Liburan Berkualitas di Museum Nasional

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Museum Nasional sebagai tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan dan pemanfaatan benda-benda hasil budaya manusia telah menjadi institusi penting dalam pelestarian dan pemberian wawasan kebudayaan nusantara. Museum ini menjadi panggung koleksi arkeologi, sejarah, etnografi, dan geografi yang berada di bawah naungan Museum dan Cagar Budaya, Kementerian Kebudayaan RI. Sejak didirikan pada 1.778, Museum tersebut kemudian berkembang menjadi museum terbesar di Indonesia.

Dengan empat bangunan utama dan koleksi yang mencapai lebih dari 190.000 benda budaya, museum ini menyajikan keragaman budaya Indonesia mulai dari masa prasejarah hingga kini.

Suasana Museum Nasional pada siang itu, Rabu (2/7/2026) relatif ramai saat memasuki masa liburan sekolah. Museum ini telah menjadi salah satu destinasi favorit bagi masyarakat. Selain penyajiannya yang kini lebih modern dan menarik, antusiasme ini juga didorong Unit Museum Cagar Budaya yang baru saja meluncurkan program Museum Passport.

Ruang Anak adalah salah satu pilihan bagi orangtua yang ingin mengajak anaknya mengisi waktu dengan kegiatan seperti mewarnai, melukis, bermain permainan tradisional dan membaca buku-buku. Riki (30) yang datang dari Cikarang, Kabupaten Bekasi, tengah menemani anak-anak menggambar bersama istrinya di sebuah meja kecil di ruangan.

Ruang Anak menjadi tujuan akhir penelusurannya bersama keluarga yang baru pertama kali mengunjungi Museum Nasional ini. “Sangat bermanfaat menambah wawasan, terutama buat anak-anak sekolah bisa lebih tau tentang sejarah,” ujarnya setelah berkeliling di seluruh bagian museum.

Museum ini juga dikenal sebagai Museum Gajah karena, dihadiahkannya patung gajah berbahan perunggu oleh Raja Culalongkorndari Thailand pada tahun 1871 yang kemudian dipasang di halaman depan museum. Gedung yang berada di depannya sering juga disebut gadung gajah. Kadang kala disebut juga “Gedung Arca” karena di dalam gedung memang banyak tersimpan berbagai jenis dan bentuk arca dan prasasti yang berasal dari berbagai periode.

Sementara itu di salah satu bagian utama museum di lokasi pameran tetap “Sejarah Awal” yang bertempat di Ruang Kertarajasa, Gedung A, pengunjung menikmati suasana masa prasejarah. Di bagian ini, mereka dapat menelusuri perjalanan panjang Nusantara sejak terbentuknya kepulauan akibat dinamika geologi purba, kemunculan dan perkembangan kehidupan awal, hingga hadirnya manusia dan kebudayaan awal sebelum tradisi tulis. Hewan-hewan prasejarah ditampilkan dalam monitor multimedia besar dalam ukuran sesungguhnya di sekeliling dinding ruangan Anak-anak pun takjub dan bersemangat menyambut “kehadiran” hewan-hewan itu.

Salah satu sorotan utama dalam pameran ini adalah kehadiran fosil Homo erectus (manusia Jawa) temuan Eugene Dubois yang telah kembali ke Indonesia setelah melalui proses repatriasi dari Museum Naturalis di Leiden. Fosil ini tidak hanya memiliki nilai penting dalam sejarah ilmu pengetahuan dunia, tetapi juga merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang Nusantara.

Sudut lain selain unsur sejarah, pengunjung juga menelusuri aneka jenis tanaman hortikultura dan rempah-rempah yang ditampilkan dalam pameran Kenduri Budaya Pangan Lokal Nusantara. Sudut ini mengangkat kearifan lokal dan keberagaman pangan tradisional Indonesia. Mereka antusias mengenali aneka bentuk dan mencium aroma bumbu rempah khas nusantara.

Pengunjung menelusuri berbagai sudut di Museum Nasional, Jakarta.

 

Kompas/Riza Fathoni

Anak-anak mencium aroma contoh rempah

 

Kompas/Riza Fathoni

Aneka bejana

 

Kompas/Riza Fathoni

Koleksi artefak

 

Kompas/Riza Fathoni

Salah satu spot favorit yang ada di museum ini adalah Imersifa yang memberikan pengalaman realis dan mendalam. Ruangan dengan ukuran 12 x 21 meter Imersifa menayangkan pertunjukan video mapping berdurasi 30 menit yang diproyeksi dengan sudut 360°, termasuk lantai. Pengunjung diajak berpetualang dan merasakan sensasi seolah-olah ada di dalam video.

Dinding yang mengelilingi dan lantai yang dipijak menjadi layar yang memutar pertunjukan. Konten Imersifa menampilkan sejarah Indonesia dalam konsep alam, masyarakat, sejarah dan budaya dari masa ke masa. Pengunjung tinggal duduk dan menikmati tayangan bernuansa tiga dimensi. “Imersifa ini bagus banget, 3D-nya bagus. Anak-anak pada seneng,” tutur Rangga (42), pengunjung dari Bekasi yang mengajak keluarganya berlibur.

Pada hari itu, Museum Nasional mencatat jumlah pengunjung harian sebanyak 2.900 orang. Usia pengunjung pelajar mencakup sekitar 40 persen dari keseluruhan. Angka ini memang masih belum setinggi liburan akhir tahun yang mencetak angka rekor lebih dari 13.000 pengunjung dalam sehari pada libur Natal dan Tahun Baru 2025. Akan tetapi tren peningkatan selama liburan sekolah diperkirakan akan terus berlangsung selama periode ini. Hal ini seiring kesadaran masyarakat akan pentingnya literasi dan edukasi dengan berwisata ke museum yang memberikan pengelaman berhaga bagi anak-anak.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Seskab Teddy Ungkap Magang Nasional Rangkul Difabel, Pengamat: Terobosan Progresif
• 18 jam lalujpnn.com
thumb
Kenapa Megawati Hangestri Belum Juga Gabung Hyundai Hillstate? Ternyata Ini Alasannya
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Euforia Lolos ke 16 Besar Berujung Tragedi, 4 Suporter Tewas Saat Meksiko Rayakan Kemenangan Piala Dunia 2026
• 6 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Resmi! Jorge Martin dan Ai Ogura Gabung Pabrikan Yamaha di MotoGP 2027
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Seluruh Jemaah Haji RI Telah Kembali ke Tanah Air, Segera Evaluasi Total
• 19 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.