Pangkalpinang (ANTARA) - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Republik Indonesia Abdul Mu’ti menyatakan para sarjana di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung harus berkualitas untuk menghadapi era disrupsi yang berkembang pesat.
"Di era disrupsi ini, semua harus berorientasi pada mutu. Kalau tidak bermutu, kita akan tertinggal," kata Abdul Mu’ti saat menghadiri Wisuda Ke-17 Universitas Muhammadiyah Babel di Pangkalpinang, Kamis.
Baca juga: Dirut ANTARA bekali Imigrasi strategi komunikasi di era disrupsi
Ia menegaskan dunia era disrupsi atau masa terjadinya inovasi dan perubahan besar-besaran secara fundamental yang mengubah sistem, tatanan dan cara hidup lama menjadi cara-cara baru dituntut inovasi serta kreativitas masyarakat, khususnya sarjana ini.
"Dengan inovasi dan kreativitas itulah kita dapat bertahan, bahkan menjadi pemimpin perubahan bangsa ini," katanya.
Menurut dia, sarjana bukan hanya mereka yang mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan, tetapi mereka yang mampu merancang perubahan itu sendiri. Ada sebuah buku berjudul The World in 2050 yang menjelaskan bahwa dunia ke depan akan ditandai dengan hilangnya ribuan jenis pekerjaan. Namun, pada saat yang sama akan muncul jauh lebih banyak pekerjaan baru.
"Mereka yang akan berhasil adalah mereka yang terus belajar, terus beradaptasi, serta mampu memanfaatkan setiap perubahan menjadi peluang," katanya.
Baca juga: Wamenekraf tekankan peran diaspora di era disrupsi digital
Baca juga: Urgensi mencetak tenaga akuntan profesional di era disrupsi teknologi
Ia menyatakan keberhasilan ini juga ditentukan oleh mindset, yaitu pola pikir untuk terus berkembang.
Selain itu, juga diperlukan mentalitas yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan di era disrupsi ini.
"Jangan bermental tempe, apalagi bermental kerupuk. Kerupuk ketika masih kering terdengar keras. Tetapi, begitu terkena air langsung melempem. Jangan menjadi pribadi seperti itu," katanya.
"Di era disrupsi ini, semua harus berorientasi pada mutu. Kalau tidak bermutu, kita akan tertinggal," kata Abdul Mu’ti saat menghadiri Wisuda Ke-17 Universitas Muhammadiyah Babel di Pangkalpinang, Kamis.
Baca juga: Dirut ANTARA bekali Imigrasi strategi komunikasi di era disrupsi
Ia menegaskan dunia era disrupsi atau masa terjadinya inovasi dan perubahan besar-besaran secara fundamental yang mengubah sistem, tatanan dan cara hidup lama menjadi cara-cara baru dituntut inovasi serta kreativitas masyarakat, khususnya sarjana ini.
"Dengan inovasi dan kreativitas itulah kita dapat bertahan, bahkan menjadi pemimpin perubahan bangsa ini," katanya.
Menurut dia, sarjana bukan hanya mereka yang mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan, tetapi mereka yang mampu merancang perubahan itu sendiri. Ada sebuah buku berjudul The World in 2050 yang menjelaskan bahwa dunia ke depan akan ditandai dengan hilangnya ribuan jenis pekerjaan. Namun, pada saat yang sama akan muncul jauh lebih banyak pekerjaan baru.
"Mereka yang akan berhasil adalah mereka yang terus belajar, terus beradaptasi, serta mampu memanfaatkan setiap perubahan menjadi peluang," katanya.
Baca juga: Wamenekraf tekankan peran diaspora di era disrupsi digital
Baca juga: Urgensi mencetak tenaga akuntan profesional di era disrupsi teknologi
Ia menyatakan keberhasilan ini juga ditentukan oleh mindset, yaitu pola pikir untuk terus berkembang.
Selain itu, juga diperlukan mentalitas yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan di era disrupsi ini.
"Jangan bermental tempe, apalagi bermental kerupuk. Kerupuk ketika masih kering terdengar keras. Tetapi, begitu terkena air langsung melempem. Jangan menjadi pribadi seperti itu," katanya.





