BPS Rilis Data Inflasi Juni 2026 dan Neraca Dagang Mei 2026 Hari Ini, Simak Proyeksinya!

bisnis.com
13 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan menggelar konferensi pers pada Rabu (1/7/2026) untuk mengumumkan sejumlah indikator ekonomi terbaru, mulai dari perkembangan inflasi Juni 2026 hingga neraca perdagangan Indonesia periode Mei 2026.

Selain perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang menjadi acuan inflasi nasional, BPS juga akan menyampaikan perkembangan ekspor dan impor Indonesia yang menunjukkan posisi neraca perdagangan Mei 2026. Adapun konferensi pers akan dimulai pukul 11.00 WIB.

Dalam konferensi pers yang sama, BPS juga akan menyampaikan sejumlah indikator sektoral yang menggambarkan kondisi berbagai sektor ekonomi nasional.

Adapun data yang akan dipublikasikan meliputi perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP), perkembangan pariwisata, perkembangan transportasi, perkembangan Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB), serta perkembangan luas panen dan produksi jagung maupun luas panen dan produksi padi.

BPS juga akan memperbarui data luas panen dan produksi padi maupun jagung yang menjadi acuan dalam memantau kondisi produksi pangan nasional.

Inflasi Diproyeksi Naik

Hasil BIG Consensus Insights yang diselenggarakan DataIndonesia, unit riset Bisnis Indonesia Group (BIG), menunjukkan median proyeksi inflasi Juni 2026 mencapai 0,41% secara bulanan (month-to-month/MtM). Sementara itu, inflasi sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YtD) diperkirakan sebesar 1,86%, sedangkan inflasi tahunan (year-on-year/YoY) diproyeksikan mencapai 3,29%.

Baca Juga

  • BIG Consensus Insights: Inflasi Juni 2026 Diproyeksi Naik
  • Konsensus Ekonom Proyeksi Inflasi Juni Naik ke Atas 3%, Ini Penyebabnya
  • Waspada Neraca Dagang Mei 2026 Diproyeksi Defisit Setelah 72 Bulan Surplus

Survei tersebut menghimpun proyeksi dari 20 ekonom dan analis, dengan 11 responden telah menyampaikan estimasinya.

Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi inflasi pada Juni 2025 yang tercatat 0,19% secara bulanan dan 1,87% secara tahunan. Angka itu juga melampaui inflasi Mei 2026 yang sebesar 0,28% secara bulanan dan 3,08% secara tahunan.

Di antara para responden, Ekonom Bahana Sekuritas Purbiantoro Lintang Nugroho memberikan proyeksi inflasi paling tinggi, yakni 0,57% secara bulanan dan 3,48% secara tahunan. Sebaliknya, Chief Economist The Indonesia Economic Intelligence (IEI) Sunarsip memperkirakan inflasi lebih rendah, yakni 0,20% secara bulanan dan 3,10% secara tahunan.

Mayoritas ekonom menilai tekanan inflasi pada Juni berasal dari kombinasi pelemahan rupiah, kenaikan harga energi, harga pangan yang bergejolak (volatile food), serta penyesuaian harga yang diatur pemerintah (administered prices).

Tekanan dari sisi nilai tukar juga tercermin pada proyeksi inflasi inti. Berdasarkan BIG Consensus Insights, median inflasi inti Juni 2026 diperkirakan mencapai 0,16% secara bulanan atau 2,63% secara tahunan.

Survei BIG Consensus Insights juga menunjukkan ekspektasi inflasi hingga akhir tahun cenderung meningkat. Sebanyak 70% ekonom memperkirakan inflasi pada akhir 2026 akan berada di atas asumsi inflasi dalam APBN 2026 sebesar 2,5%, sedangkan 30% responden meyakini inflasi masih akan berada sesuai dengan target pemerintah.

Neraca Dagang Diproyeksi Defisit

Sementara itu, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David Sumual memperkirakan neraca perdagangan RI akan mencatatkan defisit, sekaligus mengakhiri rekor surplus 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. 

Berdasarkan data performa neraca dagang beberapa bulan sebelumnya, tren penyempitan surplus diketahui terjadi sejak beberapa bulan terakhir. Pada April 2026, neraca dagang kembali mencatatkan surplus ke-72 kalinya secara beruntun. Namun, nilainya mengecil bahkan sampai enam tahun terakhir yaitu US$89,1 juta. 

David memprakirakan neraca dagang mencatatkan defisit sebesar US$1,04 miliar. Hal ini tidak lepas dari efek penurunan ekspor maupun impor secara bulanan karena hari kerja Mei yang lebih sedikit dari April 2026. 

David mencatat bahwa harga komoditas ekspor unggulan Indonesia naik seperti batu bara dan logam, sedangkan minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) stagnan. Namun demikian, ekspor diprakirakan cenderung turun lebih dalam dibandingkan impor. 

"Namun, indikasi awal dari data negara-negara lain yang menjadi importir utama produk-produk Indonesia, ekspor cenderung turun lebih dalam dibandingkan impor, terutama untuk ekspor ke Malaysia, Thailand, dan China," jelas David kepada Bisnis, Selasa (30/6/2026). 

David memproyeksikan ekspor pada dua bulan lalu turun baik secara bulanan maupun tahunan yakni 15,44% (MoM) dan 13,07% (YoY). Sementara itu, impor secara tahunan naik 10,50% (YoY) meski turun 10,98% (MoM). 

Berbeda dengan David, Ekonom PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Myrdal Gunarto memproyeksikan neraca dagang Indonesia masih akan membukukan surplus, bahkan meningkat pesat dari bulan sebelumnya ke US$2,19 miliar.

Di sisi lain, Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk. Hosianna Evalita Situmorang memproyeksikan kenaikan surplus yang lebih moderat dibandingkan April 2026, yakni ke US$738 juta atau US$0,74 miliar. 

"Kondisi ini menunjukkan resiliensi eksternal yang kuat, di mana performa volume ekspor mampu meredam dampak melambatnya pertumbuhan ekspor ke level 20,54% (YoY) akibat mulainya tren normalisasi atau koreksi harga komoditas unggulan seperti CPO dan batubara di pasar global. Sementara kenaikan impor diperkirakan mencapai 34,91% (YoY)," terangnya kepada Bisnis.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
IHSG Ditutup Menguat Hampir 1 Persen di Level 5.695
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Didampingi Gibran, Prabowo Hadiri Peringatan HUT ke-80 Bhayangkara
• 10 jam lalujpnn.com
thumb
Cerita Divaldo Alves Terima Tawaran Interclube: Dapat Fasilitas Mewah hingga Misi Bangun Legacy
• 3 jam lalubola.com
thumb
Bisnis Kafe Tumbuh, Konsumsi Gula Ikut Naik: Dilema Baru Gaya Hidup Masyarakat Jatim
• 21 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Wall Street Menguat, Investor Yakin Keuangan Perusahaan Masih Baik
• 13 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.