sama ketatnya. Kedua tim saling mencetak gol hingga kedudukan imbang 2-2 setelah empat penendang pertama.
Tekanan kemudian berpindah kepada Crysencio Summerville yang dipercaya menjadi algojo kelima Belanda.
Bounou tampil luar biasa. Ia mampu membaca arah bola dengan tepat sebelum menghalau tendangan Summerville menggunakan tangan kirinya. Penyelamatan itulah yang kemudian menjadi titik balik kemenangan Maroko.
Kesempatan emas tersebut dimanfaatkan Ismael Saibari sebagai penendang terakhir Singa Atlas.
Saibari dengan tenang mengirim bola ke sudut kiri bawah gawang ketika Bart Verbruggen bergerak ke arah berlawanan. Gol itu memastikan Maroko menang 3-2 dalam adu penalti sekaligus mengamankan tiket ke babak 16 besar.
Rekam Jejak BounouPerforma gemilang di Piala Dunia 2026 bukanlah kejutan. Sepanjang karier profesionalnya, Bounou telah menunjukkan konsistensi sebagai salah satu kiper terbaik.
Data Transfermarkt mencatat dirinya sudah tampil dalam 448 pertandingan bersama berbagai klub. Dari jumlah tersebut, ia kebobolan 482 gol, tetapi juga mengoleksi 163 clean sheet sepanjang lebih dari 40 ribu menit bermain.
Periode paling impresif terjadi ketika membela Sevilla FC. Bersama klub Spanyol tersebut, Bounou memainkan 142 pertandingan, mencatatkan 57 clean sheet, dan hanya kebobolan 141 gol.
Setelah hijrah ke Al-Hilal SFC, kualitasnya tidak mengalami penurunan. Hingga kini ia telah tampil dalam 128 pertandingan dengan koleksi 51 clean sheet serta kebobolan 116 gol.
Sebelumnya, Bounou juga sempat memperkuat Girona dengan total 84 pertandingan dan 24 clean sheet. Pengalamannya semakin lengkap setelah pernah membela Atletico Madrileno, Real Zaragoza, serta memulai karier profesional bersama Wydad AC.
Pengalaman panjang di kompetisi Eropa dan Asia membentuk karakter Bounou menjadi penjaga gawang yang tenang, matang, dan sangat piawai membaca arah tendangan penalti.
Maroko Kembali Menegaskan StatusnyaKeberhasilan menyingkirkan Belanda semakin memperkuat posisi Maroko sebagai salah satu kekuatan utama sepak bola dunia.
Sebelum laga dimulai, Maroko menempati peringkat keenam dunia, sedangkan Belanda berada tepat di bawahnya di posisi ketujuh. Pertemuan kedua tim menjadi duel dengan gabungan peringkat FIFA tertinggi pada babak 32 besar Piala Dunia 2026.
Belanda sejatinya memiliki catatan impresif karena selalu berhasil mencapai setidaknya babak 16 besar dalam delapan penampilan terakhir di Piala Dunia. Empat tahun lalu, De Oranje bahkan melangkah hingga perempat final.
Namun, sejarah kali ini berpihak kepada Maroko.
Ketangguhan Yassine Bounou di bawah mistar dan semangat juang Singa Atlas menjadi pembeda. Berkat satu penyelamatan krusial pada momen paling menentukan, kiper berusia 35 tahun itu kembali mengukuhkan diri sebagai pahlawan yang membawa Maroko terus melanjutkan petualangan di Piala Dunia 2026. (*)





