Bisnis.com, JAKARTA — Koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 34,74% sepanjang semester I/2026 dinilai dipicu kombinasi empat faktor utama, mulai dari meningkatnya risiko fiskal, ketidakpastian kebijakan pemerintah, outlook negatif utang Indonesia, hingga keputusan MSCI yang mengeluarkan sejumlah saham berkapitalisasi besar dari indeks acuannya.
IHSG menutup perdagangan semester I/2026 di level 5.643,19 atau merosot 34,74% secara year-to-date (YTD) hingga 30 Juni 2026. Pada periode yang sama, investor asing membukukan jual bersih (net sell) sebesar Rp73,61 triliun, mencerminkan derasnya arus keluar modal dari pasar saham domestik.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan mengatakan koreksi tajam IHSG dipicu kombinasi empat faktor yang meningkatkan risk premium Indonesia di mata investor global.
Menurutnya, faktor pertama ialah meningkatnya risiko fiskal akibat lonjakan harga minyak dunia yang dipicu konflik Amerika Serikat dan Iran. Sebagai negara pengimpor minyak bersih (net importer), Indonesia dinilai rentan terhadap kenaikan harga energi.
Faktor kedua ialah menurunnya kepastian kebijakan pemerintah, termasuk perubahan kebijakan royalti pertambangan yang berulang serta munculnya wacana ekspor satu pintu.
Faktor ketiga berasal dari outlook negatif terhadap utang pemerintah oleh lembaga pemeringkat global Moody's dan Fitch Ratings yang memperburuk persepsi investor terhadap aset domestik.
Baca Juga
- Daftar 10 Saham Penopang dan Penekan IHSG Semester I/2026
- Rapor Kinerja Saham Sektoral Semester I/2026: Energi & Properti Paling Boncos
- Prospek IHSG Semester II: Sekuritas Revisi Target Indeks hingga Akhir 2026
Sementara itu, faktor keempat datang dari keputusan MSCI yang mengeluarkan enam saham berkapitalisasi besar Indonesia dari indeks acuannya.
"Arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia yang mencapai Rp73 triliun sepanjang tahun ini mencerminkan proses pengurangan risiko (de-risking) oleh investor asing," ujar Erindra.
Senada, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai pelemahan IHSG lebih dipengaruhi persoalan domestik dibandingkan sentimen global.
Menurutnya, ketika pasar saham Indonesia terkoreksi tajam, sejumlah bursa di kawasan Asia justru mampu bertahan bahkan menguat di tengah ketidakpastian geopolitik.
"Pasar modal Indonesia sedang dihukum investor global bukan karena ekonominya tidak tumbuh, melainkan karena masalah transparansi kepemilikan saham (free float) yang disorot MSCI serta kekhawatiran atas disiplin anggaran fiskal," kata Nafan.
Koreksi IHSG juga lebih dalam dibandingkan sejumlah indeks utama di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sepanjang semester I/2026, indeks LQ45 turun 34,67%, IDX30 melemah 28,12%, sedangkan IDX80 terkoreksi 37,54%.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





