JAKARTA, KOMPAS.com - Bekerja di gedung perkantoran megah di Jakarta menjadi impian sebagian besar generasi Z (Gen Z) dari berbagai penjuru Indonesia.
Para Gen Z berlomba-lomba mengenyam pendidikan tinggi dan mengasah keterampilan demi mendapatkan pekerjaan yang layak di kantor setelah lulus.
Setelah lulus, banyak Gen Z yang nekat merantau ke Jakarta dengan harapan memperoleh pekerjaan.
Duduk di depan komputer dengan gaji bulanan yang nominalnya pasti menjadi pekerjaan yang diidamkan sebagian besar anak muda di kota-kota besar, termasuk Jakarta.
Baca juga: Alasan Calon Manajer Kopdes Dibatasi Gunakan Ponsel: Gen Z Dinilai Sulit Fokus Saat Belajar
Namun, kondisi itu berbeda bagi sejumlah Gen Z yang lahir dan tumbuh di kawasan pesisir Cilincing, Jakarta Utara.
Sebagian dari mereka masih memilih menjalani profesi sebagai nelayan dan menggantungkan hidup di laut demi mencari nafkah, dibandingkan bekerja di kantor yang nyaman.
Meski demikian, jumlah Gen Z yang masih mau menggeluti profesi nelayan tidak banyak dan semakin sulit ditemukan.
Mayoritas nelayan di kawasan pesisir Jakarta saat ini didominasi oleh orang-orang yang sudah lanjut usia dengan pengalaman puluhan tahun melaut.
Baca juga: Saat Gen Z Memilih Menunggu: Mengapa Kamera Analog Kembali Digemari di Era Serba Instan?
Bahkan, sebagian nelayan berharap anak-anak mereka tidak mengikuti jejak sebagai nelayan karena profesi tersebut dinilai semakin tidak menjanjikan seiring perkembangan zaman.
Namun, anggapan itu tak menyurutkan tekad Putra (19), Gen Z asal Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, untuk terus menggeluti profesi sebagai nelayan.
Putra merupakan perantau asal Indramayu, Jawa Barat, yang mulai mengadu nasib di Jakarta sejak 2018.
"Dari tahun 2018 diajak oleh kakak. Kakak saya sudah lebih dulu menjadi nelayan di sini," kata Putra saat berbincang dengan Kompas.com, Selasa (30/6/2026).
Baca juga: Gen Z Ramai Tinggalkan Kamera Ponsel demi Kamera Lawas, Ternyata Ini yang Mereka Cari
Setibanya di Jakarta, Putra memutuskan ikut berlayar dengan kapal penangkap cumi dari Muara Angke, Jakarta Utara.
Di usianya yang masih sangat muda, Putra pantang menyerah meski harus mempertaruhkan nyawa di tengah laut demi mengubah nasib keluarganya.
Dalam satu kali pelayaran, Putra bisa menghabiskan waktu sekitar empat bulan di tengah laut sebelum kembali ke daratan.
Rutinitas tersebut dijalaninya selama empat tahun karena penghasilannya sebagai nelayan cumi dianggap cukup menjanjikan.
Dalam satu kali pelayaran selama empat bulan, ia bisa mengantongi penghasilan sekitar Rp 15 juta.
Baca juga: Psikolog: Tren Kamera Analog Cerminkan Kerinduan Gen Z pada Momen Autentik
Putra mengaku sudah mencoba berbagai pekerjaan, mulai dari buruh bangunan hingga kenek kontainer.





