Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat hanya ekspor crude palm oil (CPO) dan turunannya yang mampu mencatatkan pertumbuhan hingga Mei 2026, sementara ekspor batu bara serta besi baja masih mengalami penurunan, baik dari sisi nilai maupun volume.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, ketiga komoditas unggulan memberikan andil terhadap total nilai ekspor 27,92% terhadap total ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari—Mei 2026.
“Yang pertama, nilai ekspor besi dan baja, turun 1,61% secara kumulatifnya. Yang kedua, nilai ekspor CPO dan turunannya, ini naik secara ctc 7,71% atau secara kumulatifnya. Yang ketiga, yaitu nilai ekspor batu bara, turun 4,95% secara kumulatifnya,” kata Ateng dalam Rilis Berita Resmi Statistik BPS, Rabu (1/7/2026).
Secara terperinci, nilai ekspor besi dan baja sepanjang Januari—Mei 2026 mencapai US$11,42 miliar atau turun 1,61% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$11,61 miliar. Penurunan tersebut sejalan dengan volume ekspor yang menyusut 5,58% secara tahunan menjadi 8,89 juta ton dari sebelumnya 9,42 juta ton.
Namun demikian, komoditas besi dan baja masih menjadi penyumbang terbesar dengan pangsa 10,37% terhadap total ekspor nonmigas nasional.
Sementara itu, ekspor batu bara juga masih menunjukkan tren pelemahan. Nilai ekspor komoditas tersebut turun 4,95% menjadi US$9,75 miliar dibandingkan Januari—Mei 2025 yang mencapai US$10,26 miliar.
Volume ekspor batu bara juga terkoreksi lebih dalam, yakni 8,19% secara tahunan menjadi 143,56 juta ton dari sebelumnya 156,37 juta ton. Meski begitu, batu bara masih menjadi salah satu penyumbang utama ekspor nonmigas dengan pangsa sebesar 8,85%.
Di tengah pelemahan ekspor sejumlah komoditas unggulan, CPO dan turunannya menjadi satu-satunya yang mencatatkan pertumbuhan positif. Nilai ekspor komoditas tersebut naik 7,71% secara tahunan menjadi US$9,59 miliar dari US$8,90 miliar pada Januari—Mei 2025.
Peningkatan nilai ekspor itu ditopang oleh kenaikan volume pengiriman sebesar 7,41% menjadi 8,92 juta ton dari 8,30 juta ton pada periode yang sama tahun lalu. Adapun, kontribusi CPO dan turunannya terhadap total ekspor nonmigas mencapai 8,70%.





