Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas diproyeksikan masih berada dalam tekanan pada perdagangan Rabu (1/7/2026) seiring belum meredanya dominasi aksi jual.
Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit menilai struktur teknikal harga emas masih mencerminkan tren bearish setelah upaya penguatan kembali tertahan di kisaran resistance US$4.025-US$4.063 per troy ounce. Penolakan di area tersebut menunjukkan tekanan jual masih lebih dominan dibandingkan minat beli.
Menurutnya, pola pergerakan harga juga masih membentuk lower high, yang mengindikasikan tren penurunan belum berakhir karena setiap reli belum mampu melampaui puncak sebelumnya.
"Selama harga masih berada di bawah area resistance utama, peluang bearish masih menjadi skenario yang lebih dominan. Pelaku pasar perlu memperhatikan area support sebagai target pergerakan selanjutnya," ujar Geraldo dalam risetnya, dikutip Rabu (1/7/2026).
Dengan struktur tersebut, Dupoin Futures memproyeksikan harga emas berpotensi menguji area support di US$3.942 per troy ounce. Apabila level tersebut ditembus, ruang pelemahan diperkirakan berlanjut menuju US$3.868 per troy ounce.
Sinyal pelemahan juga diperkuat indikator teknikal. Indikator stochastic mulai bergerak turun menuju area oversold, yang mencerminkan momentum bearish kembali menguat setelah fase konsolidasi.
Baca Juga
- Harga Minyak Mendingin, Saatnya Emas dan Perak Berkilau Lagi?
- Dolar AS Menguat, HPE Emas RI Turun 5,36% pada Awal Juli 2026
- Tabel Harga Buyback Emas Antam Hari Ini Rabu 1 Juli 2026 & Nilai Pajaknya
Selain itu, harga masih bergerak di bawah Moving Average (MA) 21 dan MA 34. Kedua indikator tersebut masih berfungsi sebagai resistance dinamis yang membatasi ruang kenaikan harga.
Dari sisi fundamental, penguatan dolar Amerika Serikat masih menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan logam mulia. Ekspektasi bahwa Federal Reserve mempertahankan kebijakan moneter ketat membuat dolar tetap kuat sehingga mengurangi daya tarik emas.
Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang masih bertahan di level tinggi juga membatasi ruang penguatan emas. Kenaikan yield mendorong investor mengalihkan dana ke instrumen pendapatan tetap yang menawarkan imbal hasil lebih kompetitif dibandingkan emas yang tidak memberikan bunga.
Selain itu, pasar masih menantikan rangkaian data ekonomi Amerika Serikat, mulai dari inflasi, pasar tenaga kerja hingga aktivitas bisnis. Data yang tetap solid berpotensi memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama sehingga tekanan terhadap emas diperkirakan berlanjut.
Meski demikian, Geraldo mengingatkan pelaku pasar tetap mencermati perkembangan global yang sewaktu-waktu dapat mengubah arah pergerakan harga, termasuk meningkatnya ketidakpastian geopolitik, perlambatan ekonomi dunia maupun perubahan sikap bank sentral yang berpotensi kembali mendorong permintaan aset safe haven.
Untuk perdagangan hari ini, Dupoin Futures masih mempertahankan proyeksi pelemahan sebagai skenario utama. Selama harga belum mampu menembus resistance US$4.025-US$4.063 per troy ounce, emas diperkirakan bergerak menuju support US$3.942 per troy ounce dengan potensi pelemahan lanjutan ke US$3.868 per troy ounce apabila tekanan jual tetap mendominasi pasar.





