Dubes RI: Sektor Prioritas Kerja Sama Indonesia dengan Korsel, Ada Pengembangan AI

narasi.tv
2 jam lalu
Cover Berita

Cecep Herawan, Duta Besar Republik Indonesi untuk Korea Selatan (Korsel), memaparkan sektor prioritas kerja sama Indonesia Korsel.Diungkapkan, pada kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto ke Korea Selatan pada April 2026, kedua negara menandatangani sepuluh nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang mencakup berbagai sektor strategis. MoU tersebut meliputi pembentukan dialog strategis komprehensif, kerja sama ekonomi 2.0, pengembangan digital, serta kerjasama di bidang AI untuk kesehatan dasar dan pembangunan manusia.

"Ke depan ini ada tiga prioritas utama dalam hubungan kemitraan Indonesia dan Korea," ujar Cecep saat ditemui media dalam acara Indonesia Next-Generation Journalist Network yang diselenggarakan Korea Foundation dan Foreign Policy Community of Indonesia di Kedubes RI, Seoul pada Selasa (9/6/2026).

1. Fokus Kerja Sama di Bidang Energi Terbarukan

Gejolak geopolitik global, seperti konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz, telah memicu lonjakan harga minyak dunia.

Kondisi ini menjadi peringatan keras bagi bangsa-bangsa, termasuk Indonesia dan Korea Selatan, untuk mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil yang rentan terhadap gangguan geopolitik. Oleh karena itu, kedua negara menempatkan pengembangan energi baru dan terbarukan sebagai sektor prioritas dalam memperkuat ketahanan energi nasional dan memastikan stabilitas pasokan energi di masa depan.

Korea Selatan dikenal memiliki teknologi energi terbarukan yang relatif maju. Pemerintah dan industri Korea telah mengembangkan berbagai inovasi di bidang energi bersih, termasuk tenaga surya, angin, dan teknologi penangkapan serta penyimpanan karbon (carbon capture and storage/CCS). Keunggulan teknologi ini membuka peluang bagi Indonesia untuk belajar dan berkolaborasi dalam meningkatkan kapasitas energi terbarukan nasional.

2. Pengembangan Kecerdasan Buatan sebagai Prioritas

Di bawah kepemimpinan Presiden Lee Jae-Myung, Korea Selatan mengembangkan program ambisius untuk menjadikan negaranya sebagai kekuatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) nomor tiga di dunia, setelah Amerika Serikat dan Cina. Fokus pemerintah Korea pada pengembangan AI mencakup berbagai bidang, mulai dari industri digital, kesehatan, hingga pembangunan manusia.

Indonesia didorong untuk sejak awal terlibat dalam program pengembangan AI Korea Selatan agar dapat meraih manfaat teknologi ini. Adanya kerja sama dalam pengembangan AI membuka kesempatan untuk mengakses teknologi mutakhir dan sumber daya manusia yang ahli di bidang ini. Kolaborasi tersebut berpotensi mempercepat digitalisasi dan inovasi teknologi di berbagai sektor di Indonesia.

Meskipun prospek kerja sama ini menjanjikan, Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan dalam mengejar perkembangan AI, seperti keterbatasan infrastruktur teknologi, sumber daya manusia yang kompeten, dan regulasi yang adaptif. Terlebih lagi, pengembangan AI membutuhkan investasi signifikan dalam pendidikan dan riset untuk menciptakan ekosistem yang mendukung inovasi berkelanjutan.

3. Peningkatan Sumber Daya Manusia untuk Sinergi

Pengembangan sektor energi terbarukan dan kecerdasan buatan tidak akan optimal tanpa didukung oleh sumber daya manusia yang terampil dan kompeten. Sumber daya manusia memiliki peran strategis sebagai penggerak inovasi, pelaksana teknologi, serta pengambil keputusan yang tepat untuk mengakselerasi pertumbuhan kedua sektor tersebut.

Kerja sama pendidikan menjadi bagian penting dalam agenda bilateral Indonesia-Korea Selatan. Prioritas diberikan pada penguatan pendidikan dalam bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) serta pelatihan vokasi yang relevan dengan kebutuhan industri teknologi dan energi. Program ini bertujuan menghasilkan generasi muda yang memiliki kemampuan teknis dan pengetahuan mutakhir.

"Karena itulah, sektor pendidikan menjadi salah satu prioritas juga terutama di STEM, latihan vokasi, dan juga bagaimana kita meningkatkan keterampilan generasi muda kita lebih baik lagi ke depan," terang Cecep.

Strategi peningkatan keterampilan generasi muda meliputi pengembangan kurikulum yang inovatif, pelatihan praktis, serta pemanfaatan teknologi digital dalam proses pembelajaran. Hal ini tidak hanya mempersiapkan tenaga kerja siap pakai, tetapi juga menumbuhkan semangat kewirausahaan dan kreativitas yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi persaingan global.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ketua MPR Ahmad Muzani Dorong Kerja Sama Industri Halal Indonesia-Uzbekistan dan Wisata Religi
• 2 jam lalupantau.com
thumb
Pemkot Jayapura: Festival UMKM pendorong utama pertumbuhan ekonomi
• 13 jam laluantaranews.com
thumb
Kebun Sawit Ilegal Masih Berproduksi di Habitat Gajah Sumatera Seblat, Genesis Desak Pengawasan Diperkuat
• 15 jam lalupantau.com
thumb
Outfit Tenis Naomi Osaka dan Novak Djokovic di Wimbledon 2026
• 3 jam lalubeautynesia.id
thumb
30 Negara Bantu Operasi Penyelamatan Setelah Gempa di Venezuela
• 4 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.