KPK Sita Aset Ketum Pemuda Pancasila Terkait Gratifikasi

liputan6.com
5 jam lalu
Cover Berita

 

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah aset milik Ketua Umum Majelis Pimpinan Nasional Pemuda Pancasila Japto Soerjosoemarno disita KPK. Penyitaan itu terkait dugaan gratifikasi dari tersangka korupsi batu bara di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Advertisement

"Ada dugaan demikian bahwa aset-aset dalam penguasaan JPT (Japto) yang kemudian dilakukan penyitaan terkait dengan dugaan penerimaan gratifikasi dari para tersangka," ujar Juru Bicara KPK Budi Prasetyo di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Lebih lanjut, Budi mengonfirmasi sejumlah aset tersebut meliputi beberapa kendaraan yang telah disita KPK.

"Benar, di antaranya itu, kendaraan-kendaraan yang dalam penguasaan saudara JPT," katanya.

Sementara itu, dia menjelaskan Japto diperiksa KPK sebagai saksi pada Selasa untuk kebutuhan pengelompokan aset-aset yang telah disita sebelumnya.

"Tentu ini juga dibutuhkan untuk mengklaster aset-aset itu diduga berkaitan dengan tersangka siapa saja, karena KPK mengembangkan perkara ini dengan penetapan tiga tersangka korporasi yang baru, sehingga nanti akan lebih clear, lebih jelas aset-aset itu berkaitan untuk tersangka yang mana," jelasnya.

Kasus tersebut bermula ketika KPK menetapkan Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari, Direktur Utama PT Sawit Golden Prima Hery Susanto Gun, dan Komisaris PT Media Bangun Bersama Khairudin sebagai tersangka dugaan gratifikasi pada 28 September 2017.

Dalam perkara itu, Rita diduga menerima gratifikasi terkait pemberian izin lokasi perkebunan kelapa sawit kepada PT Sawit Golden Prima di Desa Kupang Baru, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara.

KPK kemudian mengembangkan perkara tersebut dan pada 16 Januari 2018 menetapkan Rita serta Khairudin sebagai tersangka kasus dugaan tindak pidana pencucian uang.

Selama proses penyidikan, KPK menyita berbagai aset yang diduga terkait dengan perkara tersebut, antara lain 91 unit kendaraan, sejumlah barang bernilai ekonomis, lima bidang tanah dengan luas total ribuan meter persegi, serta 30 jam tangan mewah dari berbagai merek. Penyitaan itu diumumkan KPK pada 6 Juni 2024.

Selanjutnya, pada 19 Februari 2025, KPK mengungkap dugaan penerimaan aliran dana oleh Rita dari sektor pertambangan batu bara dengan nilai sekitar 5 dolar AS per metrik ton batu bara.

Perkembangan terbaru, pada 19 Februari 2026, KPK menetapkan tiga korporasi sebagai tersangka dalam kasus dugaan gratifikasi terkait produksi batu bara di Kutai Kartanegara, yakni PT Sinar Kumala Naga, PT Alamjaya Barapratama, dan PT Bara Kumala Sakti.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo: Tidak Boleh Ada yang Kebal Hukum!
• 2 jam laluviva.co.id
thumb
KPK Kembali Periksa Japto Soerjosoemarno terkait Gratifikasi Batu Bara Kukar
• 23 jam lalujpnn.com
thumb
Di HUT ke-80 Bhayangkara, Prabowo Berikan Penghargaan Setinggi-tinggi untuk Seluruh Anggota Polri
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
Normalisasi Kali Angke Bogor, 118 Bangunan Liar Dibongkar
• 23 jam laludetik.com
thumb
Wardatina Mawa Ungkap Alasan Akan Pakai Baju Putih Saat Sidang Putusan Cerai dengan Insanul Fahmi
• 23 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.