Surabaya (beritajatim.com) – Enam dekade setelah terakhir kali mengangkat trofi Piala Dunia, tim nasional Inggris kembali memupuk harapan untuk mengakhiri penantian panjang tersebut.
Di balik perjalanan The Three Lions menuju fase gugur Piala Dunia 2026, muncul satu tradisi baru yang menjadi simbol kebersamaan antara pemain dan suporter, yakni menyanyikan lagu “Wonderwall” milik band Oasis.
Tradisi tersebut kembali bergema setelah Inggris membalikkan keadaan untuk mengalahkan Republik Demokratik Kongo dengan skor 2-1 di Atlanta. Seusai peluit panjang dibunyikan, para pemain menghampiri tribun dan menyanyikan lagu legendaris yang dirilis pada 1995 itu bersama ribuan pendukung mereka.
Momen tersebut perlahan menjadi ciri khas perjalanan Inggris sepanjang turnamen. Setiap kemenangan selalu ditutup dengan nyanyian “Wonderwall”, menciptakan ikatan emosional yang semakin kuat antara tim dan para penggemarnya.
Kapten Inggris, Harry Kane, mengaku tradisi tersebut menjadi salah satu pengalaman paling berkesan sepanjang kariernya bersama tim nasional.
“Itu adalah salah satu momen favorit saya selama mengenakan seragam Inggris. Hubungan emosional dengan para suporter sangat luar biasa. Kami tahu betapa besarnya arti momen ini bagi mereka, dan kami juga merasakan hal yang sama,” ujar Kane dalam podcast resmi Timnas Inggris.
Rekaman FIFA juga memperlihatkan Kane memberikan pesan kepada rekan-rekannya seusai kemenangan atas Kongo. Setelah mengapresiasi perjuangan tim, penyerang berusia 32 tahun itu mengajak seluruh pemain mendekat ke tribun untuk merayakan kemenangan bersama suporter.
“Kemenangan seperti ini harus dirayakan. Rasanya luar biasa,” kata Kane.
Bek Inggris, Nico O’Reilly, mengaku antusias mengikuti tradisi tersebut. Menurutnya, kemenangan sekecil apa pun layak dirayakan bersama para pendukung.
“Tidak peduli siapa lawannya, kami harus merayakannya. Bernyanyi bersama para suporter memberi kami energi dan semangat tambahan,” ujar O’Reilly kepada FIFA.
Popularitas “Wonderwall” sebagai lagu yang identik dengan Timnas Inggris juga mendapat dukungan dari personel Oasis, Noel Gallagher. Dalam wawancara dengan The Sun, Noel menilai lagu ciptaannya kini telah menjadi milik para suporter.
“‘Wonderwall’ adalah milik semua orang, dan kini telah menjadi momen yang begitu magis antara para pemain dan suporter,” kata Noel.
Sementara itu, sang adik sekaligus vokalis Oasis, Liam Gallagher, turut menunjukkan dukungannya melalui pesan singkat seusai kemenangan Inggris atas Kongo DR. “Ayo Inggris, dan Wonderwall!” ujar Liam.
Lirik lagu “Wonderwall” sendiri berkisah tentang sosok yang menjadi penyelamat sekaligus sumber harapan ketika seseorang berada dalam situasi sulit. Tema tersebut dianggap selaras dengan perjalanan Timnas Inggris yang telah menunggu selama 60 tahun untuk kembali menjadi juara dunia.
Makna tersebut semakin terasa setelah Harry Kane kembali menjadi penentu kemenangan Inggris. Dua gol yang dicetaknya ke gawang Kongo membawa The Three Lions lolos ke babak 16 besar sekaligus mempertegas statusnya sebagai pencetak gol terbanyak Inggris sepanjang sejarah Piala Dunia dengan koleksi 13 gol.
Akun resmi media sosial Timnas Inggris bahkan mengunggah foto Kane disertai potongan lirik terkenal dari “Wonderwall”, yakni “Because maybe you’re gonna be the one that saves me”, sebagai bentuk penghormatan atas peran sang kapten. (faw/kun)




