Bukan Lagi Pengolahan, CATL Sebut Tambang Jadi Penentu Industri Baterai Dunia

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Produsen baterai kendaraan listrik terbesar di dunia asal China, Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL), mulai mengalihkan fokus dari pengolahan mineral ke sektor pertambangan demi mengamankan pasokan bahan baku. Langkah tersebut diambil di tengah lonjakan harga lithium dan meningkatnya ketidakpastian rantai pasok global yang dinilai menjadi tantangan utama industri baterai.

Wakil Presiden CATL, Jiang Li, mengatakan tantangan terbesar dalam industri baterai saat ini bukan lagi berada pada kapasitas pengolahan mineral, melainkan pada ketersediaan bahan baku dari sektor pertambangan. Menurut dia, penguasaan aset di sektor hulu menjadi kunci untuk menjaga efisiensi biaya sekaligus menjamin keberlangsungan pasokan.

"Pengolahan bukan lagi menjadi hambatan utama, melainkan pertambangan. Kami ingin membangun keunggulan biaya melalui kemampuan yang kami miliki di sektor hulu," kata Jiang dalam wawancara, dikutip dari Bloomberg, Kamis (2/7).

Pernyataan tersebut mencerminkan perubahan strategi CATL di tengah dinamika industri baterai global. Selama ini China dikenal mendominasi kapasitas pemurnian dan pengolahan mineral baterai dunia. Namun, negara itu masih bergantung pada impor berbagai jenis bijih mineral sebagai bahan baku, sehingga pasokan tetap rentan terhadap gangguan dan gejolak harga.

Jiang mengatakan inovasi teknologi memang dapat membantu mengatasi keterbatasan pasokan logam dalam jangka menengah hingga panjang. Namun, perubahan pasar yang berlangsung sangat cepat membuat perusahaan tidak selalu memiliki cukup waktu untuk mengandalkan solusi teknologi semata.

"Inovasi teknologi dapat membantu kami mengatasi kelangkaan logam dalam jangka menengah hingga panjang. Namun, terkadang kami tidak punya cukup waktu. Pasar bisa berubah dengan sangat cepat sehingga kami harus menghadapi tantangan itu. Karena itu, pertambangan menjadi sangat penting," ujarnya.

Untuk memperkuat rantai pasok, CATL berencana membentuk unit bisnis pertambangan baru. Perusahaan juga menunjuk pendiri perusahaan tambang logam terbesar di China, Chen Jinghe, sebagai penasihat guna memperkuat strategi pengembangan sektor hulu.

Saat ini, portofolio investasi CATL mencakup proyek pertambangan lithium, fosfat, dan kobalt di dalam maupun luar negeri. Namun, salah satu tambang lithium utama milik perusahaan di Provinsi Jiangxi, China, mengalami gangguan operasional sejak Agustus tahun lalu. Kondisi tersebut turut berkontribusi terhadap tingginya volatilitas harga lithium di pasar.

Sebagai langkah antisipasi, CATL juga mempercepat pengembangan baterai berbasis natrium (sodium-ion), yang menggunakan unsur natrium sebagai bahan baku. Menurut Jiang, teknologi tersebut menjadi salah satu strategi mitigasi risiko apabila harga lithium kembali melonjak.

"Jika harga lithium naik, kami bisa memproduksi lebih banyak baterai sodium-ion," kata Jiang.

CATL menilai diversifikasi teknologi baterai dan penguatan kepemilikan aset pertambangan akan menjadi dua strategi utama perusahaan untuk menjaga daya saing di tengah meningkatnya kebutuhan baterai kendaraan listrik dan ketidakpastian pasokan mineral kritis di pasar global.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Link Live Streaming AS vs Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026, Kick-off Pukul 07.00 WIB
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
BNN Bongkar Pabrik Narkotika di Gresik, Amankan Lebih Dari Satu Ton Barang Bukti
• 3 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Kloter 19 Tiba, Seluruh Jamaah Haji Kalsel dan Kalteng Resmi Kembali ke Tanah Air
• 14 jam lalupantau.com
thumb
DPR Sepakati Asumsi Makro APBN 2027, Pertumbuhan Ekonomi Dipatok 5,8%-6,5%
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
KAI Logistik Catat Pertumbuhan Angkutan Reefer Lebih dari 30%, Perkuat Rantai Pasok Cold Chain Nasional
• 8 jam lalumediaapakabar.com
Berhasil disimpan.