Soal emiten unggas, bisnis pakan dinilai prospektif dongkrak laba

antaranews.com
2 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Andreas Kristo Saragih mengatakan bisnis pakan ternak masih menjadi penyumbang laba terbesar bagi emiten perunggasan di tengah fluktuasi harga komoditas global.

Andreas mengatakan meskipun kontribusi pendapatan terbesar berasal dari segmen peternak komersial, khususnya broiler, lini usaha pakan dinilai mampu menghasilkan margin yang lebih tinggi berkat model bisnis yang fleksibel.

"Kalau dari sisi penerimaan, mayoritas memang berasal dari peternak komersial, khususnya broiler, sekitar 50 persen. Tetapi kalau dari sisi EBIT atau operating profit, kontributor terbesar justru berasal dari bisnis pakan," ujar Andreas dalam acara Media Day Mirae Asset Sekuritas di Jakarta, Selasa.

Menurutnya, profitabilitas bisnis pakan lebih terjaga karena perusahaan menerapkan model bisnis cost-plus. Dengan skema tersebut, produsen dapat meneruskan kenaikan biaya bahan baku kepada pelanggan melalui penyesuaian harga jual.

Andreas menjelaskan sekitar 70 persen biaya produksi pakan berasal dari bahan baku. Dari total tersebut, sekitar 50 persen merupakan jagung, sedangkan sekitar 20 persen berasal dari bungkil kedelai (soybean meal).

Berbeda dengan jagung yang sebagian besar dipenuhi dari dalam negeri, bungkil kedelai masih bergantung pada impor dari Argentina, Brasil, dan Amerika Serikat sehingga sensitif terhadap pergerakan harga komoditas global maupun nilai tukar.

Namun, saat terjadi kenaikan harga bungkil kedelai, pelemahan dolar AS, maupun kenaikan harga jagung, perusahaan masih bisa melewatinya.

“Itu yang membuat margin bisnis pakan relatif lebih stabil," katanya.

Sementara dari sisi pendapatan, segmen peternak komersial, khususnya broiler, masih menjadi penyumbang terbesar dengan porsi sekitar 50 persen emiten.

Di luar faktor biaya, Andreas juga melihat prospek bisnis pakan masih didukung oleh potensi peningkatan konsumsi makanan olahan di Indonesia. Mengacu pada studi konsumsi di Korea Selatan sepanjang 1998–2022, kontribusi ultra-processed food terhadap pola makan masyarakat terus meningkat di seluruh kelompok pendapatan.

Seiring meningkatnya urbanisasi, perubahan gaya hidup, dan permintaan terhadap makanan praktis, konsumsi ultra-processed food diperkirakan akan terus tumbuh.

"Kami menilai Indonesia kemungkinan berada sekitar lima hingga sepuluh tahun di belakang Korea Selatan. Seiring meningkatnya konsumsi makanan olahan, kebutuhan terhadap protein hewani dan rantai pasok pendukungnya, termasuk industri pakan, juga berpotensi terus bertumbuh," ujar Andreas.

Tren ini dinilai dapat menjadi katalis positif bagi industri pangan olahan dan sektor agribisnis yang memasok bahan baku maupun produk turunannya.

Menurutnya, kombinasi kemampuan menjaga margin melalui skema cost-plus serta prospek permintaan jangka panjang menjadikan bisnis pakan tetap sebagai mesin profitabilitas utama bagi emiten perunggasan.

Baca juga: Multi Hanna Kreasindo bagikan dividen tunai Rp9,9 miliar

Baca juga: Ekonom nilai evaluasi MSCI jadi momentum perbaiki tata kelola pasar RI

Baca juga: BRI bakal kaji secara cermat soal wacana “buyback” saham

Baca juga: Phapros bukukan laba Rp27,44 miliar pada 2025


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kala DPR dan Pemerintah Sering Rapat dan Pertemuan Tertutup Bahas Ekonomi…
• 15 jam lalukompas.com
thumb
Seiden Law LLP: Pengusaha Kamboja Leak Yim Mencari Keadilan di Pengadilan A.S. Setelah Dituduh Secara Keliru di Thailand
• 14 jam laluantaranews.com
thumb
Dari Jeruji ke Tambak Udang, Cerita Rahmat Tumbuh di Lapas Nusakambangan
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
2.087 Penerima Bansos di Klaten Graduasi, Wamensos: Mereka Berdaya dan Mandiri
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Taklukkan Jepang 2-1, Carlo Ancelotti Ungkap Kunci Kemenangan Brasil saat Berada Dalam Tekanan
• 11 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.