Bisnis.com, JAKARTA — Kalangan ekonom memproyeksikan inflasi Juni 2026 baik secara bulanan maupun tahunan naik imbas penyesuaian harga BBM nonsubsidi yakni Pertamax. Inflasi bulanan diprakirakan naik ke kisaran 0,5% (MoM), sedangkan tahunan mencapai 3,4% (YoY).
Inflasi Juni 2026 secara bulanan dan tahunan ini diprakirakan meningkat dari laju April maupun Mei 2026. Pada Mei 2026, tingkat inflasi tercatat sebesar 0,28% secara bulanan (MoM) dan 3,08% secara tahunan (YoY).
Laju inflasi itu juga meningkat dari bulan sebelumnya yakni April 2026 sebesar 0,13% (MoM) dan 2,42% (YoY). Misalnya, Ekonom PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Myrdal Gunarto memprakirakan inflasi Juni 2026 sebesar 3,20% (YoY) dan 0,30% (MoM). Laju inflasi inti kemudian diproyeksikan sebesar 2,57% (YoY) dan 0,05% (MoM).
Di sisi lain, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David Sumual memprakirakan inflasi bulanan pada Juni 2027 mencapai 0,55% (MoM). Sementara itu, inflasi tahunan Juni mencapai 3,45% (YoY).
"Inflasi Juni didorong oleh harga Pertamax yang naik 33%, (kontribusi sekitar 0.37% dari inflasi) dan harga bahan pokok yang konsisten masih naik," jelas David kepada Bisnis, Selasa (30/6/2026).
Di sisi lain, David memprakirakan komponen harga inti mengalami sebesar 2,38% (YoY), namun deflasi secara bulanan -0,14% (MoM). Inflasi inti turun dari bulan lalu karena harga emas yang juga turun relatif kencang.
Adapun Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk. Hosianna Evalita Situmorang memprakirakan inflasi Juni 2026 melonjak ke 0,58% (MoM) dan 3,49% (YoY). Dia menilai inflasi ini tidak hanya terkerek oleh dampak kenaikan harga Pertamax ke sektor transportasi pada putaran awal (first-round effect).
Hosianna juga menilai tingkat inflasi ini turut diperberat oleh kombinasi pelemahan nilai tukar rupiah dan harga minyak mentah di pasar global yang masih tinggi.
"Kombinasi faktor eksternal ini secara langsung mendorong kenaikan harga bahan baku impor (imported inflation) serta membengkaknya biaya operasional logistik, yang pada akhirnya mulai bertransmisi pada kenaikan harga barang baku dan sektor jasa domestik," terangnya kepada Bisnis.
Hosianna lalu memproyeksikan inflasi inti naik tipis ke 2,61% (YoY). Ini dinilai olehnya memberikan sinyal bahwa tekanan inflasi lanjutan (second-round effect) yang lebih luas ke masyarakat masih relatif tertahan.
Untuk itu, dia menilai kondisi tersebut merefleksikan ekspektasi inflasi domestik sejauh ini yang masih cukup menjangkar dengan baik.
Bagi Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Andry Asmoro, kenaikan inflasi Juni 2026 turut dipengaruhi oleh harga bahan makanan yang lebih tinggi. Tingkat inflasi diprakirakan naik 0,51% (MoM) serta 3,42% (YoY).
Andry memprakirakan inflasi terkait dengan komponen harga yang diatur pemerintah serta pangan fluktuatif meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Inflasi harga yang diatur pemerintah (administered prices) diprakirakan naik ke 1,83% (MoM) dari 0,52% (MoM) bulan sebelumnya.
Inflasi komponen ini terutama didorong oleh lonjakan 32% (MoM) pada harga bensin nonsubsidi (Pertamax) di tengah kenaikan harga minyak global, bersamaan dengan kenaikan 14,2% MoM pada harga tiket pesawat.
Harga pangan yang fluktuatif diperkirakan naik menjadi 0,52% (MoM) atau lebih tinggi dari Mei 2026 yaitu 0,22% (MoM). Hal ini diproyeksikan terjadi di tengah kenaikan harga pangan yang luas.
Kenaikan harga terutama terlihat pada bawang merah (11,0%), cabai merah (8,5%), bawang putih (6,8%), cabai rawit (5,1%), daging sapi (1,3%), dan beras (0,5%), sementara penurunan terus terjadi pada telur (-2,6%) dan daging ayam (-2,0%).
Adapun inflasi inti diproyeksikan melandai ke 0,12% (MoM) dari 0,22% (MoM) pada bulan sebelumnya.
"Koreksi harga emas (-5,2% mom) meredam komponen inti, sementara depresiasi rupiah yang berkelanjutan (1,85% mom) dan harga minyak goreng yang lebih tinggi (0,9% mom) mempertahankan tekanan ke atas," kata Andry melalui keterangan tertulis.





