Transformasi digital di Indonesia terus menunjukkan kemajuan. Temuan terbaru East Ventures – Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2026 memperlihatkan perubahan yang lebih menarik. Daerah-daerah di luar Pulau Jawa, mulai mempercepat laju digitalisasi dan mengejar ketertinggalan yang selama ini terjadi.
Laporan yang disusun East Ventures bersama Katadata Insight Center tersebut menunjukkan skor median daya saing digital nasional naik menjadi 42,2 pada 2026, dibandingkan 38,8 pada tahun lalu.
Angka tersebut mencerminkan sebanyak 37 dari 38 provinsi mengalami peningkatan skor, sementara 47 dari 50 indikator yang digunakan dalam pengukuran juga membaik.
EV-DCI merupakan indeks yang memetakan daya saing atau kesiapan digital di 38 provinsi dan 157 kabupaten/kota di Indonesia melalui tiga subindeks utama, yakni Input, Output, dan Penunjang.
Kendati kemajuan terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia, dominasi Pulau Jawa masih terlihat kuat dengan mengisi Top 5 ranking tertinggi. DKI Jakarta kembali menempati posisi pertama dengan skor 79,6, diikuti Jawa Barat di peringkat kedua dengan skor 63,9 dan Jawa Timur di peringkat ketiga dengan skor 58,0.
Adapun peringkat keempat ditempati oleh Banten dengan skor 57,4 dan kelima D.I. Yogyakarta dengan skor 55,9. Keunggulan Jawa juga tercermin dari kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) digital yang masih jauh melampaui kawasan lain, meski kesenjangan mulai menyempit.
Daerah Luar Jawa Cetak Lompatan BesarPapua Barat Daya menjadi provinsi dengan peningkatan paling signifikan. Skornya naik 8,8 poin sehingga melesat dari peringkat ke-33 menjadi ke-18. Peningkatan tersebut didorong oleh perluasan infrastruktur digital dan tumbuhnya aktivitas ekonomi digital.
Kemajuan serupa juga terlihat di Kalimantan Timur. Provinsi ini naik dua peringkat hingga menembus ranking 6 nasional berkat perluasan akses internet desa yang mendorong layanan publik dan aktivitas ekonomi digital.
Selain itu, Sulawesi Selatan juga kembali masuk kelompok 10 besar setelah beberapa tahun berada di luar jajaran provinsi dengan daya saing digital tertinggi.
Peningkatan daerah-daerah tersebut umumnya didukung oleh kombinasi pembangunan infrastruktur digital, pertumbuhan aktivitas ekonomi digital, serta digitalisasi layanan pemerintah.
Jawa Timur dan Jawa Tengah juga mampu mempertahankan posisi papan atas berkat konsistensi pembangunan digital.
Walaupun mayoritas daerah mengalami peningkatan skor, tidak semua provinsi berhasil mencatat perbaikan posisi dalam pemeringkatan.
Papua tercatat merosot sebelas peringkat menjadi posisi ke-31, sedangkan Sulawesi Tenggara turun delapan tingkat ke posisi 26.
Menariknya, penurunan tersebut bukan karena skor keduanya memburuk. Skor kedua provinsi tersebut tetap meningkat, tetapi laju peningkatannya lebih lambat dibandingkan provinsi lain. Hal ini menunjukkan persaingan antardaerah semakin ketat.
7 Tahun EV-DCI: Dari Kesenjangan Hingga ProduktivitasPerjalanan tujuh tahun EV-DCI memperlihatkan perubahan arah transformasi digital Indonesia yang cukup signifikan.
Ketika indeks ini pertama kali diluncurkan pada 2020, skor median nasional masih berada di level 27,6. Pada 2026, angka tersebut telah meningkat menjadi 42,2 atau tumbuh lebih dari 50 persen.
Ketika masa awal, fokus pembangunan digital Indonesia masih berkutat pada persoalan kesenjangan akses internet dan pembangunan infrastruktur telekomunikasi.
Kini, transformasi digital memasuki fase yang berbeda. Tantangan utama bukan lagi terletak pada menyediakan akses internet, namun juga memastikan pemanfaatan teknologi digital untuk mendorong produktivitas ekonomi, memperluas layanan publik, dan memperkuat inklusi keuangan.
Oleh sebab itu, digitalisasi saat ini tidak lagi dipandang sebagai sektor pendukung pembangunan saja. EV-DCI 2026 menunjukkan bahwa kesiapan digital telah menjadi salah satu fondasi utama dalam menentukan daya saing dan potensi pertumbuhan ekonomi yang merata di Indonesia.
Laporan lengkap EV-DCI 2026 dapat diunduh melalui tautan east.vc/DCI




