Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas dunia diproyeksi masih berada dalam tekanan pada paruh kedua 2026, sebelum kembali pulih pada tahun 2027.
Melansir Kitco, harga emas di pasar spot diperdagangkan di kisaran ditutup turun 0,22% pada perdagangan Selasa (30/6/2026) ke level US$4.006,70 per troy ounce. Sepanjang perdagangan, harga emas bergerak dalam rentang US$3.944,00 hingga US$4.064,10 per troy ounce.
Posisi tersebut menunjukkan emas masih bertahan di atas level dukungan psikologis US$4.000 yang sempat diuji pekan lalu, tetapi belum mampu menembus area resistance yang dibutuhkan untuk mengonfirmasi pemulihan harga.
Dalam riset terbarunya, Kepala Riset Komoditas TD Securities, Bart Melek, memperingatkan bahwa harga emas berpotensi turun hingga di bawah US$3.900 per troy ounce sebelum menemukan titik terendah dalam fase koreksi pasar bearish saat ini.
Meski demikian, Melek menilai pelemahan harga emas akan menjadi peluang beli yang strategis bagi investor karena tren bullish jangka panjang logam mulia tersebut masih jauh dari berakhir.
Menurut Melek, risiko terbesar bagi harga emas dalam jangka pendek tetap berasal dari pergerakan harga minyak, yang diperkirakan akan terus memicu tekanan inflasi.
Baca Juga
- Harga Minyak Mendingin, Saatnya Emas dan Perak Berkilau Lagi?
- Beda Arah Proyeksi Saham AMMN & ANTM Kala Harga Emas Mendingin
- Sederet Alasan Harga Emas Terus Menurun, Hilangnya Peminat?
“Dengan gangguan di Selat Hormuz yang menggerus persediaan ke level terendah dalam sejarah, risiko utamanya adalah pasar minyak mentah yang saat ini berada dalam kondisi oversold dapat mengalami rebound tajam,” kata Melek seperti dilansir Kitco, Rabu (1/7/2026).
Dia memperkirakan harga minyak Brent masih berpotensi naik ke kisaran US$90 hingga US$110 per barel. Kondisi tersebut akan mendorong kenaikan ekspektasi inflasi dan memperkuat kecenderungan kebijakan moneter yang tetap ketat, sehingga meningkatkan biaya kepemilikan (carry cost) dan biaya peluang (opportunity cost) bagi investor emas.
Meskipun pembicaraan damai telah dimulai, konflik di Timur Tengah dinilai masih jauh dari selesai. Iran dan Amerika Serikat masih saling melancarkan serangan balasan, sementara harga minyak Brent saat ini diperdagangkan di atas US$73 per barel atau naik lebih dari 1% dalam sehari.
Melek menambahkan bahwa sekalipun kesepakatan damai dapat dipertahankan dan distribusi minyak melalui Selat Hormuz kembali normal, pasar tetap membutuhkan waktu untuk menstabilkan kondisi dan membangun kembali tingkat persediaan guna memenuhi permintaan yang masih tinggi.
“Dengan hubungan terbalik antara harga emas terhadap kenaikan harga minyak dan penguatan dolar AS, harga energi yang bertahan tinggi berpotensi mendorong pelemahan lanjutan pada harga emas dalam beberapa bulan mendatang,” ungkap Melek.
Pasar bahkan dapat mulai memperhitungkan kemungkinan terjadinya kelangkaan bahan bakar di berbagai belahan dunia. Sekalipun distribusi kembali normal hari ini, keterbatasan pasokan tersebut kemungkinan tetap akan muncul.
Sementara itu, Head of Base and Precious Metals Strategy J.P. Morgan Gregory Shearer mengatakan perubahan komunikasi The Fed dalam pertemuan terakhir Federal Open Market Committee (FOMC) telah membuat pasar emas kehilangan momentum. Ancaman suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama membuat minat investor terhadap emas melemah.
"The Fed yang hawkish telah mengubah jeda dalam tren bullish struktural emas menjadi pembekuan yang lebih dalam. Selama bayang-bayang kenaikan suku bunga masih menggantung, keterlibatan investor di pasar emas akan sangat terbatas," katanya.
Pandangan serupa mengenai emas juga disampaikan Chief Market Strategist Asia Pacific JP Morgan Asset Management Tai Hui. Menurutnya, emas sebaiknya dipandang sebagai aset investasi untuk meningkatkan imbal hasil, bukan sebagai instrumen lindung nilai terhadap gejolak geopolitik.
Penilaian tersebut muncul setelah kinerja emas selama konflik Iran dinilai tidak sesuai ekspektasi sebagian investor.
"Emas tidak dapat menjadi asset lindung nilai dari ketegangan geopolitik," katanya.
Proyeksi 2027
Meski masih menghadapi berbagai risiko penurunan dalam jangka pendek, Melek optimistis prospek emas akan kembali menguat menuju 2027. Dia memperkirakan harga emas pada akhirnya mampu menembus level US$5.300 per troy ounce.
Meredanya hambatan ekonomi dan arus dana investasi yang dipicu oleh perang Iran pada akhirnya akan menjadi katalis positif bagi harga emas.
Di saat yang sama, penurunan ekspektasi inflasi serta perubahan arah kebijakan The Fed yang kembali berfokus pada mandat penciptaan lapangan kerja maksimum, disertai kemungkinan injeksi likuiditas untuk mengimbangi dampak ekonomi akibat guncangan pasokan energi dan komoditas utama lainnya, akan mendukung harga emas mencetak rekor baru.
“Dengan utang pemerintah AS yang diperkirakan mendekati US$40 triliun dan defisit anggaran yang tetap tinggi, kekhawatiran terhadap represi finansial (financial repression) serta pelemahan nilai mata uang (currency debasement) berpotensi kembali mengemuka,” tambahnya.
Melek menilai, meskipun saat ini The Fed masih menunjukkan sikap tegas dalam mengendalikan inflasi, dia tidak melihat adanya figur seperti Paul Volcker di dalam komite yang bersedia mengambil langkah ekstrem untuk benar-benar menekan inflasi.
Menurutnya, kondisi tersebut justru dapat kembali meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven.





