Bencana Berulang Akibat Alam Rusak, YSSC Serukan Kolaborasi Nasional Kurangi Emisi Karbon

viva.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

Medan, VIVA – Yayasan Sihatihat Sanjaya Center (YSSC) menegaskan komitmennya dalam mendukung pemulihan lingkungan melalui gerakan penghijauan. Hal itu, sebagai langkah nyata mengurangi emisi karbon sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim. 

Ketua Yayasan Sihatihat Sanjaya Center, Hari S. Siregar, mengatakan bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, khususnya Kabupaten Tapanuli Utara, menjadi pengingat bahwa kerusakan lingkungan telah meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi yang semakin sering terjadi. Menurutnya, berkurangnya tutupan hutan, alih fungsi lahan yang tidak terkendali, serta perubahan iklim harus dijawab dengan aksi nyata melalui rehabilitasi lingkungan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. 

Baca Juga :
Bupati dan Wali Kota di Jabar Diminta Hentikan Pembangunan Wisata dan Perumahan di Hutan dan Perkebunan
Satgas PKH Diminta Tegas Tindak Kasus Hutan Disulap Jadi Kebun Sawit Ribuan Hektare di Riau

"Menjaga keseimbangan alam bukan lagi sekadar pilihan, tetapi tanggung jawab kita bersama. Penanaman pohon merupakan langkah sederhana yang memberikan dampak besar bagi keberlangsungan lingkungan dan keselamatan masyarakat di masa depan," ujar Hari kepada wartawan, Rabu 1 Juli 2026. 

Melalui gerakan Spirit Green, YSSC mengajak pemerintah, dunia usaha, akademisi, organisasi kemasyarakatan, komunitas, serta generasi muda untuk bersama-sama melakukan penanaman pohon di berbagai wilayah yang membutuhkan rehabilitasi lingkungan. 

Hari menjelaskan, penanaman pohon tidak hanya bertujuan menghijaukan kembali kawasan yang mengalami degradasi juga meningkatkan daya serap tanah terhadap air, mengurangi potensi banjir, mencegah erosi, menjaga sumber mata air, serta melindungi keanekaragaman hayati. 

Selain manfaat ekologis tersebut, pohon juga berperan sebagai penyerap karbon dioksida (CO₂) yang efektif sehingga mampu membantu menekan laju pemanasan global. 

"Setiap pohon yang kita tanam adalah investasi bagi masa depan. Semakin luas ruang hijau yang kita bangun, semakin besar pula kontribusi Indonesia dalam mengurangi emisi karbon dan menghadapi perubahan iklim global," tegasnya. 

Hari menilai penyelesaian persoalan lingkungan tidak dapat dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, sektor swasta, akademisi, hingga organisasi masyarakat agar gerakan penghijauan menjadi program berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial. 

"Kami ingin gerakan menanam pohon menjadi budaya bersama. Lingkungan yang sehat hanya dapat terwujud apabila seluruh pihak memiliki komitmen yang sama untuk merawat dan melestarikannya," katanya. 

Baca Juga :
Kebakaran Hutan di Jepang Meluas, 3.000 Orang Dievakuasi
Eksekusi Arahan Prabowo, Bahlil Segera Sikat Tambang di Hutan Lindung
8 Penumpang Helikopter yang Jatuh di Hutan Kalbar Tewas, Evakuasi Dramatis dari Puncak Bukit

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Waspada! Influencer Daerah Jadi Target Baru, Komdigi Bongkar Modus Terbaru Spam Judi Online di Media Sosial
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Berlaku 1 Juli 2026, Ini Aturan Baru yang Wajib Diketahui dari Pajak hingga B50
• 1 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
AC Milan Harus Berterima Kasih kepada Allegri, Eks Allenatore Sepakat Tak Mau Bikin Kantong Rossoneri Jebol Usai Hengkang ke Napoli
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
Pernah Alami Daddy Issues, Marshanda Bersyukur Sienna Dapat Cinta Utuh dari Ben Kasyafani
• 10 jam lalugrid.id
thumb
5 Rekomendasi Film Rio Dewanto yang Wajib Ditonton, Dari Filosofi Kopi hingga Sewu Dino
• 23 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.