Jepang Kenalkan Sake sebagai Warisan Budaya Kuliner kepada Komunitas ASEAN

metrotvnews.com
6 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Misi Diplomatik Jepang untuk ASEAN menegaskan bahwa sake bukan sekadar minuman tradisional, melainkan bagian tak terpisahkan dari budaya kuliner Jepang yang telah diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi fermentasi.

Hal itu disampaikan Kuasa Usaha Ad Interim Misi Jepang untuk ASEAN Chujo Kazuo dalam resepsi kuliner dan budaya Jepang bertajuk The Sake New Year di Jakarta, Rabu, 1 Juli 2026.

Chujo mengatakan proses fermentasi menjadi salah satu unsur penting yang membentuk cita rasa khas kuliner Jepang, termasuk sake, melalui rasa gurih alami atau umami.

"Sake merupakan bagian integral dari budaya kuliner Jepang," katanya.

Menurut Chujo, rahasia di balik kuliner Jepang tidak hanya terletak pada bahan bakunya, tetapi juga pada proses fermentasi yang menghasilkan cita rasa umami. 

Di Jepang, produk seperti sake, kecap asin (shoyu), dan pasta kedelai (miso) dibuat menggunakan mikroorganisme yang sama, yakni koji. Kesamaan Tradisi dengan ASEAN
Chujo mengatakan budaya fermentasi juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Asia Tenggara. 

Ia mencontohkan sejumlah makanan hasil fermentasi yang telah lama dikenal di kawasan, seperti tempe, belacan, nam pla, hingga nuoc mam.

Menurutnya, kesamaan tersebut menunjukkan bahwa Jepang dan negara-negara ASEAN memiliki warisan kuliner yang sama-sama berkembang dari tradisi fermentasi, meski menghasilkan produk yang berbeda.

"Bahkan jika sebagian dari Anda tidak mengonsumsi alkohol, Anda tetap dapat merasakan cita rasa umami hasil fermentasi melalui berbagai macam hidangan Jepang," ujarnya. Kuliner Jadi Jendela Memahami Budaya
Dalam kesempatan tersebut, Chujo juga menyinggung pengakuan dunia terhadap budaya kuliner sebagai warisan yang perlu dilestarikan.

Ia mengatakan UNESCO telah menetapkan washoku atau kuliner tradisional Jepang sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2013, disusul tradisi pembuatan sake pada 2024. 

Menurutnya, sejumlah tradisi kuliner dari Asia Tenggara, seperti budaya hawker Singapura, budaya tom yum Thailand, serta budaya sarapan Malaysia, juga telah masuk atau tengah diproses dalam daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO.

Bagi Chujo, berbagai pengakuan tersebut menunjukkan bahwa makanan dan minuman bukan sekadar dinikmati, tetapi juga menjadi medium untuk memahami identitas dan nilai-nilai budaya suatu masyarakat.

"Pengakuan-pengakuan ini mengingatkan kita bahwa makanan dan minuman bukan hanya tentang kenikmatan. Keduanya merupakan jendela untuk memahami budaya suatu kawasan," katanya.

Resepsi The Sake New Year yang digelar Misi Diplomatik Jepang untuk ASEAN turut menghadirkan hidangan khas Jepang, demonstrasi budaya sake, serta perwakilan industri sake sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya kuliner Jepang kepada masyarakat dan komunitas diplomatik di kawasan ASEAN.

Baca juga:  Matcha Jadi Sorotan di Program Diplomasi Kuliner Jepang-ASEAN 2025


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sukses di Jakarta, Yovie & Nuno Siap Bawa Konser 25 Tahun ke Bandung-Surabaya
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
AKRA Tunjuk Hyundai Industries Bangun Kapal FSRU LNG Senilai Rp5,75 Triliun
• 5 jam laluidxchannel.com
thumb
Kecelakaan di Salatiga, Mahasiswi Berboncengan Motor Ditabrak Truk Tronton
• 6 jam lalurctiplus.com
thumb
DJP Tunjuk 4 Marketplace Jadi Pemungut Pajak, Berlaku Efektif Mulai 1 Agustus
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Nadiem Divonis 10 Tahun Bui, Pakar: Negara Hukum Tidak Mengenal Kekebalan Jabatan
• 23 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.