Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit perdagangan Indonesia dengan China periode Januari-Mei 2026 mencapai USD 10,17 miliar.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Ateng Hartono, menyatakan secara keseluruhan kinerja neraca perdagangan barang Indonesia pada Mei 2026 mencatatkan defisit USD 1,61 miliar.
“Sedangkan negara penyumbang defisit terdalam yang pertama China, defisit atau minus USD 10,17 miliar,” kata Ateng dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta Pusat, Rabu (1/7).
Selain China, Australia dan Singapura juga menjadi penyumbang defisit perdagangan terbesar Indonesia. Secara total, defisit perdagangan Indonesia dengan Australia mencapai USD 3,99 miliar, sedangkan dengan Singapura mencapai USD 3,83 miliar.
China Masih Jadi Tujuan Utama Ekspor-Impor
China masih menjadi tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia selama periode Januari-Mei 2026 dengan pangsa mencapai 25,90 persen, disusul kawasan ASEAN sebesar 20,08 persen, Amerika Serikat 11,56 persen, India 6,74 persen, dan Uni Eropa 7,25 persen.
Sementara itu, pangsa ekspor ke negara dan kawasan lainnya mencapai 28,47 persen.
“Nilai ekspor non-migas seperti Tiongkok tercapai sebesar USD 28,54 triliun, terutama didominasi oleh besi dan baja atau HS72 dengan share-nya 26,02 persen dan besi dan baja tersebut di Tiongkok turun sebesar 2,97 persen secara situasional,” sebut Ateng.
Adapun ekspor nonmigas ke Amerika Serikat (AS) mencapai USD 12,73 miliar, dengan komoditas utama berupa mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya, alas kaki, serta pakaian dan aksesoris.
Sementara itu, ekspor nonmigas ke India sebesar USD 7,43 miliar, terutama berasal dari bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewani/nabati, serta mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya.
Kemudian sepanjang Januari-Mei 2026, Ateng juga mencatat China masih menjadi negara asal utama impor nonmigas Indonesia pada Januari–Mei 2026 dengan pangsa 41,83 persen.
Selanjutnya diikuti ASEAN sebesar 14,88 persen, Uni Eropa 6,59 persen, Jepang 5,51 persen, Australia 5,35 persen, dan negara serta kawasan lainnya sebesar 25,84 persen.
Nilai impor nonmigas dari China pun mencapai USD 39,27 miliar. Impor dari China didominasi oleh mesin dan peralatan mekanis atau HS84 yang memiliki pangsa 22,24 persen terhadap total impor dari negara tersebut.
“Impor migas, senilai USD 20,30 miliar, mengalami peningkatan secara tahunannya sebesar 14,89 persen,” lanjut Ateng.
Sementara impor nonmigas dari Jepang sebesar USD 5,17 miliar, terutama berupa mesin/peralatan mekanis dan bagiannya, besi dan baja, serta kendaraan dan bagiannya. Adapun impor nonmigas dari Australia tercatat sebesar USD 5,02 miliar, dengan komoditas utama berupa logam mulia dan perhiasan/permata, serealia, serta bahan bakar mineral.





